
"Sayang, aku tak bisa mengantarmu pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus kukerjakan dan sepertinya aku akan pulang agak malam. Pak Jono sebentar lagi sampai untuk menjemput." Wira tengah menemani Dara menyerahkan resep dari Raisa di apotek yang terdapat di dalam rumah sakit.
"Nggak apa-apa Mas, jangan terlalu cemas begitu. Aku juga tidak ingin menjadi istri yang hanya bisa merepotkan suaminya. Selesaikan pekerjaan Mas dengan tenang, jaga kondisi dan jangan lupa makan teratur meskipun sibuk," ucapnya penuh perhatian.
Wira mengulas senyumnya merasa begitu bahagia mempunyai pendamping yang hanya mencintainya dan sangat memperhatikannya serta menjadikannya satu-satunya. Kemudian terdengar suara Fatih memanggil dari kejauhan yang tengah berlari menghampiri.
"Dokter Wira... rapat sudah dimulai. Anda diminta untuk segera hadir oleh kepala rumah sakit," lapor Fatih dengan napas tersengal-sengal akibat berlarian tadi.
"Pergilah Mas, aku tinggal menunggu resep obatku. Jangan khawatir aku bisa sendiri. Lagipula sebentar lagi Pak Jono akan segera datang kan?"
Dara meyakinkan suaminya bahwa dirinya baik-baik saja meski tak ditemani, tetapi lain halnya dengan raut wajah Wira yang tampak berat harus meninggalkan istrinya seorang diri menunggu di kursi tunggu apotek.
"Baiklah. Selalu berhati-hati sayang. Kabari aku jika sudah sampai di rumah." Wira seakan tak mau melepaskan genggaman tangannya.
Semakin lama hidup bersama Wira sebagai istrinya, Dara makin paham dengan sifat manja suaminya. Ia mengusap-usap punggung tangan Wira kembali meyakinkan untuk segera memenuhi panggilan kerjanya.
"Aku tak apa sungguh." Dara tersenyum hangat.
Wira mengangguk kemudian mencium kening Dara sekilas dan segera pergi diikuti Fatih menuju ruang rapat.
Dara duduk di kursi tunggu sementara para apoteker menyiapkan resep obatnya. Sambil menunggu ia membaca artikel-artikel kehamilan yang banyak terpajang di sepanjang dinding rumah sakit.
Tanpa Dara ketahui sejak tadi Michelia membuntuti Dara dan Wira dari mulai masuk ke ruangan Raisa hingga ke apotek. Ketika terlihat Wira meninggalkan Dara sendirian Michelia berteriak senang dalam hati dan segera menyelinap ke ruangan apoteker melalui pintu belakang.
Tampaklah di dalam sana seorang apoteker laki-laki muda yang sedikit kewalahan menyiapkan resep setiap pasien yang membludak karena bekerja sendiri sementara temannya sedang beristirahat makan siang secara bergilir dengannya. Ia juga terlihat sesekali memegangi perutnya seperti menahan sesuatu
"Ah, Dokter. Sejujurnya aku... aku memang perlu ke kamar mandi sejak tadi," sahutnya meringis.
"Sini, biar kubantu sementara kamu ke kamar mandi," tawarnya.
"Wah, terima kasih Dok."
Apoteker itu langsung menghambur keluar ruangan. Sebetulnya dia juga agak heran dengan sikap Michelia yang tak seperti biasanya. Jarang sekali dia peduli terhadap kesusahan orang lain dan mau membantu, padahal biasanya dokter wanita itu adalah sosok yang angkuh dan acuh tak acuh akan kesulitan orang lain di sekitarnya. Tetapi si apoteker tak peduli lagi, yang diinginkannya sekarang adalah segera sampai di toilet.
Michelia bergerak cepat mencari resep atas nama Dara. Tak butuh waktu lama ia sudah menemukannya. Ditatapnya resep itu sembari menipiskan bibirnya.
"Sayang sekali... karena kamu menjadi penghalang terbesar tujuanku, kuucapkan selamat tinggal dan selamat jalan padamu wahai jabang bayi. Bahkan bila perlu bawa ibumu ke neraka sekalian!" gumamnya dengan seringai keji.
Michelia segera menyiapkan resep untuk Dara dan mengganti satu jenis obatnya dengan obat peluruh kandungan yang dibawanya di dalam saku jas putihnya. Ia membuka kemasan aslinya dan menggantinya dengan plastik kemasan berlabel nama rumah sakit.
Sebagai seorang dokter bukanlah hal yang tak mungkin baginya untuk mendapatkan obat jenis tersebut. Sebetulnya itu tergolong jenis obat yang sulit didapat serta ketat pengawasannya karena hanya digunakan pada tindakan medis darurat dan tertentu saja.
Akan tetapi jangan sebut dirinya Michelia jika tak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, dia akan mengunakan segala cara agar kehendaknya tercapai meskipun melalui jalan menyimpang dan kotor sekalipun.
Michelia juga menyiapkan obat untuk pasien lain sesuai dengan resep yang tertera agar tidak terlalu kentara dan segera menyerahkannya ke depan loket obat untuk diberikan kepada masing-masing pasien yang sudah menunggu sebelum si apoteker kembali.
Dia tertawa puas dalam hati, lalu tak lama si apoteker itu kembali tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Michelia. "Maaf menunggu agak lama Dokter. Terima kasih sudah membantuku," ucapnya tulus.
"Tak usah sungkan. Aku harus segera pergi karena waktu istirahatku sudah habis." Michelia tak ingin berlama-lama lagi di sana dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh lagi.