You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 214



Langit biru berpadu warna jingga di sore itu tampak syahdu memeluk bumi. Matahari mulai bergerak tenggelam di ufuk barat. Semburat keemasannya seolah tersenyum, berpamitan pulang untuk beristirahat ke peraduan tanpa penyesalan serta pamrih telah menyinari bumi dan seisinya seharian.


Dari bagian timur sang malam dan bala tentaranya telah tiba, perlahan menyelimuti angkasa dengan warna kelamnya, tetapi kemudian rona indah tercipta dari para pengikutnya, berkelap-kelip bertaburan menjadi lukisan malam menakjubkan serupa alarm alam yang mengingatkan setiap insan bahwa kini sudah waktunya untuk segera berkumpul dengan keluarga tercinta sambil melepas penat.


Mobil Toyota Alphard warna hitam yang ditumpangi Wira dan Dara tiba di villa mereka di puncak saat sang malam mulai merebak. Sebenarnya Dara agak bingung, cuaca sedari pagi hingga sore ini cerah bersinar, tetapi penerbangan mereka dibatalkan karena alasan cuaca buruk. Inginnya dia bertanya lebih lanjut kepada Wira, tetapi kemudian mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk tidak membahasnya lagi.


Dua orang pengurus villa menyambut kedatangan mereka penuh sukacita. Wira menggandeng Dara dan segera masuk ke dalam menuju ke kamar utama. Sementara Pak Jono tergopoh-gopoh membuka bagasi menurunkan barang bawaan majikannya, tanpa diperintah dua orang pengurus itu segera mengangkut barang keperluan liburan tuan dan nyonyanya ke dalam.


Dara duduk di tepian tempat tidur lalu berangsur merebahkan tubuhnya terlentang. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar bercat putih bersih itu dengan ranjang berdesain klasik yang dilengkapi kelambu putih senada.


Sebuah lengkungan indah nyaris tertawa terukir di wajah cantiknya. Wira memperhatikan gerak gerik istrinya, kemudian ikut bergabung ke atas tempat tidur berbaring miring menghadap Dara dengan sebelah tangan menopang kepalanya. Tangan yang satunya lagi bergerak mengusap-usap perut buncit Dara penuh sayang secara konstan dan berulang.


"Apakah ada yang lucu? sejak tadi kamu senyam-senyum sendiri." Nada suara Wira terdengar penasaran dibarengi mata yang memicing penuh tanya.


"Aku hanya sedang mengingat momen kala itu. Waktu itu ini adalah kamar pengantin, tapi tak pernah ada kegiatan pengantin di dalamnya," ujar Dara terkekeh.


Wira ikut tertawa lalu menipiskan bibirnya, Ia merangkul Dara agar semakin merapat dengannya, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Dara dan bergumam di sana, "Maaf...."


"Untuk apa?"


"Aku memakluminya. Awalnya ikatan ini terasa asing bagiku dan juga Mas. Tapi ikatan yang kuanggap asing itu kini malah menjeratku, kubelitkan sendiri dengan kencang dan tak berniat untuk melepasnya." Dara mengusap sisi wajah Wira, menariknya agar lebih dekat dengannya, menyentuhkan hidung bangirnya di hidung mancung Wira dan menggeseknya lembut disertai senyuman yang tak pernah surut.


"Aku akan mengikatnya dengan kuat, agar kamu takkan pernah bisa mengurai simpulnya." Wira memaku tatapannya semakin terperosok ke dalam mata Dara.


"Ikatlah. Karena aku pun akan melakukan hal yang sama padamu, suamiku."


*****


Makan malam romantis telah Wira siapkan untuk Dara. Di bagian luar Villa sebuah meja berhiaskan bunga-bungaan indah disekelilingnya dilengkapi dua kursi saling berhadapan sudah tertata rapi. Wira juga memanggil koki dari restoran ternama di sekitar puncak untuk menyajikan menu terbaik penuh gizi. Tak lupa seorang pemain biola handal juga dihadirkan untuk ikut melengkapi malam spesial sebagai hadiah untuk si pemilik hatinya.


Awalnya Wira hendak mengajak Dara makan malam di luar dengan membooking sebuah restoran, akan tetapi ketika mengingat kembali pembicaraannya dengan Raisa yang berpesan agar Dara tidak boleh sampai kelelahan, akhirnya dia memutuskan untuk makan malam di villa saja.


Si cantik berambut coklat itu tak henti-hentinya tersenyum, cerminan hatinya yang terus dilanda gelombang kebahagiaan yang bertubi-tubi menerjangnya. Diperlakukan tak ubahnya seorang ratu oleh pria yang dicintainya membuat asanya semakin membumbung tinggi.


Mereka makan malam dengan romantis diiringi irama biola yang mengalun indah. Rona bahagia begitu kentara menguar dari wajah Dara. Wira juga tetap mengontrol raut wajahnya agar tampak rileks dan tersenyum di hadapan Dara ditengah rasa takut yang secara perlahan mulai menggerogoti kalbunya.