You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 127



Operasi yang dipimpin Wira tadi sore berjalan dengan lancar dan sukses. Selama Wira berada di kamar bedah, Dara tak henti-hentinya berdo'a agar apa yang dikerjakan suaminya diberikan kelancaran dan kemudahan.


Beruntung kehamilannya tidak banyak menyulitkannya dalam beraktivitas, biasanya saat pagi hari saja ia sering merasakan mual serta perih di lambungnya. Mual yang dialaminya masih dalam batas wajar, tidak sampai menyebabkan muntah-muntah hebat dan juga obat antisipasi yang diresepkan dokter Raisa sangat banyak membantu untuk mengurangi keluhannya itu.


Namun, ada waktu di mana Dara tiba-tiba menginginkan beberapa jenis makanan yang ingin disantapnya saat itu juga, hanya saja makanannya terkadang tak biasa. Seperti malam ini, Dara ingin makan pisang goreng dengan toping saus cabai, tetapi harus Wira sendiri yang membuatnya.


"Mas, dedeknya pengen makan pisang goreng. Tapi pisang gorengnya pengen buatan Papa," pintanya sambil bergelayut manja.


"Bu-buatanku?" sahut pria itu kebingungan.


Dokter tampan itu lebih terbiasa memegang stetoskop dan pisau bedah, tetapi kali ini ia harus berhadapanan dengan kompor dan wajan penggorengan. Bu Rina sempat membujuk nyonya mudanya agar diizinkan untuk membuatkannya, tetapi bujukan Bu Rina tak berhasil malah menyebabkan Dara semakin merajuk dan hampir menangis.


"Baiklah. Akan kubuatkan." Rasa sayangnya kepada wanita yang sedang mengandung buah hatinya begitu besar, sehingga Wira dengan senang hati menyanggupi permintaan istri tercintanya meskipun ini adalah pertama kalinya ia bergelut di dapur.


Dara tersenyum riang karena permintaannya dituruti dan ikut menemani Wira di dapur. Dengan arahan dari Bu Rina pria tampan itu membuat pisang goreng yang diinginkan Dara.


Dengan telaten Wira mengaduk adonan, mengupas pisang dan menggorengnya meskipun sesekali cipratan minyak mengagetkannya. Ekspresinya saat menggoreng luar biasa horor, ia baru tahu ternyata memasak tak semudah kelihatannya.


Di mata Dara, Wira yang memakai apron sambil memegang spatula terlihat semakin tampan berkali-kali lipat. Membuatnya ingin terus memandangi suaminya yang tengah memasak itu.


Setelah matang, Wira segera menyajikan pisang goreng buatannya kepada Dara. Meskipun ada beberapa yang gosong, tetapi wanita hamil itu malah menatap makanannya dengan berbinar bahagia.


"Oke oke, aku tidak akan membuangnya," sahut Wira penuh pemakluman. Kemudian ia menarik kursi dan duduk disamping istrinya.


Dara menyantap lahap satu persatu pisang goreng itu dengan saus cabai pedas sebagai topingnya, padahal umumnya pisang goreng disajikan dengan toping coklat atau keju. Wira hanya meringis membayangkan bagaimana rasanya, ia menggaruk-garuk kepalanya tak gatal karena ngidam yang dialami istrinya.


"Makasih Papa, pisang gorengnya enak. dedeknya suka," ujarnya sambil mengusap-usap perutnya yang belum membuncit.


Wira ikut meletakkan telapak tangannya di perut sang istri menyapa si jabang bayi, kemudian meraup Dara ke dalam pangkuannya dan merangkulnya penuh sayang.


"Sayang, ayah tadi menghubungi dan memberitahu. Dua minggu lagi acara untuk mengumumkan pernikahan kita akan diadakan. Semua sudah disiapkan, tetapi aku meminta pestanya sederhana saja karena tak ingin kamu yang tengah hamil kelelahan jika diadakan secara besar-besaran," tuturnya.


"Aku ikut saja bagaimana baiknya. Aku tak paham dengan hal-hal semacam itu," jawab Dara yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Mas, dedek pengen sesuatu lagi." Dara mendongak dan menatap Wira dengan wajah menggemaskan.


"Hah. A-apa itu?" Wira kembali dikejutkan dengan keinginan Dara. Perasaannya langsung berubah gelisah, jangan-jangan permintaan aneh lagi seperti yang dilakukan Dara kepadanya akhir-akhir ini.


"Kita ke kamar yuk. Nanti aku kasih tahu." Dara berdiri dan menarik lengan Wira, pria itu hanya bisa pasrah dan mengekori istrinya memasuki kamar utama dengan langkah gontai.