You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 243



Pak Jono mengendalikan mobil sambil sesekali bertukar pandang dengan Bu Rina melalui cermin yang terdapat di dekat kemudi. Dia memutar otak bagaimana caranya untuk menggagalkan permintaan Dara yang entah kenapa hari ini begitu keras kepala tak seperti biasanya.


Bu Rina yang duduk di sebelah Dara ingin sekali mengirimkan pesan kepada Wira mengenai hal ini, tetapi karena nyonyanya tepat berada di sampingnya membuat dia tak leluasa untuk melakukannya. Mobil putih Toyota Alphard itu sengaja dikemudian dengan kecepatan rendah oleh si sopir, berusaha mengulur waktu sambil mencari cara agar bisa menghubungi tuannya sesegera mungkin.


"Pak, kenapa mobilnya gini ya jalannya, gak kayak biasanya." Dara bertanya kepada Pak Jono karena merasa sejak tadi kendaraan yang ditumpanginya berjalan terlalu lambat.


"Saya juga tidak tahu Nyonya, coba nanti kita periksa sebentar. Tapi di sini kita agak susah untuk menepi karena jalanan sedang padat jika pagi-pagi begini. Semoga di depan nanti arus jalanan agak lengang," sahut Pak Jono tetap tenang padahal dia memang sengaja melaju sangat lambat.


"Ya sudah." Dara meremas jemari tangannya yang terjalin bertautan, jujur saja terbersit rasa takut juga bersalah menyelinap di hatinya karena telah berbohong kepada suaminya demi menuntaskan rasa penasarannya.


Wajar saja, Dara sudah menanti lama untuk mengetahui siapa orang tuanya. Begitu seberkas titik terang mulai didapatkannya, rasa menggebu-gebu untuk segera mengetahui kebenarannya tak terbendung lagi.


Mobil putih tersebut menepi di jalanan yang agak lengang, mereka baru menempuh sekitar tiga puluh menit perjalanan. Pak Jono segera turun dan berpura-pura memeriksa mesin mobil yang kondisinya sebenarnya tak ada masalah sama sekali. Ia menghampiri kaca jendela kursi penumpang di mana Dara duduk di dalamnya kemudian mengetuk dengan sopan.


"Gimana Pak, apa ada masalah dengan mobilnya?" Dara langsung menyemburkan pertanyaannya.


"Be-begini Nyonya, sepertinya mesinnya sedikit bermasalah. Kita harus mencari bengkel terdekat sebelum melanjutkan perjalanan, apalagi jika menempuh jarak jauh ke luar kota maka kendaraan harus dalam kondisi prima," sahutnya memberi alasan sambil menggaruk-garuk tengkuknya tak gatal.


"Duuuh, kenapa mobilnya harus bermasalah di saat seperti ini," keluhnya.


"Jika dipaksakan takutnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Nyonya," sambung Pak Jono kembali.


"Baik Nyonya." Pak Jono mengangguk sopan dengan seulas senyum lega. Ia melanjutkan kembali perjalanan hingga sampai di sebuah bengkel resmi yang ternyata masih tutup karena waktu baru menunjukkan pukul delapan.


"Nyonya, semua bengkel resmi buka pukul sepuluh. Terpaksa kita harus menunggu hingga waktunya buka," ucap Pak Jono yang duduk di belakang kemudi.


"Apa tidak ada bengkel yang buka lebih cepat? kalau harus menunggu lama banyak waktu yang terbuang percuma," sahut Dara frustrasi.


"Tidak ada Nyonya. Tapi sebentar, saya akan mencoba menghubungi rekan saya yang bekerja di sini, barangkali bisa dibuka lebih cepat dari jadwal biasanya."


"Ya, tolong Pak. Coba telepon saja. Mudah-mudahan bisa," jawab Dara penuh harap.


Pak Jono mengangguk dan turun dari mobil agak menjauh, dia bukan menghubungi temannya, tetapi menggunakan kesempatan ini untuk mengabari Tuannya. Sudah tiga kali kali dia menghubungi nomor yang sama dan tetap tidak diangkat, sepertinya Wira benar-benar sedang sibuk saat ini. Pak Jono akhirnya mengirimkan pesan teks, berharap majikannya segera membaca pesannya tentang niatan Dara yang memaksa ingin pergi ke luar kota untuk mencari sebuah alamat bukannya ke butik seperti rencana awal.


Pak Jono kembali ke dalam mobil dan berusaha tetap tenang di tengah kegugupannya. "Maaf Nyonya, sepertinya kita tetap harus menunggu hingga waktunya buka sesuai jadwal."


Dara mengusap wajahnya gusar dan menarik napas dalam. "Semoga nanti perbaikannya tidak memakan waktu lama," ucapnya lesu yang ditanggapi anggukan oleh Pak Jono.


"Akh...." Dara meringis memegangi perutnya, entah kenapa sejak berangkat tadi buah hatinya terus menendang kencang bertubi-tubi seolah sedang berdemo di dalam sana karena ibunya tak patuh kepada ayahnya.


"Sayangku Anak Mama, tenanglah," gumam Dara sembari mengusap-usap perut buncitnya.