
Ayah dan anak dengan kemiripan hampir sembilan puluh persen itu kini tengah duduk berhadapan di sebuah restoran Jepang.
Aura cemerlang Wira selalu menyihir dan mengintimidasi dimanapun dia berada. Membuat degupan jantung para kaum hawa berdetak menggila disertai tatapan mendamba.
Begitu juga dengan Haris. Meski tak muda lagi, tetapi kharisma yang terpancar darinya begitu kuat menguar ke sekitarnya.
Para pelayan restoran yang rata-rata adalah wanita, tak luput dari terpaan gelombang pesona Haris dan Wira. Di ruangan belakang ketika para koki tengah bergumul dengan menu yang dimasaknya, para pelayan malah berebut ingin terpilih sebagai pramusaji yang menghidangankan makanan ke hadapan dua pria beda generasi itu.
Berbagai menu makanan sudah tersaji di hadapan keduanya. Wira mengambilkan sumpit dan memberikannya kepada Haris yang diterima dengan sukacita oleh sang ayah.
Haris benar-benar merindukan momen langka seperti ini. Bisa makan berdua saja dengan putranya terasa seperti kembali ke waktu di mana Wira masih remaja. Haris menyantap makanannya dengan lahap, sementara Wira karena efek dari suasana hatinya yang gundah gulana selera makannya ikut menurun. Padahal menu yang tersaji adalah makanan favoritnya.
Kini mereka tengah menikmati teh hijau khas Jepang selepas menyantap makan siangnya.
Haris tampak begitu bahagia, terlihat dari raut wajahnya yang dipenuhi rona gembira.
"Nak, untuk persiapan pestamu sudah dalam tahap delapan puluh lima persen. Ayah akan mengurus semuanya sesuai keinginanmu tanpa kekurangan suatu apapun," ucap Haris disela-sela menyesap tehnya.
"Aku yakin jika Ayah yang mengurus semuanya maka hasilnya akan sempurna."
"Yah, ada hal penting yang ingin kusampaikan. Ini mengenai Ibu." Nada bicara Wira mulai terdengar lebih serius.
"Ibumu? ah, kamu tidak usah khawatir. Tentang masalah ibumu yang keras kepala itu Ayah sedang berusaha untuk melunakkannya. Mau tak mau ibumu harus menerima. Sekeras apapun dia menampik semua kenyataan ini, tetap saja ia tak bisa menolak suratan takdir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Karena semua yang terjadi di kehidupan kita tak luput dari campur tangan Tuhan di dalamnya. Jadi kamu tenang saja dan percayakan semuanya kepada Ayah," ucap Haris meyakinkan putranya.
"Tentang hal itu aku selalu yakin Ayah adalah yang terbaik dalam menanganinya meskipun terkadang sulit. Tapi ada hal penting lainnya yang ingin kusampaikan karena kali ini ibu benar-benar sudah kelewatan." Wira mengembuskan napasnya berat.
Haris mengerutkan keningnya samar lalu kemudian dia berkata, "Ceritakan semuanya pada Ayah. Ulah apalagi yang dibuat oleh ibumu tanpa sepengetahuanku."
Wira memaparkan panjang lebar semua yang diketahuinya, ia juga memberikan salinan rekaman Dara yang bercerita kepada Freya. Wira juga memberitahukan tentang rencananya membuka kedok Michelia di hadapan ibunya.
Haris memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, pak tua itu sungguh dibuat geram dengan niatan istrinya yang ingin mengambil cucunya dan memisahkannya dari ibunya.
Serta rencana Ratih yang ingin Michelia mengasuh bayi itu nanti sungguh membuatnya tak mengerti dengan jalan pemikiran istrinya. Memisahkan seorang bayi dari ibu kandungnya secara paksa untuk diasuh oleh wanita lain adalah sebuah tindakan keji.
"Ayah akan membantu menangani ini. Takkan kubiarkan semua ini terjadi. Sekarang jangan terlalu khawatir dan fokuslah pada istrimu yang tengah hamil," ucapnya dengan senyuman penuh kasih sayang.
"Terima kasih Yah. Setelah semua bukti kebusukan Michelia terkumpul aku akan menghubungi Ayah dan datang langsung ke hadapan ibu. Aku butuh berkoordinasi dengan Ayah untuk menangani hal ini. Bagaimanapun juga aku ingin agar Ayah, Ibu, aku dan Dara. Bisa saling menerima sebagai keluarga, hidup selaras dan menyongsong bahagia bersama."