You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 53



Gadis cantik itu menggeliatkan tubuhnya, menguap dan mengucek matanya, kemudian bangun mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang. Matanya yang masih belum terbuka sempurna melirik ke arah jarum jam, dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh pagi.


Dara baru menyadari bahwa dia terbangun di atas ranjang, padahal seingatnya dirinya duduk di tepian tempat tidur karena Wira yang sedang sakit memintanya untuk menemani hingga kemudian dirinya ikut jatuh tertidur. Mungkinkah tanpa disadarinya dirinya merangkak sendiri ke atas tempat tidur? Atau jangan-jangan Wira yang merebahkannya dengan nyaman di atas ranjang? Pikirnya.


"Kenapa kewaspadaanku sangat payah!" keluh Dara terhadap dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya.


Ia mengedarkan pandangannya, tetapi tak menemukan keberadaan sosok yang telah menjadi suaminya itu, Dara segera turun dari ranjang dan bermaksud mencari Wira karena khawatir akan kondisinya, lagipula kemana pria itu pergi pagi buta begini padahal semalam suhu tubuhnya sangat tinggi.


Dara hendak masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar lebih segar sebelum mencari keberadaan Wira, ketika tangannya menyentuh gagang pintu saat itu bersamaan dengan Wira yang baru saja keluar dari sana hanya menggunakan handuk terlilit di pinggangnya. Dara tersentak kaget disuguhkan pemandangan dada bidang tanpa kain penghalang dihadapannya.


"Akhhh... kenapa Kakak tidak memakai baju!" jeritnya sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Eh... a-aku lupa membawa pakaian ganti, karena sebelumnya terbiasa berganti pakaian di kamar," jawabnya sedikit tergagap karena sama-sama terkejut ketika tiba-tiba berhadapan dengan Dara di ambang pintu dalam keadaan belum berpakaian lengkap, secara impulsif tangannya mengusap-usap tengkuknya karena canggung.


Namun, tiba-tiba terlintas ide jahil di kepalanya, Wira melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dara membuat gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang hingga membentur tembok.


Dara panik serta kebingungan dan merasa serba salah antara harus mendorong tubuh tinggi tegap itu atau tidak, sementara Wira semakin mendekat kepadanya. Jika dia melakukannya, maka telapak tangannya akan langsung bersentuhan kulit dengan dada telanjang pria itu, tetapi jika tetap dibiarkan maka dirinya akan semakin terdesak dan tubuh mereka dipastikan menempel satu sama lain tanpa jarak.


Wira mendaratkan sebelah telapak tangannya di dinding dekat wajah Dara, kemudian ia sedikit membungkuk dan berbisik tepat di telinganya.


"Bukankah kamu sudah pernah melihatnya hmm? bahkan kamu menyeka dan menyentuh tubuhku tadi malam, tapi kenapa sekarang malah berteriak?" Godanya dengan sengaja.


"Se-semalam itu keadaan darurat, jadi sama sekali tidak bisa disamakan dengan sekarang! Menjauhlah dariku! Lagipula... lagipula seharusnya Kakak meminta maaf padaku tentang apa yang terjadi semalam!" Dara memalingkan wajahnya sambil mengigit bibirnya karena jantungnya berdetak tak karuan ditambah wajahnya yang mulai memanas saat selesai mengucapkan kalimatnya.


Ia merasa benar-benar bodoh kenapa harus menyebutkan kejadian semalam padahal dirinya sama sekali tak ingin membahas tentang ciuman yang tak terduga itu.


"Memangnya apa yang terjadi semalam hingga membuatku harus meminta maaf kepadamu? coba sebutkan." Wira berpura-pura lupa, padahal bayangan semalam itu terus berputar berulang di kepalanya.


Semburat merah sedikit demi sedikit merebak di tulang pipinya dan dengan pasti merambat hingga ke leher jenjangnya, Wira yang merasa berhasil menjahilinya terkekeh geli melihat Dara yang merona. Namun, semakin dipandang lama kelamaan gadis itu tampak makin menggemaskan, ditambah tubuh kokohnya yang menghimpit tubuh mungil Dara nan hangat itu menciptakan percikan reaksi yang tak biasa, hingga mampu membangkitkan hasrat kelelakiannya yang tertidur perlahan-lahan naik ke permukaan.


Wira memundurkan tubuhnya ketika dirasa ada hal yang tak seharusnya memberontak di dalam dirinya, kemudian berbalik dan dengan suara rendah ia berkata.


"Maaf, tentang yang semalam, aku lepas kendali," ucapnya dingin kemudian melangkah menjauh menuju ruang ganti meninggalkan Dara yang masih mematung di sana dengan detakan jantung yang menggila.