
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
*****
Bergelung selimut di atas ranjang besar tersebut, keduanya masih meresapi sisa-sisa ledakan dahsyat yang terjadi beberapa saat lalu. Berbantalkan lengan sang suami, Dara melingkarkan tangannya memeluk tubuh kokoh favoritnya, tubuh panas yang selalu membuatnya menggila.
Usapan lembut mengangsur di punggung telanjang Dara, udara di luar memang sangatlah dingin, tetapi suhu panas di ranjang itu mampu mengusir hawa dingin pergi. Keduanya merapat bergesekkan kulit, saling menyerap kehangatan menyenangkan dari tubuh masing-masing.
Wira menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut Dara, menghidu wanginya dalam-dalam, memanjakan indera penciumannya berpesta pora melahap aroma manis menenangkan sekaligus memabukkan.
“Mmhh… aromamu enak, selalu enak,” desah Wira serak.
“Mas, kira-kira Selena rewel nggak ya?”
“Tadi Ibu mengatakan bahwa putri kita bayi pintar yang tidak rewel, tapi kalau ingin lebih yakin kita telepon lagi saja,” sahut Wira penuh perhatian sembari menjumput ujung rambut Dara dan menggulungnya di jemarinya.
“Tapi ini sudah malam, bagaimana kalau mengirim pesan singkat saja?” pinta Dara.
Wira mengambil ponsel di meja samping ranjang. Jemarinya mengetuk-ngetuk layar kemudian mengirimkan pesan kepada ibunya. Tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi dan tertera balasan dari Ratih yang mengatakan bahwa putri mereka tertidur sangat nyenyak, Ratih juga mengirimkan foto Selena yang tengah pulas dalam pelukan Haris.
“Kamu lihat sendiri kan, malaikat kecil kita tengah tertidur dengan damai.” Wira memperbesar gambar di layar dan melihatnya bersama-sama dengan Dara. Dara mengangguk tersenyum simpul, jemarinya mengusap foto Selena penuh sayang kemudian mengecupnya.
“Aku dan Selena sangat bersyukur memilikimu,” ucap Wira penuh ketulusan.
“Kamu mencintai kami dengan sepenuh hati. Terima kasih, telah menjadi istriku juga Ibu dari anakku.” Wira mengusap sisi wajah cantik istrinya kemudian menggesekkan hidung mancungnya dengan hidung bangir Dara mesra.
Selalu dipuja dan dipuji oleh pria yang dicintainya membuat Dara merasa begitu berarti dan berharga. Ia mengeratkan pelukannya, menenggelamkan diri di dada Wira dengan senyum kebahagiaan yang mengembang di wajah cantiknya. “Kalian adalah segalanya bagiku, seluruh duniaku,” sahut Dara.
Butiran salju yang ditaburkan langit semakin lebat menyelimuti Bumi, serupa rasa di hati keduanya yang semakin menyelimuti sanubari satu sama lain. Tak ada celah, semuanya terbalut rapat, dalam satu rasa yang bertautan erat.
Wira juga balas merengkuh tubuh hangat Dara ke dalam dekapan sayangnya. Keduanya hanya terbalut selimut tanpa ada kain lainnya yang menempel di raga masing-masing. Dara mengubah posisi berbaringnya dan Tak sengaja lututnya menggesek pusat tubuh suaminya, lalu saat mencoba kembali mencari posisi lain agar berbaringnya terasa lebih nyaman, lagi-lagi pahanya menyapa benda pusaka Wira yang tak berpenghalang.
“Sayang….”
“Hmm,” gumam Dara.
“Sekarang... aku ingin bermain ski lagi." Wira berkata dengan mata terpejam dan sebelah tangannya mulai menggerayangi punggung Dara.
“Hah, sekarang?” tanya Dara keheranan.
“Aku ingin meluncur lagi menuju lembah,” sahutnya berbalut gairah yang kembali merayap.
“Tapi ini sudah malam, dan salju di luar turun sangat lebat. Juga tentang lembah, bukankah sangat berbahaya bermain ski menuju lembah di kegelapan malam?"
Wira mendongakkan dagu Dara hingga mata mereka bersirobok. “Aku ingin bermain ski di sini, dan juga bukan lembah di arena ski tadi. Tapi yang ini, sayang.” Tangan Wira mengusap lembut sambil lalu dengan gerakan sensual menggoda di pusat tubuh Dara dengan tatapan panas dan seksi.
Seketika semburat merah merebak di wajah Dara saat mengerti arah pembicaraan ini, memukul pelan dada bidang di suaminya membuat si empunya tergelak renyah. Dara terdiam sesaat, lalu tanpa sengaja tangannya mendarat pada sesuatu yang mulai menggembung di bawah sana. Ia kembali menengadah dan menatap mata suaminya yang sedang memaku pandangan kepadanya.
“Ayo, main ski lagi,” ajak Dara sembari mengedipkan sebelah matanya nakal.
Wira tersenyum merekah, ia mendekatkan wajahnya dan langsung melahap bibir ranum Dara penuh hasrat serta gairah membara. Ranjang itu kembali menjadi arena olahraga panas, sungguh bulan madu yang sempurna.