You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 286



“I-ibu,” ucap Dara terbata.


Ibu dan anak yang baru saja bersua itu sama-sama dibanjiri air mata. Berbagai macam luapan rasa bercokol dalam dada, begitu menyesakkan hingga terasa nyeri. Wira mundur selangkah demi selangkah memberi ruang dan waktu untuk Dara dan ibunya saling bicara dari hati ke hati, begitu pula dengan bibinya yang melakukan hal serupa.


“Maafkan Ibumu yang buruk ini, Nak. Aku ibu yang egois,” ucap Aruna serak dan lemah disela-sela deraian air matanya.


Dara tergugu, tenggelam dalam tangisnya, sedu sedan menggaung di seluruh penjuru ruangan. Ketika tangan lemah ibunya bersentuhan dengannya, tak pernah diduga sebuah hantaman getaran dahsyat tak kasat mata mengguncang jiwanya hingga ke dasar. Ternyata benar apa yang dikatakan suaminya, semarah apapun dia terhadap ibunya, tetap saja ikatan itu ada, Ikatan alamiah antara ibu dan anak. Tak ada yang mampu mengubah kenyataan bahwa dirinya memang terlahir dari wanita yang kini terbaring lemah ini, wanita yang menelantarkannya sewaktu kecil.


“Kenapa… kenapa Ibu… membuangku?” Sebuah pertanyaan yang selalu menghantuinya, seperti segumpal awan hitam pekat yang selalu menggelayuti pikirannya. Perih,sakit, nelangsa, itulah yang kerap kali dirasakan kalbunya kala mengingat kembali hal itu.


Pertanyaan Dara menohok dan menusuk Aruna hingga ke relung sanubari terdalam. Wanita yang tergolek lemah itu menangkap gurat kepedihan juga luka dari pancaran mata Dara. Dia mengangsurkan telapak tangannya naik hingga membelai rambut Dara.


Ditatapnya lamat-lamat wajah sang anak yang ditinggalkannya dulu lantaran terbuai tahta, terbuai harta, terbuai rupa, terbuai kata cinta yang kini kesemuanya itu malah berbalik membelitnya dalam cengkeraman derita dan nestapa.


“Dosa Ibu terlampau besar. Sehingga Tuhan menghukumku seperti ini. Hukuman untuk seorang Ibu yang telah tega menelantarkan bayi lemahnya yang belum mempunyai daya upaya karena aku silau dengan duniawi. Tuhan tak pernah lagi memberiku kesempatan untuk kembali mengandung hingga kanker akhirnya menggerogotiku, seolah menamparku dengan kenyataan bahwa saat aku diberi kepercayaan untuk memiliki anak, tapi malah kusia-siakan.”


“Tahukah, Bu? sewaktu kecil hidupku tak mudah, aku dibesarkan di panti asuhan tanpa pelukan dan kehangatan orang tua. Hanya sesama teman senasib yang menjadi keluarga,” ucap Dara dalam sedu sedannya.


“Maafkan Ibu….”Aruna merasa perih tak terperi mendengar curahan hati anaknya yang menderita karenanya.


“Penyesalanku datang amat sangat terlambat menyapa, Ibu memohon maaf dari hati terdalam padamu, Nak. Ibu tak berharap dimaafkan, rasanya terlalu malu diri ini yang berlumur dosa berharap pengampunanmu, ibu ingin memohon maaf padamu sebelum nyawa tak lagi bersemayam di raga. Terima kasih telah sudi datang menjenguk ibumu yang buruk ini.” Tangan Aruna gemetar, perlahan Dara menyentuh punggung tangan Ibunya yang menangkup wajahnya dan mengengamnya erat, merasakan sentuhan tangan itu di kulitnya.


“Aku ingin marah dan membencimu.” Dara kembali bersuara dalam isak tangisnya.


“Marahlah padaku, dan juga bencilah aku. Ibu sepertiku memang pantas mendapatkannya.”


Dara menatap ke dalam mata ibunya lekat, menenggelamkan diri di sana yang penuh dengan kubangan penyesalan. Bibirnya yang gemetaran kembali berucap.


“Ingin sekali kuledakkan semua kemarahanku yang terpendam, tapi… ternyata aku tak bisa. Ibu, aku merindukanmu… hiks… hiks.” Tangisan Dara pecah melengking di udara, yang kemudian memasrahkan diri ke pelukan Aruna secara bersamaan.