
"Ra... Kak Wira, ka-kalian?"
Anggi berucap tergagap, sedangkan Freya menatap lamat-lamat dua orang berbeda jenis kelamin yang kini saling merangkul mesra satu sama lain dihadapannya.
"Ada apa ini? ke-kenapa kalian seperti ini?" Akhirnya Freya membuka suara. Ia sangat terheran-heran, apalagi setelah diperhatikan cincin yang dipakai Dara dan yang terpasang di jari manis Wira memiliki desain yang mirip, hanya saja yang dipakai Dara lebih menonjolkan sisi feminim.
"Dara ingin mengutarakan sesuatu kepada kalian. Tadinya aku yang hendak menyampaikan, tetapi istriku ingin dia sendiri yang mengatakannya. Iya kan sayang?" Wira meremas lembut bahu Dara sambil menatap wajah cantik itu penuh cinta.
"Tu-tunggu... i-istri? siapa yang istri siapa? apakah aku salah dengar?" Ekspresi Anggi tampak tengah menyangkal semua yang hinggap di indera pendengarannya.
"Frey, Anggi. Aku minta maaf sebelumnya karena baru bisa menyampaikan hal sepenting ini sekarang. Kurasa kini sudah waktunya, sebenarnya aku... aku_" ucapan Dara tertahan sembari menjalinkan jari jemarinya gugup.
"Kami sebenarnya sudah menikah," timpal Wira meneruskan ucapan Dara dengan mata berbinar bahagia.
Freya dan Anggi tercengang. Saking terkejutnya si tomboi Freya menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua telapak tangannya, sedangkan Anggi menatap tak percaya kepada Wira dan Dara secara bergantian.
"Me-menikah? Ini... ini pasti prank kan? kamu dan Kak Wira memang luar biasa ahahaha... di mana kamera tersembunyinya, di mana?" Anggi tergelak dan matanya menjelajah ke setiap sudut berharap bahwa semua ini hanyalah candaan.
"Tidak, kami sangat serius. Ikatan pernikahan bukanlah sebuah lelucon. Aku paham jika kabar ini terlalu mendadak, tetapi sekarang adalah waktu yang tepat karena Dara tengah mengandung anakku. Aku tak ingin ada yang mempergunjingkan istriku di klalayak umum, maka dari itu kuputuskan untuk mengumumkan statusku dengan Dara sesegera mungkin. Kuharap kalian bisa mengerti." Wira menjelaskan panjang lebar.
"Dara ha-hamil? apakah... apakah Kakak menikahinya karena Dara hamil lebih dulu akibat perbuatan tak bermoral yang Kakak lakukan kepadanya?" Freya menatap tajam kepada Wira.
Dara mengurai pelukan Wira, ia mendekati Freya kemudian meraih tangan sahabatnya itu untuk digenggam.
"Nggak Frey, sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan dan tuduhkan. Kami sudah menikah lima bulan lamanya dan aku mencintai Kak Wira sekarang. Akan kujelaskan secara garis besarnya bagaimana akhirnya kami bisa menikah dan tentang alasanku menutupinya selama ini," tutur Dara.
"Jadi semua ini benar? apakah kamu bahagia Ra, dengan pernikahanmu?" tanya Freya sambil menatap mata Dara mencoba menyelami mencari keraguan tetapi ia tak menemukannya.
"Lebih dari bahagia. Aku sangat bahagia," sahut Dara tanpa keraguan sedikitpun.
"Terima kasih Frey, terima kasih sudah mengerti aku."
Freya merangkul Dara dan mereka saling berpelukan penuh haru, sementara Anggi sejak tadi masih mematung di tempatnya berpijak. Ia tak bergeming, pikirannya kacau dah kalut, masih tak mampu menerima kenyataan tentang Wira dan Dara yang telah menikah.
Anggi mundur beberapa langkah kemudian berbalik badan badan dan pergi berlari menjauh. Dara sangat mengerti jika Anggi terkejut, ia hendak menyusul, tetapi Wira segera menahannya.
"Sayang, kamu nggak boleh berlari-lari. Ingat, sekarang kamu itu sedang hamil, aku tak mau terjadi apapun kepada kalian berdua," ujarnya cemas.
"Iya Mas. Maaf, aku lupa," sahut Dara dengan nada menyesal.
"Biar aku saja yang menyusul Anggi," ucap Freya yang kemudian segera berlalu pergi dari sana.
*****
Author note.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih telah membaca 😘💜
With Love,
Senjahari_ID24