
Tangis Fatih pecah meraung-raung menggema memenuhi seisi ruang perawatan. Pelukannya pada Freya semakin mengencang, bahkan air matanya ikut membasahi baju rumah sakit yang dipakai Freya.
Si tomboi itu mengangsurkan tangannya menepuk-nepuk punggung Fatih yang berguncang, mencoba menenangkan si calon dokter yang menangis tak terkendali
seumpama bocah yang kehilangan ibunya.
"Duuh... kok malah nangis. Kamu ini cowok tapi cengeng banget sih," ejek Freya meskipun dengan suara lemah.
Fatih bukannya berhenti menangis, malah semakin meraung dengan air mata yang tumpah ruah. Freya menghela napasnya dan kembali menepuk-nepuk lembut punggung Fatih.
"Udah dong, jangan nangis terus. Nanti kubelikan permen," ujar Freya sembari terkekeh. "Lagian aku sesak kalau kamu terus meluk aku kayak gini," protesnya.
Fatih mengangkat wajahnya yang asalnya terbenam di ceruk leher Freya. Masih dengan air mata berderai juga ingus yang mulai meler dari hidungnya. Menegakkan tubuhnya lalu menyeka air matanya sembarang diiringi isakan sedu sedan.
"Aku... aku kaget tiba-tiba nemuin kamu tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan terluka. Ka-kamu sebenarnya ngapain malem-malem kelayapan sendiri di jalanan sepi sampai jadi kayak gini?" Fatih bertanya masih dengan suara parau bercampur sedu sedannya.
"Bantu aku duduk," pinta Freya. Dengan sigap Fatih membantu Freya duduk bersandar, kemudian ia duduk di tepiannya.
"Aku dicegat gerombolan geng motor. Sebetulnya balapanku sejak sore tadi sudah selesai, tapi di perjalanan pulang ban motorku kempes, jadi aku nyari tukang tambal ban. Tahu sendiri kan kalau udah lewat pukul enam sore tukang tambal ban banyak yang udah tutup, cuma tinggal satu tempat yang buka dan itupun antri, mau tak mau aku antri di situ dan baru selesai jam sembilanan." Freya tampak berhenti sejenak mengambil napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Buat ngehindarin kemacetan aku lewat jalan sepi itu, tapi nggak tahu dari mana tiba-tiba datang empat motor yang nyegat aku. Mereka mengambil paksa motorku dan juga menghajarku. Aku melawan hingga ambruk, dan ketika mereka hendak pergi setelah berhasil mendapatkan motorku akhirnya mereka menyadari bahwa aku seorang gadis, dan setelahnya lima orang laki-laki itu malah nggak jadi pergi dan berniat... berniat_"
Ucapan Freya tersendat, ia mengigit bibirnya dengan bola matanya yang mulai menggenang kemudian tertunduk dalam. Terlihat ia menahan sekuat tenaga sesuatu yang hendak meledak dari dirinya, Freya memang sangat jarang menangis dan selalu terlihat tangguh, tetapi bagaimanapun dia adalah seorang perempuan yang memiliki sisi rapuh seperti para gadis pada umumnya.
"Tak berapa lama aku mendengar deru mesin mobil yang mendekat. Akhirnya mereka segera melarikan diri. Terima kasih... terima kasih sudah menolongku dan datang di waktu yang tepat, kalau tidak aku tak tahu bagaimana nasibku." Freya menyudahi penuturannya dan akhirnya tak urung butiran bening itu mulai luruh dari sudut matanya.
Fatih mengawasi reaksi Freya yang tak seperti biasanya, gadis itu tampak rapuh serta membutuhkan perlindungan. Entah mendapat keberanian darimana, Fatih meraup Freya ke dalam pelukannya sembari mengucapkan kata-kata penghiburan.
"Sekarang kamu sudah aman Frey. Ada aku di sini yang akan selalu melindungimu."
*****
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕.