You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 300



Pukul delapan malam Selena sudah pulas, mungkin karena kelelahan bayi lucu itu lebih cepat tertidur dari biasanya. Dara duduk di tepian tempat tidur dengan kotak hadiah dari Freya dan Anggi di pangkuannya.


“Sebenernya ini hadiahnya apa sih?” Dara membolak balikkan kotak berwarna rosegold itu dan mengguncang-guncangkannya. Begitu ringan, seolah hanya berisi gulungan kertas.


“Jangan-jangan isinya kertas koran?"


Ia semakin penasaran, dibukanya kotak tersebut dan saat dibuka ternyata isi di dalamnya adalah satu set lingerie super seksi berwarna putih. Ia mengeluarkannya dan menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk jidatnya sendiri, Dara pikir tentang obrolan lingerie beberapa hari yang lalu hanya candaan saja.


Dara memang sudah sering memakai gaun tidur seksi, tapi tak seterbuka ini, lingerie ini lebih dari menerawang. “Dasar jahil!” umpatnya.


Di saat Dara tengah membolak-balikkan gaun tipis tersebut, sebuah pelukan dari belakang menghentikan kegiatannya.


“Wow… apakah istriku sangat bersemangat untuk membuka kado utamanya? bahkan sudah mempersiapkan amunisi.” Wira berbisik menggoda di telinga Dara.


“Ya ampun amunisi apanya! Memangnya mau ke medan perang!” cerocos Dara sambil menaruh kembali kado dari kedua sahabatnya itu.


“Ini juga perang, sayang. Sama-sama memacu, hanya saja medannya berbeda.” sahutnya santai tak peduli jika kalimatnya vulgar yang disambut sikutan dari Dara di perut kotak-kotaknya yang menggiurkan.


Wira mengurai pelukan, memindahkan kotak kado berisi gaun seksi tersebut ke atas nakas kemudian duduk berhadapan dengan Dara. “Mau membuka kado utamamu sekarang?” Wira menyeringai mesum.


“Kadonya harus dihiasi pita, tidak sah jika tak ada pitanya.” Dara menyentuh dada bidang suaminya yang tak terbalut apapun dengan gerakan sensual dan nakal. Wira baru selesai mandi dan hanya mengenakan celana panjang joger warna hitam.


“Mana pitanya?” goda Dara kemudian.


Dara merona merah. Meskipun mereka sudah sangat mengetahui tubuh urian masing-masing, tetapi jika digoda seperti itu tetap saja membuatnya tersipu.


Wajah istrinya yang tersipu malu-malu selalu berhasil membuatnya ingin menerjangnya seketika. Tadinya dia berniat menggoda Dara agar istri tercintanya itu menyerah lebih dulu, namun justru kini malah dirinya yang sudah tak tahan.


Wira meraup Dara ke dalam pangkuannya, ditatapnya wajah cantik yang merona itu. “Jika kamu butuh bantuan untuk membukanya, aku bersedia,” desisnya penuh hasrat.


Tanpa diduga tangan Dara terulur ke bawah dan menarik tali tersebut. “Aku ingin membuka hadiahku sendiri, karena ini adalah kado ulang tahunku,” ucapnya manja menggoda.


Pria tampan menawan itu tersenyum lebar lalu mengecup bibir ranum Dara sekilas. “Kupastikan ini akan menjadi kado terbaik yang pernah ada. Biarkan aku memanjakanmu, istriku.”


Di detik kemudian bibir keduanya sudah bertautan saling berkejaran. Entah siapa yang memulai, yang pasti pasangan itu saling meluapkan rasa cinta masing-masing dalam gelora yang sama seirama.


Laksana simfoni yang mengalun indah, diiringi nyanyian merdu dari desau angin yang menyapu dedaunan hingga terjatuh ke tanah, mereka berpadu dalam dekapan penuh gairah, membiarkan raga digulung gelombang puncak asmara yang menghempas hingga luluh lantah.


“Aku mencintaimu, Anandara.” Wira mengecup kening wanita yang berada dibawahnya setelah peleburan dahsyat yang baru saja usai menafkahi ragawi masing-masing hingga terpenuhi.


“Aku lebih mencintaimu… Wira Aryasatya.” Dara balas mengecup mesra bibir suaminya yang terengah mengatur napas.


“Selamat ulang tahun, istriku.”


“Terima kasih kadonya, suamiku.”