
Para tamu undangan satu persatu sudah mulai berdatangan. Mereka semua tiba dengan penampilan terbaik masing-masing sebagai bentuk penghargaan dalam menghadiri acara penting keluarga Aryasatya.
Meja-meja berbentuk bulat yang dikelilingi kursi berdesain serupa, ditata begitu rapi dan elegan di ruangan besar tersebut. Didekorasi menggunakan taplak putih dengan bordiran indah, serta dipermanis sebuket rangkaian bunga mawar berbagai macam warna dalam vas keramik berwarna senada di setiap meja.
Hurup 'W' dan 'A', mendominasi setiap dekorasi pada acara malam hari ini, Haris dan Ratih benar-benar memastikan agar semua aspek pesta tersaji sempurna.
Di area depan, Freya dan Anggi juga ikut ambil bagian sebagai yang ditugaskan menyambut para tamu undangan bersama Fatih. Mereka bertiga memakai pakaian senada yang sudah dipersiapkan dan disesuaikan dengan tema pesta.
Anggi sudah terbiasa memakai gaun juga sepatu high heels. Namun, lain halnya dengan Freya, sejak tadi si tomboi itu tampak kesulitan dengan pakaian yang dikenakannya. Ia berjalan kaku dan agak sedikit mengangkang untuk menyeimbangkan tubuhnya dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya. Bahkan sesekali Freya mengangkat tinggi-tinggi gaun semata kaki yang dipakainya hingga mencapai lutut, karena baginya gaun panjang itu terasa menghalangi langkahnya ketika hendak berjalan.
"Aduh Frey. Bajunya jangan diangkat tinggi-tinggi, biarkan saja menjuntai ke bawah dan bersikaplah anggun," protes Anggi yang gemas melihat kelakuan Freya sejak tadi.
"Kalau gaunnya kubiarkan menjuntai, kayak mau keinjek pas aku lagi jalan," sahut Freya yang terus menerus sibuk kerepotan dengan model pakaian yang sangat jarang dikenakannya membuat Anggi geleng-geleng kepala.
"Tapi kalau terus diangkat, kamu jadi kayak korban bencana banjir," tukas Anggi sembari menghela napasnya jengkel.
"Aku heran sama kamu, kok bisa sih betah pakai baju dan sepatu yang menyiksa kayak gini?" tanya Freya penasaran kepada Anggi.
"Hhh... dijelasin juga percuma. Kamu pasti lebih tertarik dengan posisi klasemen MotoGP daripada bahasan tentang fashion. Pokoknya untuk malam ini bersikaplah tenang dan feminim ok, demi Dara." Anggi berucap sambil memijat pelipisnya yang mulai pening karena sahabatnya yang tomboi itu ternyata tak mudah ditertibkan.
"Kamu benar. Unchh... kamu memang paling mengerti aku." Freya memeluk Anggi dengan kencang dan mengguncangkannya.
"Eh iya, hehehe. Maaf, aku lupa. Baiklah, untuk malam ini tolong ajari aku untuk menjadi feminim dan anggun," ujarnya antusias yang disambut embusan napas frustasi dari gadis di sebelahnya.
Tanpa Freya sadari, sedari tadi seseorang terus menatap terpaku ke arahnya. Sorot matanya jelas terpukau dengan mulut yang sedikit menganga karena terpesona. Beruntung tidak ada lalat yang lewat, bisa-bisa mereka masuk ke dalam gua yang dibiarkan bebas terbuka. Siapa lagi kalau bukan Fatih, si pemuda ajaib yang tengah mencari cinta.
*****
"Kamu siap." Wira memposisikan lengannya untuk menggandeng Dara, mereka masih berada di ruangan khusus dekat pintu samping ballroom tempat acara diadakan.
"Ya, aku siap," jawabnya diiringi anggukan mantap, kemudian tangannya terulur menyambut gandengan lengan prianya sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Para hadirin sudah memadati tempat tersebut. Terdengar MC mulai membuka acara. Setelah menyampaikan sepatah dua patah kata pembuka, pembawa acara mempersilakan Haris dan Ratih untuk masuk terlebih dahulu dan menempati tempat duduk khusus di atas podium yang ditata sejajar dengan kursi kedua mempelai. Tepukan tangan dari para hadirin langsung menyambut kemunculan mereka.
Tibalah waktunya, kedua sejoli itu untuk menampakkan diri. "Hadirin yang berbahagia. Inilah saat yang kita tunggu-tunggu, mari kita sambut dengan tepukan meriah dan penuh sukacita, raja dan ratu kita pada malam hari ini. Wira Aryasatya dan Anandara...."
Suara MC menggema penuh sukacita, disertai riuhnya tepukan dari para tamu undangan menyambut kemunculan Dara dan Wira, diiringi alunan irama romantis dari orkestra yang memainkan musik di sudut ruangan ballroom mewah tersebut.
"Melangkahlah dengan tenang. Percayakan semuanya padaku dan yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja," bisik Wira menenangkan di sela-sela langkah mereka.