You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 119



Pagi itu Wira datang ke kampus Dara bersama-sama. Wira bersikeras akan memberitahukan hubungan mereka kepada para dosen pengajar di sana dan juga kepada dua sahabatnya. Awalnya Dara menolak karena takut akan respons mereka, tetapi Wira meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan jika perlu dia akan memakai koneksi luasnya yang mengular dimana-mana termasuk di kampusnya Dara.


Calon ayah itu dilanda kekhawatiran yang teramat sangat, mengingat istrinya yang tengah hamil muda ia takut terjadi sesuatu kepada dua hal berharganya. Maka dari itu Wira akan meminta perlakuan istimewa untuk istri tercintanya agar tetap nyaman dan aman selama belajar di sana.


Dara turun terlebih dahulu sementara sang suami mencari tempat memarkirkan mobil mewah edisi terbatasnya di pelataran kampusnya. Bukan hanya kendaraannya yang limited edition, tetap sosok yang turun dari mobil tersebut juga tiada duanya. Auranya luar biasa menyilaukan, wajah rupawan serta barang bermerek yang membungkus raganya membuat para kaum hawa memandanginya mendamba.


Wanita hamil itu merengut dengan raut wajah masam. Matanya berkilat waspada mengamati para gadis yang melihat penuh minat kepada suaminya. Seolah ingin mematenkan kepemilikannya, Dara dengan cepat menghampiri dan menggandeng lengan Wira sambil bergelayut manja. Dengan senang hati pria tampan itu menghela Dara ke dalam rangkulannya dan berjalan bersama memasuki area kampusnya.


Para gadis yang disajikan pemandangan tak terduga itu banyak yang berdecak kesal, ada juga yang menatap tak suka kepada Dara yang dibalas dengan lemparan tatapan maut darinya seakan-akan hendak membumihanguskan setiap netra yang terpesona oleh suaminya.


"Mas, jangan ganteng-ganteng amat bisa gak sih! Bikin para cewek jelalatan tahu nggak?" dengusnya kesal.


"Ahahaha... ternyata kamu baru sadar kalau aku ini ganteng. Tapi mau bagaimana lagi, sejak lahir aku sudah tampak seperti ini." Wira menggedikkan bahunya penuh percaya diri.


Wira berhenti melangkah dan berdiri berhadapan dengan Dara, digenggamnya kedua tangan Dara dengan mesra disusul tatapan penuh cinta.


"Takkan pernah. Aku sudah memiliki seseorang yang mempersembahkan seluruh binarnya untuk sanubari kelamku, tak mungkin kuabaikan lentera berharga yang telah menyinari dan menghangatkan ruangan dingin, gelap serta berdebu di dalam hatiku hanya demi secercah cahaya palsu. Aku sudah sering menemukan manusia semacam itu, yang hanya memandangku karena kelebihan duniawi dan ragawiku. Bukan seperti dirimu yang sudi mencintai serta menerimaku dalam kondisi rapuh dengan luka menyembilu."


Dara terenyuh penuh haru, kalimat Wira menyentuh kalbunya menciptakan senandung rindu. Asanya melambung mengharu biru, seiring senyuman yang terukir dihiasi tatapan sendu.


Dari kejauhan Freya dan Anggi yang baru saja datang merasa keheranan dengan interaksi antara mantan kakak dan adik ipar itu. Bahasa tubuh mereka begitu intim. Sama sekali tidak tampak seperti kakak ipar dan adik ipar, tetapi lebih mirip sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.


Mereka berdua bergegas menghampiri, derap langkah cepat keduanya menarik perhatian Dara yang kemudian menolehkan kepalanya ke arah sumber suara berisik yang makin mendekat kepadanya. Wira mengeratkan rangkulannya kepada Dara dan istrinya itu melakukan hal yang sama membuat dua sahabat Dara mengerutkan dahi mereka dengan raut wajah penuh curiga.


"Ra, Kak Wira... kalian?"