You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bonchap 6



“Tarik napas teratur, Sayang, tarik napas!”


Wira meminta Dara mengatur napas setengah memaksa seperti orang kesurupan, tetapi justru malah dia yang megap-megap seolah kesulitan meraup oksigen, sedangkan Dara hanya meringis-ringis kecil sambil mengusap perut bagian bawahnya yang terasa ngilu.


Dalam kekalutan, Pak Jono terkena bentakkan majikannya beberapa kali. Wira meminta laju kendaraan dipercepat tetapi juga jangan terlalu cepat, membuat Pak Jono pusing sendiri antara menginjak pedal gas dalam-dalam atau memelankannya dan malah ikut panik. Sementara si ibu hamil tetap tenang dalam ringisannya dan akhirnya malah terkikik geli karena suaminya senewen melebihi emak-emak komplek yang kehilangan jemuran.


“Tenang, Mas. Tenang.” Dara mengusap lengan kekar Wira yang sejak tadi tak beranjak dari perut buncitnya.


Keadaan terbalik di sini, karena yang perutnya besar lah yang menenangkan sementara si penanam benih belingsatan dengan wajah tampannya yang mulai memucat.


“Lebih baik telepon dokter Raisa biar cepat datang ke rumah sakit. Jangan panik, Papa,” ucap Dara pelan dengan ukiran senyum di wajah cantiknya yang kini sedikit chubby akibat kenaikkan berat badan selama kehamilan.


Wira baru tersadar setelah Dara mengingatkan. Dia segera menghubungi Raisa dan meminta datang ke rumah sakit secepatnya.


Sekali lagi, Raisa diminta datang tengah malam ke rumah sakit. Dia langsung memeriksa Dara begitu sampai.


"Sa, jadi benar, istriku ... istriku akan melahirkan?" tanya Wira menghampiri seperti orang linglung, telapak tangannya sedingin es kini.


Raisa mengangguk mengulas senyum simpul. "Iya, putra kembarmu sudah waktunya melihat dunia," jawabnya sambil menepuk pundak Wira.


“Sudah mulai ada pembukaan walaupun baru tahap awal, tapi karena di kehamilan pertama Dara melahirkan lewat jalan pembedahan, jadi demi keselamatan ibu dan bayinya, lebih baik operasi yang dipilih. Terlebih lagi sekarang bayinya kembar, jika dipaksakan vaginal birth, resiko buruknya cukup tinggi.”


Dara sudah berada di ruang verlos kamer. Raisa yang sama paniknya berusaha menjelaskan tegas dan tenang pada Wira. Si Dokter kandungan masih memakai piyama motif bunga-bunga dilapisi jas dokternya lantaran tak sempat berganti pakaian, bahkan bando miki mouse warna merah yang sepertinya memang dipakainya saat tidur masih bertengger di kepalanya.


“Pokoknya semuanya kuserahkan sama kamu, Sa. Lakukan yang terbaik, segera!”


Wira mengguncang bahu Raisa dengan raut wajah penuh ketakutan. Kata melahirkan selalu sukses membuat seorang Wira Aryasatya merasa berdiri di ujung jurang curam. Mengingat dulu saat putri sulungnya lahir, ia dihadapkan dalam dua pilihan luar biasa sulit antara istri dan anaknya, siapa yang harus dipilihnya untuk diselamatkan kala itu.


"Ayo bersiap. Kamu juga bisa ikut masuk.”


Kain penyekat warna biru muda sudah dibentangkan. Para dokter juga perawat sudah mengelilingi Dara, dan Wira berdiri membungkuk di dekat wajah Dara. Berdo’a dalam hati sambil tak henti mengecupi wajah istrinya dan berbisik parau, “Kamu pasti kuat, Sayang. Kamu pasti bisa.”


Anestesi lokal yang dilakukan membuat Dara masih bisa membuka mata dan tersenyum merekah pada suaminya yang terus menguatkannya. Ia juga masih bisa berbisik meski lemah. “Jangan panik, Mas. aku baik-baik saja, kok.”


“Semua tanda vital stabil dan normal, Dok.” salah seorang tim memberitahu Raisa yang sudah memegang scalpel.


Raisa mengangguk paham. “Kita mulai.”


Kondisi Dara yang vit juga janin yang sehat membuat operasi berjalan cukup singkat. Raisa dan team memanjatkan syukur penuh sukacita karena prosesnya dimudahkan.


Dua bayi mungil nan tampan menangis kencang begitu dikeluarkan dan selubungnya dibuka. Menguarkan kebahagiaan ke seluruh penjuru ruangan. Raisa menyerahkan dua bayi merah itu ke pangkuan Wira dan mendekatkannya pada Dara.


“Sayang, Sayang, kembar ganteng Mama,” ucap Dara serak diiringi setitik bening haru meluruh dari sudut matanya kala melihat dua buah hati kembarnya.


“Terima kasih, Daraku. Selalu memberiku kebahagiaan tak terhingga,” bisik Wira yang juga tak bisa menahan haru.


Semua orang mengucap syukur. Terutama kedua orang tua si kembar tampan. Terkadang tidak semua tangisan membawa duka, seperti halnya tangisan bayi baru lahir yang selalu membawa sukacita.


*****


Jangan komen lanjut or next or up. Ini bonchap ya, tidak akan berjilid. Thank you 🤗.


Ada kisah tersendiri Fatih dan Freya di novelku yang berjudul 'Double F'. Selamat membaca dan semoga suka 🤗.


Baca juga novelku yang lainnya, tinggal klik profilku ya😘.