
"Istri Anda... m-maksudnya wanita cantik ini dulu adalah anak asuh di sini? be- benarkah?" Si kepala panti tercengang. Ia masih tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Matanya memaku menatap Dara, melihat dari ujung kepala hingga kaki.
"Be-benarkah, dulu Anda adalah anak asuh kami, Nyonya muda?" Wanita yang sudah berumur itu bertanya kepada Dara.
"Benar. Nama saya Dara, Anandara. Dulu saya diadopsi oleh keluarga Pak Arif, apakah Anda masih ingat? karena itu sudah sangat lama," jelas Dara.
Kepala panti tampak termenung, berusaha mengingat-ingat tentang anak yang bernama Dara, beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah lebih cerah, sepertinya dia mulai mengingatnya.
"Dara si rambut kusut?"
"Iya, benar." Dara tersenyum dan mengangguk.
Mereka pun saling bercerita panjang lebar bercengkrama melepas rindu, termasuk tentang kepergian Arif juga Almira, ayah dan kakak angkat yang mengadopsinya dulu. Wanita berumur itu juga mengucapkan selamat atas pernikahan dan kehamilan Dara, ikut mendo'akan yang terbaik untuk ibu dan bayinya. Setelah beberapa saat membahas banyak hal, Dara kembali menyinggung perihal orang tua kandungnya.
"Jadi, saya sangat ingin tahu siapa orang tua kandung saya. Apakah mereka masih hidup atau telah tiada? Jika masih hidup... di manakah mereka berada sekarang, jika sudah tiada di manakah pembaringan terakhirnya," jelas Dara dengan nada sedikit bergetar. Wira mengusap-usap punggung Dara lembut, berusaha menenangkan istrinya yang dilanda luapan berbagai macam rasa.
Kepala panti menghela napas dan tampak sedikit kebingungan. "Sebetulnya, mengenai asal usul identitas asli anak asuh di sini semuanya dirahasiakan. Jika sudah diserahkan kepada pihak panti, maka identitas mereka semua berganti menjadi anak asuh di sini. Demi menjaga agar tidak ada kesenjangan dalam interaksi sesama anak panti di kemudian hari. Karena jika mereka tahu asal-usulnya, khawatir akan terjadi senioritas. Akan ada yang merasa dirinya lebih baik lalu menindas anak-anak yang asal usulnya tak jelas." Wanita berumur itu berhenti sejenak.
"Jadi, maksudnya bagaimana?" Dara bertanya dengan tidak sabaran.
"Tenangkan dirimu, sayang," pinta Wira lembut penuh pemakluman.
"Dulu, kamu dibawa kemari oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabatmu. Saat itu usiamu hampir menginjak satu tahun. Dia menyerahkanmu kepada kami dengan alasan sudah tak sanggup lagi mengurus serta merawatmu karena terbentur masalah ekonomi, terlebih lagi suaminya hanya pekerja serabutan dan mereka juga sudah memiliki dua orang anak. Jika kami tak mau menerima, dia mengancam akan menaruhmu di tempat ibadah atau kolong jembatan saja, karena suaminya akan menceraikannya jika kamu masih dibiarkan bernaung bersama mereka. Hanya informasi itu yang kami punya. Tapi ada arsip data diri serta alamat yang pernah di isi oleh orang yang mengaku sebagai kerabatmu, mungkin itu bisa membantu."
Dara menjalinkan jemarinya sendiri dan meremasnya gusar. Ternyata dirinya memang tak diinginkan oleh orang yang mengaku sebagai keluarganya, hanya dianggap beban yang harus disingkirkan. Ada rasa menyembilu menelusup di kalbunya, menciptakan perih tak kasat mata yang bercokol di sana.
Wira menaruh telapak tangannya di kedua tangan Dara yang terjalin. "Kamu yakin, akan meneruskan ini?" Jujur Wira merasa iba setelah mendengar penjelasan kepala panti, pasti Dara terluka dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.
Dara menoleh pada Wira, untuk sesaat mereka hanya bertukar pandang, wajah Dara tampak sendu, tetapi kemudian dia mengangguk mantap penuh keyakinan.
"Tolong... tolong berikan alamatnya," pinta Dara kepada kepala panti.