
Ratih membeku tak bereaksi, ia terdiam layaknya sebongkah batu, pikirannya mencoba mendustakan apa yang didengarnya. Dia sungguh keras kepala dan masih ingin menyangkal meskipun bukti perbuatan kotor Michelia sudah jelas tersaji di hadapannya.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin jika semua berlian ini palsu, pasti kalian tidak becus memeriksanya. Ulangi sekali lagi!" Ratih berteriak dan melempar kertas hasil uji ke wajah si pria pelayan toko.
"Kami sudah mengujinya dua kali Nyonya, untuk memastikan agar hasilnya tidak keliru. Tapi tetap saja dari dua kali test yang kami lakukan hasilnya sama, berlian ini palsu," jelasnya berusaha tetap tenang penuh kesopananan.
"Pasti alat uji di sini kualitasnya rendah. Sepertinya kualitas toko ini sudah menurun tidak seperti dulu lagi. Aku akan membawanya ke tempat penjual perhiasan yang lebih besar dan lebih mewah dari toko ini karena aku tidak percaya dengan hasil uji di sini. Sangat mengecewakan!" hardiknya penuh amarah kemudian berlalu pergi setelah menyemburkan semua kata-kata kasarnya.
"Kasihan ya Nyonya Ratih, pasti beliau bereaksi seperti itu karena terkejut. Entah siapa yang berani menipunya dalam jumlah besar seperti itu," ucap seorang wanita seumuran Ratih yang baru saja keluar dari ruang uji perhiasan, yang tak lain adalah pemilik toko tersebut.
"Iya Bu, sepertinya beliau shock. Tadi saya sempat melihat kwitansi yang terlipat di dalam kotak perhiasannya. Satu set berlian palsu itu dibanderol dengan harga empat ratus ribu dollar," timpal si pria muda pelayan toko sambil menggelengkan kepalanya.
"Semoga pelakunya segera tertangkap, agar tidak ada lagi korban-korban selanjutnya," sahut si pemilik toko.
Mereka berdua menghela napasnya berat kemudian kembali mengerjakan aktivitas toko yang tadi sempat tertunda.
*****
"Selamat Dokter, operasi Anda sukses lagi." Fatih memberi selamat dengan bersemangat. Mereka berdua baru kembali ke ruangan Wira setelah selesai membersihkan diri pasca melaksanakan prosedur bedah.
"Terima kasih."
Wira tersenyum puas kemudian membanting tubuh lelahnya ke atas sofa, ia menaruh lengan kanannya di atas dahi kemudian memejamkan mata.
"Pergilah, aku tak ingin memesan apapun. Hanya butuh tidur sejenak," sahut Wira masih dengan mata terpejam.
"Baiklah Dokter, selamat beristirahat." Fatih segera berlalu dari sana menuju kantin dengan langkah seribu, perutnya benar-benar lapar karena melewatkan sarapan akibat drama mobil mogoknya tadi pagi.
*****
Tepat saat Wira hampir saja terjatuh dalam tidur lelapnya, terdengar suara ribut orang berlarian menuju ruangannya.
"Dokter... Dokter. Fatih dan Raisa langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Wira dengan napas tak beraturan.
"Beberapa saat yang lalu... polisi... polisi datang untuk menangkap Michelia. Tapi... si j*lang itu tiba-tiba tidak ada di tempat. Sepertinya dia melarikan diri," jelas Raisa dengan napas tersengal-sengal.
Wira tersentak bangun dan kantuknya sirna seketika. "Bagaimana bisa dia kabur. Tidak mungkin informasi penangkapan ini bocor ke pihak luar. Padahal aku sudah memastikan agar semuanya dilakukan tanpa kegaduhan."
"Entahlah Wira. Yang pasti sekarang polisi sudah ada di lobi rumah sakit. Sebaiknya kamu temui dulu para polisi, kepala rumah sakit juga sedang berbincang dengan mereka," jawab Raisa.
"Kalian pergilah dulu. Aku akan menghubungi seseorang." Raisa dan Fatih mengangguk dan segera beranjak pergi dari sana.
Wira mengambil ponselnya yang terletak di meja kerjanya kemudian menelepon seseorang. "Kerahkan bodyguard terbaik kalian untuk memperketat penjagaan di rumahku. Jika ada indikasi Michelia mendekati kediamanku segera laporkan padaku! Jangan sampai lengah, dia jadi buronan polisi sekarang," perintah Wira tegas.
"Baik Tuan."