You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 177



"Kalau sudah sampai di rumah kabari aku." Wira sudah berada di parkiran dekat mobil mewahnya yang berwarna putih yang biasa dikemudikan Pak Jono untuk mengantar Dara bepergian.


Dara mengangguk dan tersenyum cantik, sebelum membuka pintu dia berjinjit dan mengecup mesra pipi Wira sembari tersipu kemudian berbisik.


"Selamat bekerja suamiku sayang. Aku akan menunggu Mas pulang dan kita lanjutkan nanti malam yang tadi tertunda," desahnya menggoda berbalut hasrat tertahan yang masih tersisa karena kegiatan panas tadi.


Hormon kehamilannya membuatnya mudah sekali bergairah ketika pria yang dicintainya itu memesrainya. Wira terkekeh dan merangkul Dara kembali, mengecup kening dan hidung bangir istrinya dengan gemas.


"Beristirahatlah di rumah dan tunggu aku."


Dara mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil di kursi penumpang. Membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangannya seolah enggan berjauhan dengan prianya meskipun hanya sebentar saja, hingga akhirnya mobil tersebut melaju meninggalkan pelataran rumah sakit dan langsung melesat menuju rumah.


*****


Sudah sepuluh hari semenjak pelariannya dan belum ada tanda-tanda kabar baik dari orang tuanya. Sehari yang lalu Michelia kembali menghubungi ibunya barang sejenak dengan nomor yang berbeda, tetapi ibunya memberi informasi bahwa sang ayah masih mengusahakan mencari jalan untuk membebaskannya dari semua dakwaan yang dilayangkan kepadanya.


Ibunya mengatakan permasalahan kali ini tidak sesederhana yang pernah mereka alami sebelumnya, berurusan dengan keluarga Aryasatya membuat ruang geraknya sangat terbatas.


Para pejabat kolega ayahnya yang biasanya menyanggupi untuk membantu dengan iming-iming rupiah, kini seakan ketakutan untuk bersentuhan dengan kasus tersebut, karena orang-orang di atasnya sudah lebih dulu berkoordinasi dengan Haris yang mempunyai koneksi mengakar di kalangan pejabat tinggi.


Awalnya Haris tak ingin menggunakan koneksinya, tetapi karena masalah kali ini bukanlah hal yang bisa disepelekan maka dari itu ia menggunakan pengaruh besarnya di pergaulan kalangan atas demi mengadili orang yang telah mencoba mencelakai dan menipu anggota keluarganya.


Michelia tinggal di sebuah rumah kontrakan di dalam gang kecil di daerah terpencil. Sebetulnya dia sangat benci dengan tempat kumuh semacam itu, tetapi jika tinggal di hotel maka keberadaannya pasti mudah ditemukan.


Dia juga membayar dengan mahal kepada pemilik kontrakan agar merahasiakan keberadaannya jika ada yang mencari ataupun bertanya tentangnya, tentu saja si pemilik yang ternyata seorang rentenir itu menyanggupinya, apapun akan dilakukannya demi bergepok-gepok rupiah.


Ia membuka bungkusan besar yang selalu dibawanya kemana-mana dan ternyata isinya adalah bergepok-gepok uang hasil pencairan cek dari Ratih yang ditukar dengan berlian palsunya. Sebagian ia ambil berupa tunai dan sebagian lagi disimpannya di rekeningnya.


Wanita itu tampak lusuh dengan memakai pakaian seadanya, ia berpenampilan begitu agar tidak menarik perhatian meskipun pakaian yang dikenakannya terasa tak nyaman baginya.


Ia biasa memakai barang-barang mewah nan mahal, tetapi kali ini dirinya terpaksa harus memakai pakaian seadanya yang dijual di pasar sederhana dekat tempat kontrakan tersebut.


Michelia keluar dari rumah itu hendak mencari makanan untuk mengisi perutnya. Ia memakai jaket dengan penutup kepala dan juga menggunakan syal untuk menutupi sebagian wajahnya.


Ia pergi hanya membawa dompetnya dan saat kembali setelah membeli makanan alangkah terkejutnya dia melihat rumah kontrakannya di lalap si jago merah.


Michelia mencampakkan jinjingan berisi makanan yang dibelinya tadi, ia berteriak panik dan berlari hendak merangsek masuk ke dalam karena teringat bungkusan uang tunainya masih berada di dalam sana.