You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 193



"Maassss... Mas Wira...."


Dara menangis pilu meraung-raung tak tertahankan sembari memeluk tubuh kaku yang ditutupi kain putih itu. Si dokter yang menghampirinya tadi melongo melihat reaksi Dara, begitu juga dengan para perawat yang masih berada di sekitar ranjang. Mereka saling melempar tatapan kebingungan satu sama lain.


"Mas... bangun Mas. jangan begini, ayo bangun! Hiks hiks," racaunya sembari mengguncangkan tubuh tersebut.


Tempat tidur pasien di unit gawat darurat rumah sakit itu ditata berjejer dengan diberi sekat gorden tinggi berwarna putih pada setiap ranjangnya. Kemudian terdengar suara khas gorden yang tersibak di sisi kiri dari arah ranjang yang bersebelahan dengan posisi di mana Dara tengah menangis, seseorang turun dari sana dan menghampiri.


Ia menepuk-nepuk punggung Dara, tetapi kemudian ditepis oleh si cantik yang masih terisak itu tanpa menoleh ataupun melihat siapa yang ada di belakangnya. Tak hanya sekali orang itu menepuk punggung Dara, akan tetapi responsnya tetap sama.


"Sayang...."


Dara menghentikan tangisnya sejenak, masih dengan isakan yang tertahan serta mata basah karena terhalangi air mata dia menatap nanar tubuh kaku yang terbaring itu.


"Bahkan sekarang... aku merasa mendengar suaramu, apakah Mas memanggilku dari alam sana? kenapa... kenapa Mas tega meninggalkanku hiks... hiks...." Bukannya berhenti, justru Dara malah menangis semakin kencang.


Sebuah rengkuhan seseorang memeluknya dari belakang, rengkuhan hangat nan lembut dari lengan yang sebelah telapak tangannya dibalut perban. "Sayang... aku di sini."


Telinga Dara kembali mendengar suara pria yang teramat dicintainya, ia masih meronta ingin melepaskan diri sebelum mengerjapkan mata karena merasa familiar dengan aroma parfum yang menguar dari tubuh hangat nan kokoh di belakangnya.


Ragu-ragu ia menolehkan kepala ingin melihat sosok yang memeluknya, mengusap matanya yang buram dan memokuskan penglihatannya. Seketika tangisnya berhenti, ia terdiam termangu tak bersuara, lalu tangannya terulur menyentuh wajah tampan itu untuk memastikan.


"M-mas Wira...." lirihnya


"Mas... Mas...." Hanya satu kata itu yang terus terlontar dari mulutnya diiringi tumpahan tangisan kelegaan serta rasa syukur, seseorang yang sangat berarti baginya masih bernapas dengan jantung yang masih berdetak merdu seirama dengannya.


Wira merengkuh tubuh gemetar Dara makin merapat dengannya, sebuah tawa kecil terdengar ringan dari pria tampan itu di susul teman dokternya serta para perawat lainnya yang bereaksi serupa. Mereka memaklumi reaksi histeris Dara yang mengira jasad pasien serangan jantung tadi adalah suaminya.


Ratih dan Haris yang baru memasuki ruangan tersebut ikut merasakan kelegaan yang sama seperti Dara, melihat putra tersayangnya masih berdiri kokoh tengah memeluk istri kecilnya.


*****


Wira dan Dara duduk di kursi penumpang. Sopir yang tadi membawa mobil Haris mengemudikan mobilnya karena telapak tangan kanannya terluka dan masih terasa berdenyut sehingga menyulitkannya untuk memegang setir. Sementara Haris mengemudikan sendiri mobil yang tadi dipakainya untuk berangkat bersama Ratih dan Dara. Mereka berjalan beriringan dan langsung pulang menuju kediaman utama Aryasatya.


"Kenapa mengira yang terbaring kaku tadi adalah aku?" Wira bertanya kepada Dara yang bersandar menempel di dada bidangnya tengah menenggelamkan wajahnya di sana.


"Aku sangat panik dan mataku buram oleh air mata sehingga tidak bisa melihat dengan jelas, pikiranku juga kacau saat mendengar Mas terluka. Ditambah lagi dokter yang memperkenalkan diri sebagai teman Mas yang mengangkat teleponku, berdiri tepat di sisi ranjang tersebut membuatku langsung berkesimpulan begitu. Aku... aku sangat takut terjadi hal buruk padamu Mas." Butiran-butiran bening itu kembali luruh dari bola mata cantiknya yang kelopaknya mulai membengkak.


"Maaf, membuatmu terkejut dan khawatir." Wira menghujani puncak kepala Dara penuh sayang untuk menenangkan.


"Tapi, kenapa tangan Mas bisa sampai terluka begini, apa yang terjadi?" tanya Dara penuh selidik.


"Terjadi hal yang tak terduga di perjalanan pulang tadi sore, akan kuceritakan nanti sesampainya di rumah," sahut Wira lembut sambil mengulas senyum.