
"Bisa kuminta salinan rekamannya, kalau bisa buatlah beberapa salinan?" pinta Wira.
"Tentu saja Dok, tunggu sebentar."
Si kepala security menyalinnya ke dalam file yang lain dan juga ke dalam flashdisk yang diberikan Wira, kemudian dia juga menghubungkan dan mengirimkannya ke ponsel Dokter tampan itu.
Wira juga mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa bukti-bukti tentang kebusukan Michelia telah terkumpul. Sebelum pulang ke rumah, Pak Jono membelokkan mobil ke sebuah cafe sesuai perintah tuannya untuk mengambil barang bukti tersebut.
******
Hampir menjelang tengah malam Wira baru sampai di rumah, dilihatnya Dara ternyata tertidur di sofa ruang tengah dengan posisi meringkuk.
"Tuan, sedari tadi saya sudah meminta Nyonya untuk beristirahat di kamar saja. Namun, dia bersikeras ingin menunggu di sini sampai Anda pulang dan baru saja tertidur," ucap Bu Rina yang baru selesai menyelimuti Dara.
Wira mengulas senyum penuh pemakluman. "Tak apa Bu Rina, aku akan membawa Dara ke kamar. Terima kasih sudah menjaga istriku."
"Sudah menjadi kewajiban saya Tuan. Selamat beristirahat."
Bu Rina mengangguk sopan kemudian Wira meraup Dara ke dalam gendongannya dan membawanya ke kamar. Direbahkannya sang istri tercinta yang kini berbadan dua itu, menyelimutinya memastikan supaya tetap hangat dan mengatur suhu air conditioner agar tidak terlalu rendah.
Setelah itu Wira ke ruang kerja menaruh semua bukti-bukti yang didapatnya dan juga membuat beberapa salinannya. Ia membersihkan diri barang sejenak kemudian bergabung ke dalam selimut dan merengkuh Dara ke dalam dekapannya.
Sebelum memejamkan mata tak lupa sebuah kecupan sayang berlabuh di dahi si belahan jiwa, mensyukuri bahwa Tuhan masih melindungi kedua hal berharganya tanpa tersentuh tangan kotor Michelia.
Semua bukti-bukti sudah di tangan dan sekarang tinggal membuat perhitungan dengan wanita ular itu secepatnya. Wira bukan tipe orang yang menunda-nunda pekerjaan, maka dari itu untuk hal ini pun ia bergerak cepat.
*****
Sementara itu di rumah sakit, saat ini Michelia mengendap-endap seperti maling menuju ruang kontrol.
Wanita itu memutar rekaman CCTV yang menampakan kejadian dirinya di ruangan apoteker, kemudian menghapusnya sembari tertawa puas karena merasa bukti kejahatannya takkan terendus tanpa tahu bahwa seseorang sudah bergerak lebih cepat dari dirinya.
"Hhh... tinggal menunggu kabar baik bahwa besok pagi gadis ingusan itu kehilangan bayinya atau bahkan kehilangan nyawanya. Ah... aku sudah tak sabar menantikannya."
*****
Pagi-pagi buta Wira sudah bersiap, Dara mengerjapkan mata karena mendengar bunyi gemerisik pakaian yang bergesekan dengan tempat tidur dan itu berasal dari mantel hangat yang dipakai Wira.
Pria itu duduk di tepian ranjang kemudian membelai Surai panjang istrinya yang masih belum sadar sepenuhnya dari kantuknya.
"Mas, kenapa pagi buta begini sudah rapi? mau ke mana?" Dara mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang sembari mengucek matanya pelan.
"Sebelum berangkat kerja aku hendak ke suatu tempat. Sudah kutemukan orang yang ingin mencelakaimu dan aku akan melaporkannya pada polisi karena ini sudah menyangkut urusan nyawa. Takkan kubiarkan orang semacam itu menghirup udara kebebasan sebelum mencicipi ganjaran yang setimpal."
"Mas sudah menemukannya, Si-siapa?" Dara tergagap karena benar-benar terkejut dengan kenyataan bahwa orang keji semacam itu nyata adanya.
"Orangnya adalah Michelia!" Wira benar-benar geram penuh amarah saat mengucapkan nama tersebut.
"Apa?" Dara membeliak dan terkejut. Sebagai sesama wanita ternyata Michelia sudah tak mempunyai rasa empati sama sekali sehingga tega merencanakan perbuatan jahat ini pada bayinya.
"Untuk sekarang tetaplah di rumah demi keamananmu, jangan pergi kemanapun dulu hingga situasi aman terkendali dan kupastikan si pelaku masuk ke jeruji besi. Karena Michelia adalah tipe yang nekat, kita harus tetap waspada dan berhati-hati." Wira meminta dengan sangat yang disambut anggukan kepala oleh Dara.
"Iya Mas. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Lagipula aku tak ingin bertemu dengan wanita menakutkan itu lagi." Beruntung hari tenang setelah ujian masih berlangsung beberapa waktu ke depan sehingga Dara tak usah keluar rumah.
"Aku berangkat sayang." Wira mengecup kening Dara dan mengusap puncak kepalanya sekilas kemudian segera berlalu dengan membawa bukti-bukti di tangan.