
Akhir pekan telah tiba, pagi-pagi sekali Dara sudah bersiap-siap, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar lalu melangkahkan kakinya ke ruang kerja serta ruang makan mencari Wira untuk berpamitan.
Namun, seperti biasa, Wira sudah tidak ada di rumah. Dia selalu berangkat ke rumah sakit pagi buta seperti yang akhir-akhir ini kerap dilakukannya. Sejujurnya ada rasa kecewa yang menyelinap di hati Dara, tetapi ia segera menepisnya dan kembali fokus pada isi ransel yang akan dibawanya.
Ponselnya berbunyi, isinya adalah pesan singkat dari Freya agar Dara segera berangkat dari rumah karena bus yang hendak membawa mereka ke tempat tujuan akan bertolak tiga puluh menit lagi. Dara membawa tas ranselnya menuju garasi dan di sana pak Jono yang sudah bersiap langsung bergegas mengantarkannya ke kampus.
*****
Wira membolak-balik setumpuk kertas kerja yang ada di hadapannya. Sejak tadi pagi otaknya tak mampu berkonsentrasi, ingatannya terus tertuju kepada Dara yang akan menginap dua malam di luar sana.
Wira melirik jam tangan mewah yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Ia menaruh kembali berkas pekerjaannya dan bermaksud meneruskannya nanti, beruntung pasien yang datang hari ini hanya sedikit.
Ia kemudian beranjak dari ruangannya menuju parkiran, mengendarai mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit untuk sekedar mencari angin dan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggunya.
Namun, tanpa diperintah, mobilnya justru melaju semakin jauh dan mengambil jalur menuju tempat di mana Dara berada. Tak terasa hampir empat jam perjalanan ditempuhnya, hingga akhirnya ia sampai di tempat outbound tersebut diadakan.
Di sana banyak sekali mahasiswa yang tengah duduk berkerumun, Wira turun dari mobilnya dan matanya menjelajah mencari- cari keberadaan Dara. Kehadiran Wira yang sangat mencolok di situ mengalihkan perhatian para gadis, termasuk Anggi yang tengah beristirahat di dekat pohon di mana mobil Wira terparkir.
Anggi langsung bangkit, dengan mata berbinar terpesona dia menghampiri saat melihat Wira ada di sana.
Wira mengangguk sopan kemudian mengulas senyum di wajah tampannya, membuat Anggi dan juga para gadis disana seolah meleleh seperti es krim menyaksikan makhluk ciptaan Tuhan yang terpahat nyaris sempurna.
"Saya sedang ada pekerjaan di sekitar sini dan ingat kalau Dara sedang ada acara kampus di sini juga, jadi saya mampir untuk menyapa," sahutnya memberi alasan, padahal kejadian sebenarnya bukan seperti itu.
"Tadi Dara sedang bersama pak Rifki untuk mengatur kelompok, mungkin sedang ada di sana, dekat tenda para panitia." Anggi menunjuk ke arah tenda besar berwarna hijau gelap.
Saat mendengar nama Rifki, hatinya kembali terasa panas, Wira berusaha mengontrol dirinya dan tetap tenang agar tidak dikendalikan oleh rasa aneh yang kembali menggerogoti hatinya saat nama dosen itu kembali terdengar di telinganya. Itu adalah rasa cemburu, tetapi Wira tak mau mengakuinya.
"Terima kasih atas informasinya." Wira hendak melangkah menuju tenda, tetapi kemudian Anggi menahannya.
"Bagaimana kalau saya temani?" tawar Anggi.
"Tidak usah merepotkan, saya bisa sendiri," tolaknya halus.
Wira segera melangkah menuju tenda besar yang dimaksud, tetapi rupanya Anggi tak menyerah dan malah mengekori mengikutinya dari belakang dengan girang.