You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 297



“Dan apa?”


“Mmm… ada deh,” sahut Dara santai.


“Yaaaaa… penonton kecewaaaa,” pekik keduanya.


“Ayo dong apa? mentang-mentang udah lebih berpengalaman tentang urusan cinta. Berbagilah sedikit informasi dengan kami yang masih unyu-unyu ini, sebenernya tadi itu kamu mau ngomong apa sih? bukankah berbagi itu indah,” ujar Freya merayu.


“Unyu-unyu dari Ciledug!” Dara menggeleng dan terkikik geli.


“Gak boleh pelit info. Ayo cepet bilang, biar kita-kita makin luwes urusan cinta yekan?” timpal Anggi bersemangat.


“Kalau udah nikah dan… dan melakukan malam pertama,” sahut Dara sangat pelan, dan wajahnya sekarang semerah tomat masak, sedangkan kedua temannya menjerit kecil dan terlonjak heboh.


“Benarkah hal itu akan membuat kita makin cinta kepada pasangan? bukannya orang-orang bilang rasanya sangat sakit saat pertama kali melakukannya?” tanya Freya kepada Dara dengan polosnya.


“Ya ampun tentu saja sakit, Frey.” Anggi menoyor bahu Freya.


“Dih, tahu dari mana kalau rasanya sakit, emang kamu udah pernah?” sergah Freya dengan bibir mengerucut.


“Enak aja! Aku ini masih bersegel tahu. Dari cerita-cerita novel yang kubaca, semuanya menuliskan katanya rasanya sangat sakit, bahkan ada yang bilang rasa seperti terbelah menjadi dua. Apakah milik para lelaki itu sejenis pisau? auhhhh, ngerinya.” Sekarang malah Anggi yang bergidik, sementara Dara lagi-lagi melipat bibir mengulum senyumnya tersipu.


“Heh, sepertinya bacaanmu dua satu plus? Ingat umurmu Anggita Jelita, dasar gadis nakal!” Freya mencubit kedua pipi Anggi.


“Aduh pipiku sakit tahu, aku ini sudah menginjak dua puluh tahun!” protes Anggi. “Eh, tapi kalau rasanya sakit, kenapa malah jadi makin cinta, kan aneh, huh? emang beneran sakit atau nggak sih?” tanyanya penasaran yang kemudian diangguki Freya, keduanya kembali fokus kepada Dara setelah sempat berdebat berdua.


“Gak bisa dijelasin dengan kata-kata lah. Ntar juga tahu sendiri kalau udah nikah. Kenapa kalian jadi mesum!” protes Dara.


“Semuanya kamu yang mulai. Bukan mesum, tapi haus akan ilmu pengetahuan! Ini juga berkaitan dengan mata kuliah kita kan?” kilah keduanya yang kembali cekikikan.


“Heiii... obrolan macam apa ini! Kalian kudu dirukiyah!” seru Dara mendengus.


Obrolan pergosipan seputar malam pertama akhirnya berhenti saat pelayan kafe menginterupsi membawakan kopi pesanan mereka. Semuanya langsung teralihkan dengan wanginya aroma kopi premium yang memanjakan hidung juga menggoda lidah untuk mencicipinya.


“Tiga hari lagi datanglah ke rumahku. Aku dan Mas Wira berencana mengadakan pesta kecil-kecilan.”


“Pesta? pesta apa?” sahut Anggi dan Freya setelah menghabiskan setengah gelas kopinya ibarat orang kehausan yang berhari-hari tak mendapatkan air.


“Coba kalian lihat kalender, tiga hari lagi tanggal berapa?’ ucap Dara.


Freya dan Anggi membuka ponsel masing-masing dan menjerit heboh. “Akh… maafkan kami, hampir saja melupakan ulang tahunmu.” Keduanya kembali memeluk Dara.


“Oh iya, kamu mau hadiah apa dariku? berbagai macam tang berwarna? pelek dengan model aduhai? kunci inggris berbahasa Indonesia, atau kunci dongkrak perkasa semuanya ada di toko langgananku,” cerocos Freya tanpa rem.


“Dara itu mau ulang tahun, bukan mau buka bengkel!” seloroh Anggi.


“Terus mau ngasih apa? aku lebih paham berbelanja barang-barang tadi.” Freya mengerucut cemberut.


“Aku tahu hadiah yang tepat,” kata Anggi sambil menjentikkan jari. “Sini kubisikin.” Ketiganya saling mendekatkan diri masing-masing.


“Apa itu?” Freya dan Dara menatap Anggi penasaran.


“Lingerie seksi warna merah atau yang warna hitam berenda-renda,” bisiknya yang kemudian tergelak kencang.


******