
Setelah menyelesaikan sarapannya, Wira mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat lampu tidur. Ia menghubungi Fatih dan meminta untuk mengantarkan ke rumahnya berkas-berkas pekerjaan dari rumah sakit yang kemarin belum selesai di periksanya.
Dia juga menghubungi pihak rumah sakit untuk mengambil jatah cuti bulanannya, karena saat ini ia masih ingin berlama-lama berdekatan dengan istri kecilnya. Selesai dengan kegiatan di ponselnya ia melirik ke tengah tempat tidur, dilihatnya di atas sprei warna putih itu terdapat bercak darah yang cukup banyak.
Itu adalah darah kesucian milik Dara yang telah dipersembahkan kepadanya tadi malam. Wira tak henti-hentinya tersenyum sejak semalam hingga pagi ini saat mengingat bahwa dirinya lah yang telah merenggut sari madu si bunga indah penentram jiwa.
Anehnya, gangguan yang sering muncul saat melihat benda cair berwarna merah itu ternyata sama sekali tak datang kali ini. Wira tetap tenang saat melihatnya, apakah mungkin gangguan paniknya saat melihat darah telah hilang?
*****
Sepanjang perjalanan pulang, Wira mengemudi sambil terus menggenggam tangan Dara, mereka lebih terlihat seperti pasangan anak remaja yang baru saja mengenal cinta. Bahkan sesekali Wira mengecup punggung tangan Dara dengan mesra, membuat gadis itu salah tingkah dan merona dengan perlakuan romantis suaminya.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam lamanya, akhirnya mereka sampai di rumah. Wira dengan posesif melarang Dara membawa ranselnya dan meminta beberapa pelayan untuk mengeluarkan isi bagasi.
Wira merangkul Dara saat mereka memasuki rumah dan langsung menuju kamar utama, Bu Rina yang sedang mengerjakan tugasnya di ruang tengah tersenyum simpul melihat pemandangan langka ini. Beberapa waktu terakhir wanita paruh baya itu menangkap kerenggangan hubungan di antara pasutri tersebut, tetapi setelah melihat adegan barusan ia merasa lega, sepertinya situasi di rumah ini akan semakin membaik kedepannya.
Saat Almira tiada dia sempat khawatir tuan mudanya itu akan sangat terpuruk, tetapi ketika Wira menikah dengan Dara entah kenapa dia yakin bahwa gadis polos itu bisa menjadi pelipur lara untuk tuannya.
*****
Fatih baru saja tiba di gerbang rumah Wira dan hendak melapor kepada satpam yang berjaga. Karena Fatih sudah sering datang ke kediaman Wira satpam langsung mempersilahkannya masuk ke dalam.
"Nak Fatih silahkan duduk," sambut Bu Rina.
"Iya Bu. Maksud kedatangan saya kemari untuk mengantar beberapa berkas yang diminta oleh dokter Wira." Fatih menaruh tas jinjing berwarna hitam berisi map berkas yang diminta Wira ke atas meja.
"Tunggu sebentar, akan saya beritahukan kepada tuan, sementara menunggu silahkan dinikmati tehnya," ucap Bu Rina sopan.
"Terima kasih Bu," jawab Fatih.
Bu Rina segera melangkah menuju kamar utama. Saat sampai di depan pintu dan hendak mengetuk, dia mengurungkan niatnya dan menarik tangannya dari depan pintu. Bu Rina samar-samar mendengar suara desahan yang memburu dari dalam sana padahal hari masih siang.
Ia mengulum senyumnya dan segera pergi menjauh dari sana, memastikan situasi tetap aman terkendali agar kegiatan bergelora yang tengah terjadi di dalam kamar tuan dan nyonyanya berlangsung tanpa gangguan apapun.