
"Sa, jika sedang hamil muda begini apakah masih aman jika kujenguk anakku setiap hari?" tanya Wira blak blakan yang disambut cubitan Dara di perut berototnya.
"Mas!" Dara melotot pada Wira dengan bibir mengerucut.
"Kenapa sayang?" Wira menatap Dara penuh cinta sedangkan ekspresi yang ditatap lebih mirip banteng mengamuk yang siap menerjang lawannya saat ini juga.
"Aku sedang berkonsultasi tentang kesinambungan kebutuhan ranjang kita selama kehamilanmu sayang, karena menurutku ini sangat penting," jelas Wira dengan wajah tanpa dosa.
Dara ingin sekali memasukkan wajahnya ke dalam tas yang dibawanya sekarang juga, topik obrolan intim ini membuatnya malu luar biasa karena suaminya terlalu berterus terang.
"Kau ini! Memakai alasan menjenguk bayi padahal aslinya memang doyan. Tentu saja tidak boleh tiap hari!" Raisa memukul pundak Wira memakai map yang sedang dipegangnya tanpa sempat menghindar.
"Tapi bagiku ini sangat penting Sa, kenapa memukulku?" protesnya.
"Kondisi istrimu sangat baik dan tak ada masalah, jadi selama trimester pertama ini sebetulnya masih boleh asalkan tidak terlalu sering dan dilakukan dengan hati-hati. Ingat, tidak boleh setiap hari! Jangan terlalu liar dan perhatikan durasimu!" seru Raisa.
Wira mengangguk dan tersenyum senang, setidaknya walaupun tidak setiap hari ia masih diperbolehkan untuk menyentuh istrinya.
"Ini resepnya dan juga foto USG-nya sampai jumpa lagi bulan depan." Raisa memberikan kertas resep kepada Wira dan tersenyum manis kepada Dara.
"Makasih Sa. Salam buat suami bulemu dan selamat melanjutkan kegiatanmu yang tadi tertunda," ujar Wira terkekeh.
"Dasar kau, cepat pulang sana!" usir Raisa sambil tersenyum menipiskan bibirnya. Ia ikut senang melihat temannya kembali berbahagia.
*****
Di perjalanan pulang, Dara melihat penjual rujak tumbuk ini di pinggiran jalan, tiba-tiba dia ingin sekali mencicipi makanan tersebut padahal aslinya Dara tidak terlalu suka dengan yang namanya rujak.
"Mas tolong kepinggir dulu, aku pengen beli rujak buah yang itu." Dara menepuk-nepuk lengan Wira yang tengah mengemudi dan mengarahkan telunjuknya ke tempat penjual rujak yang diinginkannya. Wira segera menepikan mobilnya sesuai permintaan Dara.
"Yang itu, yang dijual di trotoar," sahut Dara penuh semangat. Ia bahkan menelan ludahnya beberapa kali karena ingin segera melahap makanan tersebut.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang beli."
Dara mengangguk senang dan pria itu segera menghampiri penjual tersebut. Setelah beberapa saat Wira kembali ke dalam mobil dan Dara menyambutnya dengan antusias.
"Mana rujaknya Mas?"
"Sebaiknya jangan makan rujak yang itu ya, kita cari di tempat lain. Kuperhatikan buahnya sepertinya tidak di cuci, bahkan tempat untuk membuat rujaknya terlihat lusuh. Aku takut kamu sakit perut sayang."
Wira tidak jadi membeli karena khawatir dengan kesehatan istri dan anaknya, sedangkan Dara langsung menekuk wajahnya karena permintaannya tidak dituruti.
"Kita cari di tempat lain ya sayang, jangan cemberut," bujuk Wira ketika melihat Dara merajuk.
"Terserah!" sahut Dara ketus, kemudian memalingkan wajahnya memandang ke luar jendela.
Wira mengembuskan napasnya berat, kemudian melajukan kembali mobil mewahnya mencari resto dan cafe yang menjual jenis rujak serupa. Setelah berkeliling dan mampir ke beberapa resto dan cafe hampir satu jam lamanya, akhirnya Wira menemukan jenis rujak yang diinginkan Dara di sebuah resto salad.
Ia meminta dibuatkan satu porsi untuk dibawa pulang, sedangkan Dara memilih menunggu di dalam mobil dan tak mau diajak turun, sejak tadi istrinya itu tak mengeluarkan satu patah katapun karena masih merajuk.
"Ini rujaknya sayang," Wira menyodorkan bungkusan berisi rujak yang dibelinya ke pangkuan Dara.
"Ayo dimakan, katanya tadi kepingin banget," ucapnya lembut.
"Nanti aja makannya di rumah!" jawabnya singkat.
"Ya sudah, sekarang kita pulang ya." Wira memaklumi, mungkin istrinya itu jadi lebih sensitif karena efek kehamilannya.