You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 36



Dara tersentak kaget karena bunyi bantingan pintu yang begitu kencang, ada rasa nelangsa yang menyelusup di hatinya. Ini adalah pertama kalinya Wira bersikap dingin dengan lidah yang tajam kepada dirinya.


Kepergian Almira yang tiba-tiba dan juga status mereka yang sudah berubah saat ini, membuat hubungannya dengan Wira seperti dihalangi tembok tinggi. Wira yang selalu hangat, penuh kasih sayang serta bercanda tawa menjahilinya kini sudah tak ada lagi.


Dara menatap layar ponselnya yang menampakan foto dirinya bersama Almira dengan pose saling merangkul tertawa riang. Jemarinya mengusap layar ponsel tersebut, rasa rindu seketika menyeruak bersamaan dengan air mata yang merebak.


"Mbak, aku rindu, hiks hiks," desahnya parau dengan bibir yang bergetar.


Dara menatap ponselnya dengan posisi meringkuk di atas sofa dengan lutut ditekuk seolah memeluk dirinya sendiri, diiringi alunan isakan menyayat hati yang memenuhi seluruh penjuru kamar. Ingatannya kembali ke masa lalu, saat pertama kalinya ia bertemu dengan Almira.


Flashback on


Hari itu di panti asuhan, beberapa anak akan diseleksi dan disiapkan untuk kedatangan orang tua asuh yang hendak mengadopsi. Dara kecil yang saat itu baru berusia tujuh tahun juga ingin ikut terpilih, ia berdiri tegak dan tersenyum semanis mungkin saat para pengurus panti memasuki aula dimana para anak asuh diperintahkan untuk berkumpul.


Hanya sepuluh anak yang akan dipilih, dan sudah ada sembilan orang yang telah lulus seleksi, yang rata-rata adalah anak yang tubuhnya tinggi berisi dan tampak sehat. Kini giliran Dara yang di suruh maju untuk dipastikan masuk kriteria atau tidak. Wajahnya memang cantik walaupun kurang terurus, tetapi tubuhnya kurus dan rambutnya panjang tak tertata, hingga akhirnya pengurus panti memutuskan Dara tak lulus seleksi.


Dara kecil menghela napasnya dengan bibir mencebik, lalu melangkah kembali ke kamarnya dengan wajah tertunduk lesu karena harapannya untuk diadopsi harus pupus lagi.


*****


Sore harinya saat para calon orang tua asuh datang ke panti, diam-diam gadis kecil itu menyelinap keluar dari kamarnya menuju ruangan tempat menerima tamu di panti asuhan tersebut. Dara mengintip dari celah jendela tanpa bersuara, dia sungguh iri, melihat beberapa temannya akan mempunyai keluarga baru di luar sana.


Lalu Giliran Arif ayah Almira yang dipersilahkan memilih, karena kepergian ibunya, putri semata wayangnya sering murung, dan karena permintaan Almira juga yang ingin mempunyai saudara perempuan akhirnya Arif datang ke panti untuk mengadopsi salah satu anak-anak di sana supaya Almira tidak kesepian lagi.


Almira juga ikut serta datang ke sana, dan Arif meminta Almira saja yang memilih karena itu merupakan keinginan putrinya. Saat ia berkenalan satu persatu dengan anak-anak yang ada di ruangan itu, tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis kecil yang mengintip di balik jendela lebih menarik perhatiannya, bahkan sepertinya gadis kecil itu harus berjinjit demi bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruangan.


Almira langsung keluar dari ruangan menuju tempat Dara berdiri. Gadis remaja itu bersimpuh untuk mensejajarkan tingginya dengan Dara.


"Hai, aku Almira, siapa namamu?" tanyanya dengan senyuman cantiknya.


"Aku Dara," sahutnya. Matanya berbinar menatap sosok cantik di depannya.


"Halo Dara, mulai saat ini, aku adalah kakakmu, maukah kau menjadi adikku?"


"Aku mau... aku mau," cicitnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.


"Jadi sekarang, panggil aku Mbak Mira adik kecilku," pinta Almira.


"Baik, Mbak Mira," ucapnya penuh semangat.


"Anak pintar." Almira mengusap kepala Dara lembut.


Ketika orang lain tak ada yang menoleh kepadanya, Almira datang menawarkan kehangatan sebuah kekuarga, dan sejak saat itu terpatri di sanubarinya, Almira adalah ibu peri penyelamatnya dari dinginnya malam-malam di panti asuhan.


Flashback end


Dara akhirnya tertidur di atas sofa setelah menangis begitu lama, berharap esok hari air mata yang tumpah ruah itu mampu membasuh semua noda kesedihan dan berganti dengan seberkas harapan yang lebih indah.