You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bonchap 3



Napas Wira berembus berat. Akibat aksinya sendiri dirinya mulai tersiksa, dilanda desakan yang menjalari seluruh aliran darahnya. Bahkan kepalanya kini berdenyut hebat, akibat dari hasrat yang disulutnya sendiri. Ulah tangan nakalnya yang berjalan-jalan menyingkap baju terusan sang istri kemudian mengelusi kulit bokong hingga naik ke punggung Dara, menghantarkan gelenyar dahsyat yang selalu berhasil menyeretnya dalam arus tegangan tinggi tak tertahankan.


Dara masih fokus memicingkan mata hingga kedua alisnya nyaris bertemu saat mencukur di bagian dagu, menggulirkan pisau cukur tajam itu sehati-hati mungkin, mengambil sudut presisi yang pas memastikan rupa tampan suaminya tak tergores sedikit pun.


Ditaruhnya pisau cukur tersebut ke dalam gelas stainless steel berisi air yang tersedia di sisi westafel. Mengambil handuk kecil yang tak jauh dari jangkauan tangan kemudian dibasahi menggunakan air hangat. Disekanya rahang Wira secara keseluruhan menggunakan handuk basah tersebut, tak lupa after shave dibubuhkan di telapak tangan lalu ditepukkannya lembut ke wajah sang suami.


”Nah, sudah selesai.” Dara mengecup rahang Wira yang kini bebas dari bulu-bulu halus.


“Aku mandi dulu ya, mau siap-siap.” Dara hendak mengurai pelukan, tetapi Wira menariknya lembut. Menenggelamkan wajah ke leher Dara, menghirup aroma wanitanya dalam-dalam. Hidung mancung dan bibir basahnya mulai berlarian di sana, menciptakan gelenyar bercampur geli yang membuat Dara tertawa kecil seraya sedikit berjengit menjauhkan wajah.


“Dasar bibir nakal!” Dara menepuk-nepuk bibir Wira gemas menggunakan telunjuknya. Wira tak menjawab, memilih memandangi istrinya lekat seolah tengah menelanjangi melalui tatapan mata elangnya yang kini berkabut dibalut gairah.


Bukannya menyahuti. Wira makin menunduk dan menarik tengkuk Dara hingga bibir mereka bertemu. Menyesap rasa manis candunya yang tak pernah lekang oleh waktu. Dara mendesah mengambil napas diterjang serangan tiba-tiba, tak lama kemudian ia mampu mengimbangi gerakan bibir Wira yang semakin rakus melahapnya.


Keduanya terengah. Atmosfer kamar mandi mendadak naik beberapa derajat menguarkan hawa panas yang berasal dari dua manusia yang tengah memupuk pohon cinta mereka agar bertumbuh subur. Supaya batangnya kokoh, daunnya lebat juga rindang, lalu berbunga indah, kemudian berbuah manis.


Wira menggeram kala meninggalkan bibir ranum favoritnya yang kini terbuka meraup oksigen. Mulai turun menghidu dan mengecup lembut leher putih jenjang Dara untuk memuja, bukan hendak melukis meninggalkan jejak.


“Aku … aku mau man-mandi dulu, Mas.” Dara berucap tersengal. Jujur saja api yang disulut Wira mulai ikut membakar dirinya, ditambah hormon kehamilan membuatnya sulit mengontrol diri.


“Kita mandi bersama,” bisik Wira sensual ke telinga wanita hamilnya.


“Tapi nanti aku terlambat,” protes Dara sambil berusaha menjernihkan otaknya yang kini mulai keruh oleh rayuan senyar gairah, padahal dirinya tengah diburu waktu.


“Ini takkan lama. Aku sudah sepenuhnya mendidih,” desis Wira penuh janji ke telinga Dara.


Pesona dan rayuan suami tampannya memang sangat sulit ditolak. Dara pasrah kala Wira meraup keliman baju terusannya di kedua sisi kemudian meloloskannya melalui kepala, dilanjutkan dengan mencampakkan kain lainnya yang menghalangi. Ia juga menurut saja kala Wira menariknya ke bawah shower.


Kucuran air menerpa kulit mereka. Wira memeluk Dara dari belakang mengelusi perut buncitnya. Mata keduanya memejam dengan tangan saling meraba. Deru napas jantan dan feminin berpadu di udara.


Akhirnya Wira memilih membawa Dara tenggelam dalam bathub saat dirasa kaki Dara mulai melemah akibat sentuhan ahlinya. Wira masuk terlebih dahulu ke dalam lautan air bercampur busa beraroma lavender itu, disusul Dara yang duduk di atas pangkuannya. Keduanya melebur di sana penuh kelembutan demi kedamaian si bayi kembar di dalam kandungan. Tak menggebu, tetapi tetap bergelora.


*****