You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 275



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca.... 💕💜


*****


Akhir pekan ini para pelayan di kediaman Wira sibuk berlalu lalang. Setelah sekian lama ruangan balet kembali dibuka, beberapa ahli di bidang desain interior juga bangunan didatangkan ke rumah itu. Wira meminta ruangan balet ditata ulang agar lebih rapi dan nyaman untuk Dara menggeluti hobinya, dan juga meminta dipasang peredam suara di rumah besarnya.


Dulu, Wira membangun rumah itu ketika dirinya masih membujang dan memilih untuk tidak memasang peredam karena merasa tak perlu, lagipula yang mengisi rumah itu semuanya adalah orang dewasa. Namun, kini situasinya berbeda, sekarang Selena memanglah masih bayi, tetapi semakin hari anaknya akan semakin besar dan dia tak ingin suara-suara erotis kala dirinya dan Dara bercinta terdengar oleh Selena nantinya.


Dara sibuk berbincang dengan orang-orang yang menata ruang balet agar didesain seperti keinginannya. Sedangkan Wira sedang bermain bersama Selena di ruang keluarga, tawa lucu Selena terdengar begitu renyah di seisi rumah ketika sang Papa menggelitiki perutnya. Wira tak henti-hentinya menciumi Selena yang begitu menggemaskan, dia menempatkan putri kecilnya tengkurap di dada bidangnya.


Dara hanya menggeleng-gelengkan kepala dan terkekeh pelan, setiap hari libur Wira pasti asyik bermain dengan Selena, menempel seperti perangko. Suaminya itu tak ubahnya seperti anak kecil yang lengket dengan mainan kesukaaanya.


Dari arah garasi terdengar derap langkah memasuki rumah, rupanya Ratih dan Haris yang datang di hari libur itu untuk menyambangi anak dan cucunya disusul para pelayan yang mengangkut setumpuk mainan dari bagasi mobil untuk Selena yang dibelikan Ratih. Dara menyambut kedatangan mereka dan semuanya langsung menuju ruang keluarga.


“Selena… Oma kangen,” ucap Ratih yang baru saja memasuki ruang keluarga dan langsung menghambur menghampiri sang cucu.


Ratih merentangkan tangannya dan Selena bergumam-gumam lucu khas bayi dengan senyum lebarnya, pertanda ia senang melihat neneknya datang. Ratih langsung meraup sang cucu dan membawanya duduk di pangkuannya.


“Tumben rumah ramai sekali?” tanya Haris kepada Wira karena kediaman putranya tak setenang biasanya.


“Hanya sedikit perbaikan rumah, Yah,” sahut Wira sembari menyesap kopi yang baru saja disajikan Bu Rina.


“Bu-bulan madu?” Suara Dara mengambang di udara disertai semburat merah di wajah cantiknya.


“Kalian belum sempat berbulan madu setelah menikah bukan? Wira, ajaklah Dara pergi honeymoon, mumpung masa cuti kuliahnya belum berakhir. Biar Selena bersama Ayah dan Ibu. Kalian pergilah menikmati waktu berdua.” Ratih menimpali sembari tersenyum penuh arti kepada putranya.


“Ah… benar juga. Sayang, kamu ingin pergi berbulan madu kemana?” Wira langsung bersemangat mendengar usulan kedua orang tuanya.


Awalnya Dara merona mendengar kata bulan madu, tetapi begitu terpikir akan berjauhan dari bayi mungilnya hatinya terasa berat. “Aku… aku tak yakin pergi. Aku tak bisa berjauhan dengan Selena. Lagipula aku ingin menyusui ASI ekslusif untuk bayiku. Maaf,” desahnya seraya menunduk merasa tak enak hati kepada mertua juga suaminya.


Ratih dan Haris tersenyum penuh pemakluman. Sebagai sesama wanita Ratih paham apa yang dirasakan Dara karena dia juga pernah menjadi seorang ibu.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita sekeluarga pergi berlibur? sekalian kalian berbulan madu,” usul Ratih.


“Ide bagus, Bu. Sudah lama sekali kita tidak berlibur bersama, sepertinya liburan akan terasa semakin menyenangkan sekarang dengan adanya Dara juga Selena.” Haris menjawab antusias.


“Gimana, sayang?” Wira menggenggam tangan Dara yang duduk disebelahnya. “Kalau kamu keberatan jangan dipaksakan,” sambungnya lagi.


Liburan keluarga? Mendengar kata itu hatinya menghangat menyeruak. Terakhir kali liburan keluarga ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Waktu itu Arif, Almira dan juga dirinya berlibur ke Yogyakarta mengunjungi situs-situs bersejarah, terasa amat menyenangkan. Tak dipungkiri ia merindukan momen berlibur bersama keluarga dan orang-orang tersayang.


“Aku… setuju,” sahut Dara sambil tersenyum merekah.


“Mengenai tempatnya, kamu ingin pergi kemana? adakah tempat yang kamu suka?” tanya Wira.


“Kuserahkan pada Mas, Ayah dan Ibu untuk memilih tempatnya. Kemanapun itu asalkan bersama-sama aku selalu menyukainya.”