
Sudah hampir satu minggu ini Dara kerap kali datang ke rumah sakit untuk mengunjungi ruang radiologi setiap ada kesempatan di jam istirahat makan siang. Tetapi, ia datang sembunyi-sembunyi agar Wira tidak mengetahuinya, bahkan Dara sering melewatkan jadwal mengisi perutnya karena menggunakan waktu istirahatnya yang hanya dua jam itu untuk datang ke rumah sakit bermaksud mencari informasi lengkap tentang kejadian di hari kecelakaan.
Dara datang dengan mengenakan syal dan kaca mata cupu serta jaket hoodie longgar agar mengecoh orang-orang yang mengenalnya, bahkan ia pernah berpapasan dengan Fatih, tetapi sepertinya Fatih tidak menyadari bahwa itu adalah Dara.
Setiap kali bertanya pada orang-orang di poli radiologi semuanya hanya menjawab tidak tahu, membuat keingin tahuannya bukannya surut tetapi malah membuatnya makin gigih. Seperti siang ini, Dara kembali datang dan hasilnya tetap nihil. Ia keluar dari sana dengan gontai, kemudian melangkah ke arah belakang poli di mana ada pohon besar yang sejuk dengan kursi panjang di bawahnya.
Gadis itu menghela napasnya berat sambil membuka botol minumnya. Ia juga menurunkan syal serta kacamata besarnya dan menaruhnya di pangkuannya.
"Dara... benar kamu Dara?" panggil seseorang membuat Dara menoleh ke arah sumber suara.
Seorang perawat wanita seusia mendiang Almira tergopoh-gopoh menghampirinya dan mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Maaf, dengan siapa ya?" tanya Dara sopan.
"Oh maaf, pasti kamu terkejut. Aku teman mendiang kakakmu, dulu kami menuntut ilmu keperawatan bersama. Mungkin kamu lupa, tetapi kita pernah berjumpa beberapa kali saat aku berkunjung ke rumah kalian ketika aku masih kuliah dulu," jelasnya.
"Mungkin dulu aku kurang memperhatikan, maaf Kak," sahut Dara.
"Tak apa, turut berdukacita atas kepergian Almira," ucap wanita itu.
"Terima kasih." Dara menganggukkan kepalanya.
"Ada hal apa datang kemari? mungkin aku bisa membantu?" tawarnya.
"Ke-kenapa Kak?" tanya Dara canggung karena melihat air muka si wanita itu terlihat resah.
Wanita itu menghirup napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan kencang. "Se-sebenarnya hari itu, aku... aku ada di toilet dekat ruangan dokter Gio saat Almira dan beliau berbincang secara pribadi. Aku masih berada di dalam ruangan ketika semua orang diperintahkan keluar olehnya, jadi aku mendengar semuanya dan tak lama berselang dokter Wira datang hingga akhirnya dia juga mendengar semua percakapan antara Almira dan dokter Gio.
"Berbincang secara pribadi? te-tentang apa?" tanya Dara penuh harap semoga bisa mendapat titik terang.
"Aku akan menceritakan hal yang kutahu, kurasa kamu berhak mengetahuinya karena kamu adalah keluarganya. Aku tidak pernah membicarakan ini kepada siapapun, ditambah di rumah sakit ini semua yang bekerja dilarang membahas kembali tentang musibah tersebut."
Akhirnya Wanita itu menceritakan semua yang didengarnya panjang lebar sampai bagian di mana Almira mengejar Wira yang murka dan di susul oleh Giovani juga.
Dara merasa linglung setelah mendengar semuanya, yang diketahuinya selama ini Almira juga mencintai Wira seutuhnya sebagaimana Wira mencintai kakaknya sepenuh hati.
Di satu sisi Dara merasa marah kepada Wira yang tidak bisa mengontrol emosinya saat itu hingga Almira mengalami kecelakaan, tetapi di sisi lain ia juga merasa iba karena Wira pasti sangatlah terluka karena dua hal, merasa tak dicintai seutuhnya sekaligus kehilangan Almira dari sisinya untuk selama-lamanya.
"Kuharap, kamu bisa menyikapi semua ini dengan bijak, tanpa kita sadari semua yang terjadi pada kehidupan kita sudah di atur oleh yang di atas. Mengenai hidup dan mati seseorang itu adalah takdir, hanya saja bagaimana cara kita dipanggil untuk kembali kepada Sang Pencipta jalannya berbeda-beda, aku hanya bisa mendo'akan semoga Almira bahagia di alam sana. Kamu harus selalu kuat, dan jangan lupa bahagia." Wanita itu menggenggam tangan Dara.
"Sudah waktunya bekerja kembali, aku pamit." Wanita itu undur diri.
Dara mengangguk dan tersenyum tipis, setelah mengetahui semuanya ia tak tahu harus berbuat apa, semua rasa berkecamuk di dadanya menciptakan rasa sesak tak kasat mata seolah mengikat saluran pernapasannya. Tetapi kalimat terakhir yang dikatakan perawat tadi memang benar adanya, lalu apakah pernikahannya dengan Wira termasuk suratan takdir juga? batinnya.