You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 164



Beberapa saat yang lalu.


Siang itu beberapa polisi datang ke rumah sakit. Mereka langsung menanyakan keberadaan Michelia di lobi rumah sakit tepatnya di bagian informasi dan mengutarakan maksud kedatangannya yang hendak menangkap dokter itu dengan tuduhan utama menyalahi kode etik sebagai seorang dokter.


Tanpa mereka semua sadari, asisten Michelia yang kebetulan lewat mendengarnya dan saat itu juga ia langsung kembali ke ruangan. Dia melaporkan apa yang didengarnya di lobi kepada wanita ular itu.


"Dan para polisi sudah ada di depan Dok. Mereka hendak menuju kemari," lapor si asisten yaitu salah satu perawat rumah sakit yang sudah satu tahun ini menjadi asisten Michelia.


Michelia membelalakkan matanya karena terkejut, didatangi polisi adalah hal diluar ekspektasinya.


"Buka bajumu!" perintahnya kepada perawat itu.


"Eh, un-untuk apa Dokter?" tanya si perawat tergagap.


"Cepatlah, jangan buang waktu lagi! Apa kamu tuli," bentaknya.


"Ba-baiklah." Dengan takut-takut si perawat itu itu membuka pakaiannya dan pakaian tersebut langsung disambar Michelia.


"Bajumu akan kupakai. Kamu pakailah baju pasien. Ambil kursi roda di dekat ranjang dan juga kunci motormu sekarang juga!"


Michelia melemparkan pakaiannya ke bawah meja dan menggantinya dengan pakaian perawat tadi, memakai topi perawat dan juga menutupi wajahnya dengan masker bedah.


"Cepat kamu naik ke kursi roda dan beraktinglah seperti orang sakit! Aku harus melarikan diri," teriaknya dengan suara meninggi membuat si perawat itu berjengit kaget.


"Ta-tapi Dokter." Si perawat tersebut hendak menyanggah karena merasa takut ikut terseret dalam arus masalah Michelia dengan para polisi.


Akhirnya perawat tersebut mengikuti semua perintah Michelia. Ia duduk di kursi roda dengan tas mahal Michelia dipangkuannya yang kemudian ditutupi selimut.


Dengan tenang agar tidak ada yang curiga, Michelia yang sudah menyamar memakai pakaian perawat keluar dari ruangannya sembari mendorong kursi roda ke area belakang rumah sakit, dia hendak ke pelataran belakang di mana kendaraan para dokter dan perawat terparkir.


Michelia mengambil langkah seribu begitu berada di lorong sepi yang terhubung ke area belakang dan sampailah mereka di tempat yang dimaksud.


"Mana kunci motormu!"


"I-ini Dokter." Perawat itu menyerahkan kunci motornya.


Dengan tergesa-gesa Michelia mengambil sebuah bungkusan dari dalam mobil mewahnya dan menyimpannya di bagasi motor, tak lupa tas mewahnya dibungkusnya dengan kantong keresek berwarna hitam kemudian diletakkannya di kaitan depan motor.


"Ini uang untuk mengganti motormu. Mulai dari sini kita urus diri kita masing-masing." Michelia menyerahkan segepok uang kepada perawat tersebut kemudian langsung tancap gas meninggalkan mobil mewahnya demi melarikan diri dari sana.


*****


Sudah tiga toko perhiasan yang didatangi Ratih dan hasilnya semuanya sama. Hasil uji ketiga toko tersebut menyatakan bahwa berlian yang dibawanya palsu.


Ia keluar dari toko ketiga dengan langkah gontai. Sekujur tubuhnya lemas, uang sejumlah hampir lima milyar rupiah melayang begitu saja ditukar dengan barang yang tak bernilai.


Tiba-tiba tubuhnya limbung dan ambruk kemudian pingsan tak sadarkan diri, membuat si sopir yang sejak tadi setia mengantarnya kelabakan dan berteriak meminta tolong.