
“Hati-hati di jalan, Mas.” Dara mengantar Wira hingga ke dekat mobil hitam favorit suaminya yang sudah terparkir menghadap gerbang pagar tinggi rumahnya.
“Seharian ini aku akan sangat sibuk, jika ada hal penting segera kirimkan pesan walaupun mungkin aku telat membalasnya. Ingat, selalu perhatikan kondisimu saat pergi ke butik nanti.” Wira berpesan dengan raut wajah serius.
“Iya, jangan khawatir. Selamat bekerja, Papa.” Dara memasang senyum manisnya.
“Aku berangkat, I love you.” Wira mendaratkan kecupan sayangnya di kening Dara kemudian tangannya terulur mengelus perut buncit istrinya itu menyapa si jabang bayi. “Papa bekerja dulu putri kecilku, jaga Mamamu ya.”
Mobil sport edisi terbatas itu langsung dinyalakan oleh si pemiliknya, Wira membuka sedikit kaca jendelanya dan melambaikan tangan yang dibalas hal serupa oleh Dara, lalu beberapa saat kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan pelataran rumah megah tersebut.
Dara kembali masuk ke dalam rumah, namun tak berapa lama dia kembali lagi ke garasi sambil menenteng tas cangklongnya dengan Bu Rina yang mengekor di belakangnya.”Pak, kita berangkat sekarang,” pinta Dara kepada Pak Jono yang sedang mengelap kaca mobil putih yang akan dipakai untuk pergi ke butik.
“Eh, i-iya Nyonya. Tapi bukankah ini masih terlalu pagi? butik bayi yang hendak Anda kunjungi biasanya baru buka sekitar pukul sepuluh, sedangkan sekarang baru jam tujuh tiga puluh,” jawab Pak Jono keheranan.
“Lupakan tentang butik. Aku ingin pergi ke suatu tempat, ke luar kota. Mumpung masih pagi sebaiknya kita berangkat sekarang agar sore nanti aku sudah berada di rumah lagi sebelum Mas Wira pulang dari rumah sakit.”
“Memangnya Anda mau pergi kemana? Tuan hanya berpesan untuk mengantarkan anda ke butik bayi bukan ke tempat lain. Maaf Nyonya, saya tak ingin mengambil resiko karena Tuan sudah mewanti-wanti.” Pak Jono menolak permintaan Dara karena tidak sesuai dengan titah yang diberikan Wira kepadanya. Tuannya itu sudah berpesan sejak kemarin malam supaya tidak bepergian kemanapun lagi selain butik yang dimaksud.
Meskipun pola pikirnya lebih dewasa dari orang-orang seusianya, tetapi tetap saja terkadang perasaan dan emosinya lebih mendominasi mengalahkan nalarnya di saat-saat tertentu. Dara sudah tak sabar lagi jika harus terus menunggu kejelasan mengenai orang tua kandungnya, dia sudah menanti belasan tahun lamanya untuk mengetahui dari mana asal usulnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku naik taksi saja. Bu Rina, ayo kita berangkat.” Dara menekuk wajahnya kesal dan hendak melangkah ke depan gerbang.
“Nyonya, sebaiknya untuk pergi keluar kota ditunda dulu saja ya. Saya mohon, ingatlah akan kondisi Anda.” Bu Rina berusaha mengingatkan dan membujuk nyonya mudanya yang sedang merajuk.
“Tapi saat ini kumerasa baik-baik saja, aku yang paling tahu kondisiku sendiri. Kenapa kalian semua di rumah ini memperlakukanku seperti orang sakit? tidakkah kalian lihat sekarang aku begitu sehat,” protes Dara sambil mendesah frustrasi.
“Maafkan kami Nyonya, tapi Tuan sudah berpesan kepada kami untuk menjaga Anda sebaik-baiknya. Tolonglah, demi kebaikan semuanya,” bujuk Bu Rina tak menyerah.
“Baiklah, aku mengerti. Aku tak akan melibatkan kalian.” Dara merogoh ponselnya dan menelepon layanan taksi online. “Saya pesan taksi sekarang juga, akan saya kirimkan alamat lengkapnya.”
Bu Rina melempar tatapan kebingungan kepada Pak Jono, mereka tak mungkin membiarkan Dara pergi menggunakan taksi sendirian, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dengan berat hati akhiranya mereka meminta Dara untuk membatalkan pesanan taksi onlinenya dan mengambil resiko kemurkaan Wira karena menyanggupi permintaan nyonya mudanya yang tidak sesuai dengan rencana awal.
“Ayo Pak, jangan membuang waktu. Berangkat sekarang!” titah Dara tak sabaran dan Pak Jono pun segera tancap gas melajukan kendaraan yang dikemudikannya.