You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 187



Plak....


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi si pelayan, membuatnya terheran-heran sembari memegangi pipinya. "Nyo-Nyonya?"


"Memangnya siapa kamu hah? berani-beraninya kamu berbuat seperti itu pada putriku!" suara Ratih menggema murka memenuhi seluruh ruangan.


Dara ikut tersentak kaget ketika menyaksikan kemarahan ibu mertuanya, sehingga pecahan gelas yang sedang dipegangnya menggores melukai jari telunjuknya.


"Aw...." rintihnya.


Secara refleks Dara meletakkan pecahan yang dipegangnya, ia berdiri kemudian menuju wastafel menyiram dengan air di bagian yang berdarah. Ratih yang mendengar suara rintihan Dara langsung teralihkan perhatiannya dan melangkah dengan cepat menghampiri.


"Bagaimana ini?" tanyanya khawatir.


"Aku baik-baik saja Bu, ini hanya luka kecil," sahut Dara lembut.


Ratih sangat terkejut dengan kejadian pagi ini dan tak menyangka si pelayan bisa berbuat di luar perintahnya. Memang benar jika dulu dia sempat memerintahkan wanita itu untuk menganggu kenyamanan Dara di sisi Wira ketika menugaskannya mengambil alih posisi Bu Rina, tetapi sekarang semuanya sudah berbeda cerita.


"Kamu sampai terluka begini. Di mana para pelayan yang lainnya?" teriak Ratih.


Semua pelayan yang tadi menjauh dari dapur langsung datang dengan cepat dan berkumpul di sana begitu mendengar seruan majikannya.


"Kenapa kalian membiarkan Dara berkutat di dapur?" serunya masih dibalut kemarahan.


"Aku yang meminta Bu, bukan salah mereka. Aku ingin membuatkan pancake favorit ibu dengan tanganku sendiri, maaf." Dara merasa tidak enak kepada para pelayan lainnya yang juga ikut tersembur kemurkaan Ratih.


Ekspresi Ratih seketika melembut mendengar ucapan Dara, perhatian Dara kepadanya membuat seluruh sudut hatinya menghangat. "Kamu membuatnya khusus untukku?"


"Iya Bu," Dara mengangguk penuh semangat.


"Di mana pancakenya?" Ratih berkata sambil mengulas senyum.


"Pancakenya baru saja matang. Tapi karena terlalu ceroboh aku malah menyenggol cangkir ketika mengambil piring saji. Maafkan kecerobohanku Bu," sahutnya.


"Itu hanya cangkir, kita masih bisa membeli yang baru," jawabnya penuh pemakluman menenangkan Dara.


"Ayo sarapan dulu," ajak Ratih kepada Dara.


"Sebentar Bu, aku ambilkan dulu pancakenya." Dara mengambil pancake dari atas teflon dan menyiramnya dengan saus stroberi yang sudah tersedia.


"Kamu duluan ke ruang makan, sebentar lagi Ibu menyusul. Hati-hati melangkah Nak." Ratih mengingatkan Dara karena masih ada pecahan cangkir yang tercecer di lantai. Dara mengangguk dan segera berlalu dari sana.


Setelah Dara keluar dari dapur, Ratih kembali mengalihkan pandangannya kepada semua pelayan yang sedang tertunduk ketakutan.


"Kenapa kalian membiarkan Dara mengerjakannya sendirian? bagaimana jika terjadi sesuatu pada menantuku dan juga cucuku," tanyanya sengit kepada semua pelayan.


"Kami tadi sedang membantu Nona membuat pancake, tetapi kepala pelayan memerintahkan kami semua untuk keluar dari dapur," jelas salah satu dari mereka.


Ratih melirik dan memaku tatapan tajamnya kepada si wanita yang tadi berkacak pinggang, membuat pelayan itu melongo tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, terlebih lagi ketika Ratih menyebut Dara sebagai putrinya. Seingatnya nyonya besarnya itu sangat membenci Dara, tetapi sejak kapan semuanya berubah? Masih sembari memegangi pipinya ia kembali berkata.


"Nyonya, bu-bukankah dia itu adalah istri Tuan Muda yang_"


"Cukup!" Ratih memotong ucapan si pelayan.


"Sikapmu benar-benar mengecewakan. Sejak kapan kamu mempunyai wewenang untuk berbuat sesuka hatimu di luar peritahku hah? setelah waktu sarapan selesai kutunggu di halaman belakang untuk mengurus pemecatanmu dari sini. Aku tidak butuh pekerja yang tidak kompeten di kediamanku!" tegas Ratih sembari melangkah pergi meninggalkan dapur.