You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 12



Aku tidak menyangka Yanti akan mengendarai mobil van dan membawa Herman yang sekarat datang ke rumahku.


Di layar, terlihat Yanti membanting pintu, "Vivi! Aku tahu kamu ada di dalam. Kalau kamu berani menelepon dan mengutuk seluruh keluargaku, maka aku pun berani mengorbankan nyawaku sendiri untuk menghancurkan kamu! Biar aku kasih tahu kamu, aku tidak pernah diancam oleh siapa pun sepanjang hidupku. Kamu tidak mau mengurusi aku dan Ayahmu lagi? Oke! Mulai hari ini aku dan Ayahmu yang cacat ini akan tinggal di sini! Aku mau lihat seberapa lama kamu bisa bertahan!"


Suara teriakan Yanti terdengar silih berganti di tengah malam. Melalui layar CCTV, terlihat Herman tergeletak begitu saja di lantai. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara Yanti membawanya ke dalam van dan menyeretnya keluar dari van. Aku telah sepenuhnya mengetahui kelihaian wanita ini dalam membebani orang lain. Dugaan Ibu benar, Yanti datang cari masalah lagi. Dia bahkan menjadi semakin keterlaluan. Tapi Ibu tidak tahu bahwa sebenarnya sumbu masalah ini disulut oleh Vivi. Di saat aku mencoba untuk berkoordinasi lagi dan lagi, Vivi malah diam-diam membuat Yanti marah lagi dan lagi. Rasa benci Vivi terhadap diriku dapat terlihat jelas, tetapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Ayah dan Ibu.


Hatiku terasa hampa. Aku tidak mungkin membiarkan Herman yang setengah cacat bermalam di luar, dia baru saja diselamatkan. Sekarang musim hujan dan malam tadi baru saja hujan, sehingga cuaca di luar sangat dingin. Kalau dia flu dan demam tinggi, takutnya dia tidak akan bisa bertahan hidup sampai besok.


Vivi sekilas melirik layar CCTV dengan acuh tak acuh, lalu menoleh kembali ke meja makan, lanjut menikmati makan malamnya. Aku berjalan ke sisinya dengan penuh emosi, menunjuk ke situasi di luar pintu, "Apa kamu benar-benar tidak mau keluar untuk mengurusi mereka? Kamu yang suruh dia datang, kan? Aku, Ayah, dan Ibu sudah berusaha mencari solusi untuk membantu kamu singkirkan Yanti dan sekeluarga, tapi kenapa kamu malah sengaja memprovokasi mereka?"


Vivi menoleh dan menatapku dengan tatapan kosong, "Apa maksudmu bantu aku singkirkan mereka?" Dia meletakkan pisau dan garpu, lalu berbalik dan menghadapku, "Kakakku yang baik, anak mereka yang sebenarnya adalah kamu, bukan aku. Orang yang tubuhnya dialiri darah yang sama dengan wanita di luar itu juga kamu. Siapa yang kamu bantu sekarang? Jangan sok baik, bisa? Kalau kamu benar-benar mau bantu Ayah dan Ibu, tidak mau buat mereka marah, kamu bisa pergi ke desa dan menjadi anak Yanti, kamu bisa rawat Yanti dan Herman. Kamu juga bisa didik adik yang tiap beberapa hari dibawa masuk penjara itu! Untuk apa kamu terus menyalahkan aku? Aku hanya telepon Yanti untuk melampiaskan emosiku, itu saja tidak boleh?" Vivi berbalik dan lanjut makan lagi, berpura-pura menggelengkan kepalanya tak berdaya, "Kenapa selalu ada orang yang tidak tahu diri... "


Tidak tahu diri... Tiga kata ini sepenuhnya menyadarkan aku akan status dan identitasku dalam keluarga ini. Benar. Sejak Vivi muncul, identitasku sebagai Wenny Tanoko pun sudah tidak sah lagi. Perhatian orang tuaku teralihkan kepadanya. Pernikahan yang awalnya telah dijanjikan juga mendapat penolakan mentah-mentah dari calon mertua. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku bahkan berpikir untuk membantu Ayah dan Ibu mengatasi masalah-masalah yang menjengkelkan ini, tapi apa yang aku terima sebagai imbalan hanyalah hinaan dan ketidakacuhan.


Tepat ketika aku berusaha tetap sabar, Vivi mengambil ponsel sambil bergumam, "Bukan aku mau mempersulit kamu, tapi jelas-jelas ada solusi yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini." Vivi menekan tiga angka 110 di layar ponsel. Aku langsung merebut ponselnya, "Kamu mau memperbesar masalah lagi? Sekarang Herman terbaring sekarat di luar, Vendi dikurung di penjara, tetapi kamu malah mau memanggil polisi ke rumah kita? Kamu mau mempermalukan Ayah? Apa kamu tahu Ayah sangat mementingkan citra dan reputasi diri!"


Vivi mematikan layar ponsel dan tersenyum padaku, "Oh, ternyata kamu tahu pro dan kontra masalah ini!"


"Apa maksudmu?"


Vivi berdiri, "Tidak bermaksud apa-apa. Kamu urus sendiri masalah keluargamu, aku mau istirahat dulu, besok aku harus temani Ayah lagi."


Vivi langsung naik ke atas tanpa menoleh ke belakang lagi, sementara Yanti menggedor pintu dengan semakin keras.


Jika terus dibiarkan seperti ini, agaknya polisi akan datang sendiri tanpa harus diundang. Nantinya kalau berita ini terdengar oleh Ayah dan Ibu, mereka pasti akan marah lagi. Mereka juga akan menyalahkan aku karena tidak menangani masalah dengan baik.


Tak berdaya, aku pun membuka pintu.


Yanti berhenti ribut. Melihat aku membukakan pintu, dia buru-buru menarikku keluar, "Cepat bantu aku bawa Herman masuk, dia hampir mati kedinginan!"


Aku menepis tangannya, "Jangan cari masalah lagi, oke? Aku akan memberimu uang, 2 miliar, sepeser pun tidak akan kurang! Aku akan cari orang untuk keluarkan Vendi dari penjara besok! Aku juga akan cari panti jompo untuk Herman. Jangan ganggu kami lagi, boleh tidak!"


Aku sendiri tidak sadar air mataku mengalir tak terkendali ketika aku mengucapkan kata-kata itu dengan sambil berusaha keras mempertahankan ketenanganku.


Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Mungkin karena terlalu marah, mungkin karena kesedihan yang tertampung selama beberapa hari ini. Yanti tercengang. Dia menyingkirkan sikapnya yang memaksa, lalu menunjuk ke dalam ruangan, "Vivi ada di dalam, kan?"


Aku tidak jawab, tapi Yanti mengerti maksudku.


"Baguslah, yang penting dia di rumah. Aku tidak akan mempersulit kamu. Kamu cukup carikan tempat untuk aku dan herman. Gudang atau garasi, terserah, yang penting bisa berlindung dari hujan. Aku sudah tidak punya tenaga untuk menyeretnya pulang kembali."


Menghadapi kompromi Yanti, akhirnya aku bisa menghela napas lega. Hal terpenting sekarang adalah membereskan Herman dengan baik. Aku takut terjadi apa-apa padanya di rumah ini. Kalau dia benar-benar meninggal di sini, orang tuaku yang percaya akan hal mistis pasti bakal langsung pindah rumah.


Aku mengosongkan garasi halaman belakang, membiarkan Yanti dan Herman menetap sementara waktu di sana. Kemudian aku ambil dua selimut dari dalamrumah, tidak lupa sekaligus membawakan sedikit makanan dan air hangat.