You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 117



My beloved readers jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, biar author makin semangat nulisnya 😄, terima kasih 🙏💕💜


********


"Sayang, buka pintunya. Ini kubawakan rujak yang kamu mau." Wira mengetuk karena pintunya dikunci dari dalam oleh Dara.


"Pergi! Aku lagi gak mau ngomong sama Mas. Pasti Mas bohong kan?" teriak Dara dari dalam masih dengan sedu sedannya.


"Buka dulu dong sayang, aku nggak bohong. Ini beneran rujak yang di pinggir jalan itu," bujuknya tetap lembut berharap Dara luluh dan mau membukakan pintu untuknya.


Ceklek....


Akhirnya Dara membukakan pintu walaupun masih dengan wajah cemberut.


"Lihat, aku nggak bohong kan." Wira menunjukkan bungkusan yang dibawanya.


Dara memperhatikan dengan seksama dan itu memang benar adalah rujak yang diinginkannya. Wajahnya yang asalnya cemberut seketika berubah ceria karena permintaannya dikabulkan.


"Boleh masuk?" tanya Wira masih di ambang pintu karena Dara hanya membukakan pintu sedikit saja.


Dara mengangguk dan membuka lebar pintu kamar mereka memperbolehkan suaminya untuk masuk. Ia mengambil bungkusan dari tangan Wira dengan antusias kemudian duduk di sofa dan membukanya.


Pria itu hendak memanggil bu Rina untuk menuangkan rujak tersebut ke mangkuk saji, tetapi Dara merengek dan ingin memakannya langsung dari kemasan berupa cup plastik yang menjadi wadah bawaannya.


"Aku ingin memakannya langsung dari wadah ini." Dara mulai kembali berkaca-kaca.


"Iya, iya sayang. Baiklah, ayo dimakan." Wira benar-benar belajar banyak mengalah kali ini, menghadapi istri yang hamil muda ternyata harus banyak bersabar.


Rujak tersebut habis tak bersisa hanya dalam hitungan menit, Dara benar-benar melahapnya seperti orang yang kelaparan, bahkan dalam setiap suapan dan kunyahan ia tampak begitu bahagia. Setelah isi wadah rujaknya kosong, Wira yang duduk di sebelahnya menyodorkan segelas air putih kepadanya.


"Minum dulu sayang."


Dara meminumnya hingga tandas, ia tersenyum senang kemudian bergelayut manja kepada Wira.


"Makasih Mas," ucapnya tersipu-sipu seakan lupa bahwa tadi sempat mengamuk. Wira tersenyum lebar dan merangkul Dara ke dalam pelukannya.


Dara menggeleng dan balas memeluk suaminya. "Tapi ini yang mau dedeknya lho, bukan aku," sahutnya ngotot.


"Iya sayang, dedeknya yang mau." Wira terkekeh.


"Aku ingin mandi, sedari tadi kesana kemari membuatku berkeringat. Jika lelah tidurlah lebih dulu, jangan menungguku oke." Wira mengecup puncak kepala Dara penuh sayang kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Iya Masku sayang." Dara kembali bersikap manis setelah permintaannya terpenuhi.


*****


Setelah bersua dengan guyuran air Wira kembali merasa segar, hanya saja begitu keluar dari kamar mandi matanya terbelalak karena mendapati Dara sudah berada di depan pintu dengan handuk kecil ditangannya.


Sebenarnya penyambutan Dara setelah ia mandi merupakan hal rutin akhir-akhir ini, tetapi yang membuatnya kaget adalah pakaian yang dikenakan istrinya itu.


Dara memakai lingerie seksi berwarna hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya, bahkan belahan dadanya terlihat jelas karena lingerie itu memiliki model bagian leher yang sangat rendah.


Wira menelan ludahnya, apakah Dara tidak sadar bahwa tampilannya saat ini menyiksanya? Kata-kata Raisa tadi siang masih terngiang-ngiang di telinganya, tetapi istrinya itu seolah memprovokasinya. Wira memalingkan pandangannya ke arah lain berusaha meredam hasratnya.


"Mas, nunduk dong. Aku susah ngeringin rambutnya," pinta Dara.


"Ehm... i-iya sayang." Wira menundukkan kepalanya sembari menutup matanya rapat-rapat, karena jika matanya terbuka maka ia akan langsung disajikan dengan belahan indah gunung kembar menggoda milik istrinya.


Dara seakan tak mau berkompromi, setelah mengeringkan rambut suaminya tangannya malah mengelus-elus dada bidang itu. Wira yang masih memejamkan mata kemudian menggeram menahan gairahnya.


"Sayang, kumohon jangan begini. Aku bisa lupa diri, ingat pesan dokter tadi siang kan?"


Dara menempelkan pipinya di dada Wira dan memeluk tubuh kokoh tersebut. "Aku mau kamu Mas," desahnya manja.


"Tapi sayang_" Wira menyela dan membuka matanya dengan desisan hasrat yang makin menggelitiknya.


"Dokter bilang masih bolehkan asalkan tetap berhati-hati. Dedeknya kangen dijengukin Papa." Dara mendongak menatap Wira penuh harap.


Melihat tatapan sayu istrinya runtuhlah sudah pertahanannya, di detik kemudian ia menundukkan wajahnya menyatukan bibir mereka dan memagutnya penuh hasrat membara. Malam itu kembali diisi dengan kegiatan ranjang yang bergelora, tetapi mereka tetap melakukannya dengan berhati-hati tanpa mengurangi luapan cinta yang semakin terjalin kuat dengan kehadiran si buah hati di antara keduanya.