
"Saya mencintainya, saya juga tidak ingin Giovani mengalami hal seperti ini. Maaf... maafkan saya Tante," sahut gadis muda itu dengan suara tersendat sambil berurai air mata.
"Maaf kamu bilang? ribuan kata maafmu tidak bisa membalikan keadaan dan membuat putraku kembali utuh seperti semula, cinta bodohmu membuat semuanya hancur berantakan." Napasnya tersengal, kemudian ia menyambung ucapannya.
"Aku akan memaafkanmu, tetapi dengan syarat tinggalkan putraku sekarang juga! Kamu hanya pembawa sial untuknya. Sadarlah, bahwa semua kejadian buruk yang menimpa putraku adalah kesalahanmu," serunya dengan suara lantang tanpa belas kasihan, padahal seseorang di hadapannya hanyalah gadis muda belia yang lemah.
"Saya tidak bisa Tante, kami saling menyayangi, tolong jangan seperti ini," mohonnya.
"Semuanya terserah padamu, tetapi jika bersikeras, kupastikan bahwa kamu akan berakhir mendekam di dalam penjara bersama penjahat yang telah menyerang putraku tadi. Akan kukatakan pada polisi bahwa sebenarnya kamu bekerjasama dengan komplotan perampok itu untuk mencuri mobilnya serta mencelakai Giovani. Hanya saja, bagaimana perasaan ayahmu mendengar kabar ini? betapa kecewanya dia jika mendengar anaknya menjadi seorang kriminal di usia muda, ditambah lagi masa depanmu akan suram, karena catatan hitam sebagai mantan narapidana akan terus melekat padamu hingga akhir hayatmu," ancamnya.
Gadis muda itu terkesiap, dia dilanda kebimbangan dan ketakutan yang amat sangat, nyalinya luluh lantah. Hatinya sangat mencintai Giovani, tetapi ia juga tidak mau mengecewakan ayahnya, sang ayah menaruh harapan besar padanya sampai menyekolahkannya ke kota besar di salah satu sekolah menengah atas terbaik di negeri ini.
Mantan narapidana?
Baru mendengarnya saja mampu membuat sekujur tubuhnya bergidik ngeri, Almira merasa tak mampu jika harus memikul beban seberat itu seumur hidupnya.
Almira mungkin memang pengecut, tetapi, tak ada yang bisa dilakukan gadis belia itu selain menyerah. Dia hanya seorang diri di kota besar ini tanpa kekayaan dan kekuasaan, dengan berat hati akhirnya ia memilih untuk memutuskan jalinan asmaranya dengan lelaki yang dicintainya, walaupun keputusannya itu menusuk jiwanya hingga ke dasar.
Giovani yang saat itu masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, kecewa luar biasa ketika sang pujaan hatinya menyatakan sudah tidak bisa meneruskan hubungan cinta mereka. Bahkan Almira dengan kejam mengatakan bahwa selama ini dia tidak pernah tulus mencintainya dan memang sengaja mendekatinya hanya karena ingin memanjat status sosialnya.
Almira pulang ke kota kecilnya, meminta kepada ayahnya untuk memindahkan sekolahnya ke kota asalnya saja dengan alasan karena tidak bisa menahan rindu pada sang ayah dan juga adiknya Dara. Walaupun awalnya sang ayah keberatan, tetapi Almira berhasil membujuk ayahnya untuk mengabulkan permintaannya.
Sejak saat itu, Almira selalu dihantui rasa bersalah karena telah meninggalkan dan menyakiti hati Giovani. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena ketidakmampuannya memperjuangkan cintanya, semuanya dipaksa harus berakhir, membuat dirinya juga Giovani sama-sama terluka teramat dalam.
Flashback end
*****
"Al... Almira?"
Almira tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu, bahkan kakinya terasa kaku tak bisa digerakkan sama sekali.
Giovani melangkah mendekat, ia ingin memastikan penglihatannya bahwa yang ada di hadapannya bukanlah ilusi semata.
"Ini benar kamu? akhirnya... akhirnya aku menemukanmu Al." Tanpa aba-aba pria itu langsung memeluk Almira dengan erat hingga membuatnya merasa sesak.