You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 109



Wira masuk dan menutup pintu, baru satu langkah ia berjalan hendak duduk di tepian ranjang terdengar suara Dara yang mengaduh kesakitan.


"Awwhhh...."


Secepat kilat Wira menghampiri sumber suara, dia mendapati Dara sedang duduk menghadap cermin di meja riasnya dengan tangan memegangi kepalanya.


"Ada apa sayang?" tanya Wira panik.


"Ah, aku nggak apa-apa Mas. Barusan aku mencoba menyisir rambutku hanya saja kulit kepalaku masih terasa sakit bersentuhan dengan sisir ini." Dara menunjukkan sisir yang dipegangnya sambil mengulas senyum di wajahnya yang memucat.


Wira mengangsurkan punggung tangannya di sisi wajah istrinya penuh sayang, tentu saja kulit kepala Dara masih terasa sakit akibat bekas jambakkan Ratih tadi.


"Boleh kubantu? aku akan berhati-hati." Wira meminta sisir dari tangan Dara, menuntunnya dan mengajaknya untuk berpindah duduk ke tepian ranjang.


Wira duduk di belakang Dara dan menyisir surai panjang itu dengan perlahan agar tidak menyakiti istrinya, meskipun sesekali Dara meringis dan mengigit bibirnya menahan rasa sakit yang berdenyut ngilu di kepalanya.


Setelah memastikan rambut Dara tak kusut lagi Wira meletakkan sisir tersebut, ia memeluk tubuh mungil itu dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari istri kecilnya.


Dara memejamkan mata, meresapi setiap waktu kebersamaan mereka yang sangat berarti baginya. Menyandarkan kehidupan jiwa dan raganya kepada pria yang telah mempersuntingnya, pria yang menjadi suaminya dan tak lama lagi akan menjadi ayah dari anaknya.


"Maaf, maafkan aku," ujar Wira dengan suara serak.


"Maaf buat apa? Mas nggak punya salah apapun sama aku," jawab Dara kemudian ia memiringkan kepalanya bertopang pada kepala Wira yang sedang menengelamkan wajah tampannya di ceruk lehernya.


"Maaf, karena aku datang terlambat dan tak bisa melindungimu," ucapnya berat karena menahan luapan kesedihan yang mencekat di tenggorokannya.


"Kala itu situasinya berbeda dan aku bisa memahami permintaanmu. Saat itu akupun masih merasa asing karena tiba-tiba harus berubah status menjadi suami istri denganmu," sahut Wira penuh pemakluman.


"Waktu itu aku terlalu pengecut, tapi yang kutakutkan akhirnya terjadi juga, aku takut dengan respons keluarga besar Mas ketika mengetahui semua kebenarannya ditambah lagi hubungan kita saat itu berbeda jauh dengan sekarang. Tetapi kini aku tak ingin jauh darimu dan selalu ingin bersamamu, aku membutuhkanmu Mas. Kamu adalah kekuatanku, asalkan bersamamu aku yakin bisa menghadapi apapun yang terjadi kedepannya." Dara mengurai pelukan suaminya, mengubah posisinya menjadi berhadapan dan tangan Wira bergerak menyelipkan untaian rambut Dara ke belakang telinganya.


"Tentu saja kita akan menghadapi semua masalah yang ada bersama-sama. Namun, harus kuakui sejak hari pertama kita menikah entah mengapa kamu bisa membuatku merasa tenang ditengah mimpi buruk yang berlalu lalang serta hiruk pikuknya hatiku dengan luka dan air mata. Bukankah malam itu kamu yang menyelimutiku? padahal aku bersikap kasar padamu sebelumnya tetapi kamu tetap peduli padaku," tutur Wira panjang lebar.


"Tahu darimana kalau aku yang menyelimuti? seharusnya waktu itu kubiarkan saja Mas kedinginan karena telah membentakku." Dara mengerucutkan bibirnya.


"Ketika di villa malam itu aku belum benar-benar terlelap, jadi aku tahu kalau kamu yang menyelimutiku ketika rasa dingin itu semakin menusuk ke tulang, hanya saja karena gengsi membuatku enggan berterimakasih. Bolehkah jika aku berterima kasih sekarang? dan aku minta maaf karena telah membentakmu tanpa memikirkan perasaanmu waktu itu." Terselip nada penyesalan di sela-sela kalimatnya.


"Permintaan maaf Mas tidak sah karena sudah kadaluarsa!" sahut Dara cemberut.


"Jadi aku harus bagaimana agar istriku ini mau memaafkanku? seandainya Doraemon mau meminjamkan mesin waktunya aku akan kembali ke hari itu dan memulai semuanya dengan benar," ujarnya dengan wajah memelas.


Dara tersenyum geli, lalu kemudian ia memeluk suaminya hingga tak ada jarak tersisa diantara mereka dan Wira balas merengkuh tubuh mungil itu hingga makin merapat kepadanya.


"Aku sudah memaafkanmu Mas. Semua itu sudah berlalu, anggap saja sebagai pelajaran hidup agar kita bisa memetik hikmah dari sana. Karena pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjuangan yang sebenarnya. Yang penting sekarang kita hadapi masa depan bersama, aku, kamu dan anak kita," ucap Dara penuh keyakinan dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Kamu benar. Apapun yang terjadi, aku, kamu dan anak kita harus selalu bersama."