
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕
*****
Segala upaya telah mereka usahakan, tetapi kedua orang tua Michelia benar-benar sudah berada dalam kebuntuan. Entah harus kemana lagi mereka mencari bantuan untuk menyelamatkan anak bungsunya agar terhindar dari jeruji besi.
Ibunya menangis pilu kepada ayah dari anaknya, meminta mencari cara menolong Michelia yang kini terlunta-lunta. Akhirnya ayahnya memutuskan menemui Haris Aryasatya untuk memohon agar mencabut semua gugatan dakwaan kepada putrinya, karena sekarang hanya tinggal itulah satu-satunya jalan yang tersisa.
*****
Hari ini Wira pulang lebih awal dari biasanya. Besok pagi dia mendapatkan tugas dari kepala rumah sakit untuk memimpin seminar di luar kota mengenai vaksin yang ditelitinya bersama tim dokter lainnya.
Ia pulang untuk mempersiapkan semua keperluan dinas selama tiga hari dan juga membicarakan pekerjaan mendesaknya kepada istri tercinta, walaupun sejujurnya Wira merasa berat harus meninggalkan Dara. Selama pernikahan, mereka belum pernah saling berjauhan lebih dari satu hari, apalagi ketika mengingat Michelia masih berkeliaran di luar sana membuatnya merasa tak tenang.
Dara tengah membuat susu khusus ibu hamil di ruang makan. Ia sedikit terperanjat karena dikagetkan oleh sebuah lengan kekar yang tiba-tiba melingkar manis memeluknya dari belakang disusul kecupan di leher jenjangnya
"Good afternoon pretty Mama," bisiknya mesra sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dara.
"Mas ngagetin aja deh, tumben udah pulang?" tanyanya.
"Aku pulang lebih awal karena harus menyiapkan keperluan untuk pekerjaan dinas ke luar kota esok hari, ada seminar selama tiga hari di sana. Sebetulnya berat bagiku harus berjauhan denganmu, aku mengkhawatirkanmu di sini." Wira mendesahkan napasnya berat dengan sorot mata penuh kecemasan.
Dara sedikit termenung, baginya ini juga kali pertamanya harus berjauhan dari suaminya, terselip rasa tak rela membayangkan harus berjauhan tanpa saling menatap, menyentuh serta tidur tanpa dekapan hangat dari tubuh kokoh itu. Semenjak hubungannya dengan Wira layaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya, Dara menjadi ketergantungan dengan sosok tampan sang penjaga hatinya.
Namun, sebagai seorang istri bukankah seharusnya dia mendukung bukan menjadi penghambat karir suaminya? walaupun dengan berat hati Dara harus membiasakan diri dan memahami pekerjaan Wira.
"Pergilah Mas, walaupun aku pasti akan sangat merindukanmu." Dara memeluk tubuh kokoh nan nyaman itu dengan mata terpejam seakan tak rela untuk melepaskannya.
"Aku bahkan sudah sangat merindukanmu saat ini." Wira mengecup puncak kepala Dara dan sedikit mengurai pelukannya.
"Sayang, bagaimana kalau kamu menginap saja di rumah ayah dan ibu selama kepergianku? dengan begitu aku akan merasa lebih tenang dan kamu tidak akan kesepian karena ada ibu yang menemani," usulnya.
Dara yang asalnya cemberut langsung tersenyum merekah dengan mata berbinar bahagia mendengar ide Wira, ia ingin merasakan bagaimana bisa berdekatan dengan sosok seorang ibu yang selama ini tak pernah didapatkannya.
"Beneran aku boleh menginap di rumah ibu?" tanyanya bersemangat.
"Tentu saja. Kamu kelihatannya seneng banget?" Wira memicingkan matanya kepada Dara.
"Aku sudah tak sabar ingin bertemu ibu dan menanyakan banyak hal seputar kehamilan. Kapan kita berangkat? aku akan menyiapkan keperluan untuk menginap sekarang juga."
Dara langsung melepaskan pelukannya dan berlari kecil ke kamar utama, tetapi Wira malah cemberut karena merasa bahwa sekarang istrinya lebih tertarik kepada ibunya dibandingkan dirinya.
Apakah aku bahkan cemburu pada ibuku sendiri? yang benar saja!