You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 7



Aku, Ayah, Ibu, Jerry, serta Yanti duduk mengelilingi meja makan. Vivi tak kunjung terlihat, katanya masuk angin saat mobil mogok tadi malam.


Yanti langsung mengajukan tiga persyaratan yang sudah dibicarakan sebelumnya. Dia mengunyah dengan sikap tidak sopan ketika makan, bahkan terlihat daun sayuran menyangkut di giginya ketika dia senyum, “Dua ratus juta itu kecil sekali bagi kalian. Berikan uangnya ke Vivi, suruh dia pulang ke desa dan minta maaf dengan Hardi, maka janji pernikahannya akan dibatalkan. Tetapi masalah putraku itu sepertinya tidak mudah diatasi, tapi kalian begitu kaya, pasti bisa cari koneksi di kantor polisi kan? Putraku memang bandel, tetapi tidak jahat. Kalian bantulah, bantu keluarkan dia. Sedangkan suamiku yang lumpuh itu, carikan panti jompo yang menanggung konsumsi dan tempat tinggal. Lingkungannya tidak perlu terlalu bagus, mereka hanya perlu mengurusi masalah buang airnya saja. Aku benar-benar tidak ingin melayani dia lagi, aku sudah muak!” Yanti terus mengambil daging dengan kepala tertunduk, semangkuk sup daging pun habis dimakannya. “Babi di kota makan apa saja sih, kenyal sekali dagingnya.”


Yanti makan dengan lahap tanpa memedulikan citranya. Aku, Ayah, Ibu, serta Jerry belum makan sedikit pun. Ayah meneguk setengah gelas arak putih dan berkata, “Aku tahu tidak mudah bagimu membesarkan Vivi sampai sedewasa ini, aku juga sudah mendengar tentang keadaan keluargamu bertahun-tahun yang lalu. Terima kasih telah membesarkan Vivi.” Yanti mencibir, “Sudah dibesarkan selama bertahun-tahun malah bukan anak kandung.” Yanti lanjut makan tanpa mengangkat kepala.


Ayah berkata, “Aku bisa berikan dua ratus juta, tapi jangan suruh Vivi pulang lagi. Anak yang menjadi tunangan itu namanya Hardi kan, nanti suruh Wenny wakili Vivi ke sana. Wenny lebih dewasa, dia bisa mengurusnya dengan baik.”


Hatiku mengerat mendengarnya. Ayah mengambil ponsel dan mencari nomor telepon, lalu berkata, “Aku juga akan membantu sebisanya menyelesaikan masalah putramu, aku akan meminta teman untuk membantu. Tetapi… terkait masalah suamimu, aku bisa bantu kamu membayar biaya panti jompo sekali saja, sedangkan sisanya…”


Sebelum sempat selesai bicara, Vivi muncul di tangga lantai dua dengan piyama sutra yang Ibu hadiahkan padaku di ulang tahun ke-18. Vivi bergegas menuruni tangga, “Atas dasar apa? Kenapa kita harus urus suaminya? Kenapa kita harus urus putranya? Vendi itu preman berandalan, memang seharusnya dipenjara seumur hidup!”


Vivi berteriak keras sampai mengejutkan Ayah dan Ibu. Yanti meletakkan sumpit tanpa merubah ekspresi, lalu melihat Vivi dengan tatapan dingin, “Karena aku yang membesarkan kamu, maka kamu harus urus!”


“Aku bukan putrimu! Ini baru rumahku! Ini baru ayah dan ibuku! Kamu, Herman, dan Vendi adalah lintah darah, bajingan!”


Yanti ingin berlari ke arah Vivi, tetapi dihadang oleh Jerry, hampir saja wajahnya tergores.


Keadaan di rumah menjadi kacau. Tiba-tiba Yanti duduk di lantai dan berlagak seperti preman, “Kalian tidak setuju ya, baik, aku tidak akan pergi kalau begitu! Awalnya aku jalani kehidupan miskinku baik-baik, awalnya Vivi patuh padaku! Lihat sekarang, kalian bawa dia pergi, aku pun tidak punya apa-apa lagi! Apa aku harus minta uang dengan putri kandung yang tidak punya kasih sayang ini? Dia hanya akan lebih kejam dari Vivi!”


Yanti tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya ke diriku. Benar, aku hanya akan lebih kejam dari Vivi.


Ayah pusing sekali. Ibu belum pernah melihat keadaan yang begitu kacau, juga tidak pernah menemui wanita seperti Yanti. Di tengah kepanikan, Ibu mendorong punggungku, “Wenny, bawa dia ke kamarmu dulu, bagaimanapun dia adalah ibu kandungmu, kamu bujuk dia dulu. Aku urus Vivi.”


Ibu membawa Vivi yang emosinya tak terkendali kembali ke kamar. Yanti ingin berlari ke atas, tetapi ditahan oleh Jerry.


Aku terpaku di tempat, sambil memikirkan permintaan Ibu yang menyuruhku membawa Yanti pulang ke desa ala mini juga, dia tidak ingin aku menunda sedetik pun. Aku berpikir dalam hati, jika Ibu tahu apa yang aku alami tadi malam, apa Ibu masih akan menyuruhku pulang ke desa bersama Yanti? Seharusnya tidak… Ibu menyayangiku, setidaknya sebelum kemunculan Vivi, Ibu menganggapku sebagai buah hatinya. Mungkin aku tidak dapat memastikan apakah Ayah dan Ibu masih akan mengusahakan yang terbaik untuk karirku di masa depan, tetapi aku yakin, kasih sayang selama 21 tahun ini bukan palsu.


Aku ingin maju dan menghentikan Yanti, saat ini, Ayah yang duduk sejak tadi tiba-tiba marah. Dia membanting meja makan sampai mangkuk dan piring berguling hingga terjatuh pecah di lantai. Wajah Ayah memerah karena marah, suaranya sedikit bergetar, “Aku terima permintaanmu, tetapi tidak berarti kamu bisa mengancam aku, William Tanoko, apa lagi mengancam Vivi! Jika kamu masih ngotot, jangan harap bisa membawa uang ataupun orang pergi.”


Ayah memang berwibawa. Ayah telah berbisnis seumur hidup, tahu kapan harus melunak dan kapan harus mengeluarkan serangan mematikan. Mungkin dalam setengah jam yang singkat ini, Ayah sudah mengenali karakter Yanti, entah menindas orang lemah dan takut pada orang berkuasa atau sifatnya bijaksana, Ayah sudah punya siasat dalam hati.


Yanti pun tidak ngotot lagi, dia juga takut akan kehilangan uang dan orang, nadanya melembut, “Baik, aku juga bukan orang yang tidak masuk akal. Lagi pula, aku tidak ingin membuat masalah dengan kalian Keluarga Tanoko yang kaya.” Yanti merapikan kemeja motif bunga yang dia kenakan, “Bukannya kalian ingin aku putus hubungan dengan Vivi? Tidak masalah, dia kali ini juga tidak perlu pulang dan lansung menjelaskannya dengan Hardi, biar aku saja. Tetapi kalian harus tambahkan seratus juta untukku. Bagaimana jika keluarga Hardi memeras uangku? Aku wanita desa tak berdaya ini, dipukuli orang juga tidak bisa mengeluh.”


Amarah Ayah belum mereda, “Lalu?”


Yanti bersikap serius, “Lalu keluarkan putraku dari kantor polisi, kemudian urus suamiku ke panti jompo.” Yanti melihat Ayah dengan memasang muka tegas, “Hanya tiga permintaan ini.”


Ayah tidak lagi basa-basi dengannya, “Kamu minta aku carikan panti jompo, kamu langsung sebut saja mau berapa banyak uang, bicarakan dengan jelas sekaligus.”


Mata Yanti berputar dengan cepat, ekspresinya langsung berubah.


“Dua miliar, beri aku dua miliar, aku akan selamanya menghilang dari hadapan kalian.”