
"Nak Fatih, maaf. Sepertinya tuan sedang beristirahat, mungkin kelelahan karena baru saja tiba beberapa saat yang lalu," ucap Bu Rina.
"Oh iya tidak apa-apa Bu, tolong sampaikan saja berkas-berkas ini kepada beliau. Kalau begitu saya pamit pulang Bu, terima kasih." Setelah berpamitan Fatih langsung pulang undur diri dari sana.
Fatih mengendarai mobil minibus sederhana yang dibelikan orang tuanya sambil bersenandung. Fatih adalah putra kepala desa di sebuah daerah di Jawa Barat, menurut orang tuanya yang penting sebuah mobil itu mesinnya bagus dan bisa melindungi dari hujan, jadi merek atau model dan sejenisnya sama sekali bukanlah prioritas utama.
Baru saja setengah perjalanan dia meninggalkan pelataran rumah megah Wira, tiba-tiba ban belakangnya kempes entah kenapa, Fatih menepikan mobilnya dan segera turun memeriksa.
"Duh... kenapa pake kempes segala sih!" gerutunya.
Fatih mengedarkan pandangannya ke sekitar, teapi tidak terlihat bengkel atau semacamnya yang bisa membantu permasalahan yang sedang dialaminya. Mau tak mau Fatih menyingsingkan lengan bajunya, mengambil dongkrak dan kunci ban serta ban serep dari bagasi.
Ia belum pernah mengganti ban sebelumnya, hanya pernah melihat orang bengkel yang menggantikannya. Ayahnya sengaja menyimpan dongkrak dan kunci ban tersebut di dalam mobil agar Fatih setidaknya bisa mengganti bannya sendiri dalam situasi darurat.
Fatih sudah berulang kali mencoba, tetapi ternyata mengganti ban tidak semudah yang terlihat, dia bersungut-sungut frustasi sambil menendang-nendang ban yang kempes tersebut.
"Kenapa susah banget sih. Arghh... aku kesal," keluhnya frustasi sambil mengacak rambutnya kemudian duduk di pinggir jalan dengan wajah kusut.
Ia lalu merogoh ponsel di sakunya memutuskan untuk memanggil bengkel saja. Namun, suara berisik motor trail yang berhenti tepat di dekatnya mengalihkan fokusnya. Ia terpana, baru kali ini dirinya melihat seorang gadis yang mengendarai motor trail besar dengan piawai, gadis itu turun dari motornya kemudian menghampiri.
"Mobilnya kenapa Bang?" tanya si gadis tersebut yang tak lain adalah Freya.
"Ah, ini... ini ban-nya kempes," sahut Fatih dan segera bangkit dari duduknya.
"Coba kulihat." Freya memeriksa ban yang kempes tersebut dengan seksama.
"Aku... aku belum pernah mengganti ban sebelumnya, tadi sudah kucoba dan ternyata tidak semudah kelihatannya," sahutnya canggung serta malu sambil mengusap-usap tengkuk dan menggaruk ujung hidungnya tak gatal.
"Butuh bantuan? aku bisa menggantinya sekarang, hanya butuh waktu beberapa menit saja," tawar Freya.
"Be-benarkah? kamu bisa menggantinya?" Fatih merasa tidak percaya.
"Tentu saja, aku sudah sering melakukannya, tunggu sebentar," ujar Freya. Kemudian dia membuka jaket dan menaruhnya di atas motor trailnya.
Dengan terampil Freya mengganti ban mobil tersebut, dia sama sekali tak mengalami kesulitan apapun, Fatih melongo melihat seorang gadis dengan mudahnya mengganti ban mobil yang sedari tadi membuat dirinya setengah mati kesulitan saat mencobanya. Ia terpana dan berdecak kagum, dimatanya Freya terlihat lebih cantik berkali-kali lipat dari bidadari manapun saat melakukan aksinya tadi.
Apakah gadis ini belahan jiwaku? gumamnya dalam hati.
"Sudah." Freya menepuk-nepuk ban yang sudah berganti tersebut.
"Su-sudah?" Fatih tergagap.
"Iya sudah, silahkan berkendara dengan aman, permisi." Freya memakai kembali jaketnya dan langsung tancap gas dari sana.
Fatih yang sejak tadi terpana oleh Freya malah tertegun dan baru menyadari gadis itu sudah pergi dari sana setelah mendengar bunyi berisik dari motor trail yang di kendarainya.
"Hey... tunggu," teriaknya sekencang-kencangnya.
Fatih menggerutu, saking terpesonanya dia sampai belum sempat mengucapkan terima kasih. Tetapi dia ingat sempat membaca nama universitas dari jaket almamater yang pakai gadis tersebut, dengan bersemangat dia memutuskan akan datang ke sana saja untuk berterima kasih nanti.