
Punggung lebar Wira masih berguncang. Tetesan sumber air matanya ikut membasahi baju Dara, pelukannya mengencang diiringi isakan yang dikekang sekuat tenaga agar tidak menyembur keluar dari tenggorokan. Keduanya tak bersuara, hanya irama denting jarum jam juga sedu sedan tertahan membentang di keheningan pagi yang masih terlalu muda.
Dara membetulkan posisinya berbaring. Bergerak melabuhkan kecupan sayangnya di dahi Wira lalu turun ke hidung mancungnya, kemudian bibirnya bergeser mengecupi kedua kelopak mata yang basah itu secara bergantian yang diterima oleh Wira dengan penuh pemujaan laksana ramuan ajaib langka serta berharga sebagai obat penenang jiwanya yang dilanda ketakutan tak terperi.
"Apa Mas ragu bahwa aku bisa?" bisik Dara lembut. Wira menggeleng pelan masih dalam posisi membenamkan wajahnya di ceruk leher Dara.
"Bukankah selama ini aku selalu berusaha untuk menguatkanmu juga, apakah itu tidak cukup untuk membuktikan bahwa aku tak serapuh yang Mas kira?" Dara melanjutkan kalimatnya tanpa menghentikan belaiannya di rambut Wira.
"Akulah yang sangsi terhadap diriku sendiri," jawabnya lirih.
"Kenapa, hmm?"
"Selama ini aku berhasil terlepas dari semua mimpi buruk yang menyiksaku, it-itu... karena adanya dirimu yang selalu menguatkanku. Membaurkan binar cinta tulusmu, menghangatkan dan mengobati sekeping hatiku yang gelap, dingin dan rusak." Ucapan Wira sedikit tersendat efek dari tenggorokannya yang tercekat bercampur tangisnya. "Lalu, apa jadinya diriku jika sumber kekuatanku kehilangan semangatnya. Aku bahkan merasa takkan mampu menopang diriku sendiri, seperti itulah arti dirimu bagiku...."
Dara menghapus buliran yang masih bergumul di netra teduh suaminya, menggulirkan jemarinya lembut serta penuh cinta.
"Dulu, mendiang Ayah Arif pernah berkata padaku. Dalam menyikapi cobaan hidup, kita harus selalu berpikir positif dan percaya bahwa akan selalu ada jalan untuk penyelesaiannya. Itu adalah salah satu hal yang membuat manusia selalu mampu menghadapi masalah yang menerjang. Selama nyawa masih dikandung badan, masalah serta cobaan akan selalu datang dan menghampiri silih berganti tak bisa dihindari. Kuharap Mas selalu jujur dan terbuka padaku sepahit apapun masalahnya, dengan begitu aku tak menerka-nerka juga tak terus menerus berprasangka buruk terhadapmu. Jujur, Itu menyiksaku."
"Aku salah... maaf," desah Wira lirih. Terdengar nada penyesalan sedalam lautan yang membalut kata maafnya.
"Anggap semua ini adalah ujian untuk membuat kita semakin kuat. Jangan lelah untuk berdo'a dan berusaha secara beriringan serta memohon yang terbaik pada Sang Pencipta. Aku percaya Mas pasti bisa," hibur Dara yang disambut anggukan oleh Wira.
"Hasilnya sudah keluar."
Raisa yang baru saja masuk ke ruang perawatan langsung menarik kursi ke dekat ranjang Dara dengan membawa map berwarna biru muda di tangannya.
"Aku akan membacakannya. Kalian sudah siap?"
"Aku siap, Dok." Dara menjawab dengan mantap dan tenang, berbeda dengan Wira yang tampak gelisah dengan wajah memucat dan tangan mendingin.
Dara sudah berbincang dengan Raisa mengenai perkiraan kondisinya saat Raisa mengambil sampel darah juga urinnya tadi pagi. Raisa bahkan tercengang, tak menyangka bahwa calon ibu muda itu ternyata begitu tegar, sangat kontras dengan penampilan fisiknya yang tampak lembut juga rapuh.
Raisa membuka map tersebut, membaca lembaran demi lembaran kertas di dalamnya satu persatu. Hening, tak ada yang bersuara. Wira terus merapalkan do'a dalam hati dan menguatkan dirinya, detakan jantungnya menghantam liar rongga dadanya, menciptakan rasa nyeri nyaris perih yang bercokol di sana.
Raisa menyudahi fokusnya pada kertas-kertas putih tersebut dan mengangkat wajahnya. "Indikasi mengenai hal yang kita khawatirkan sejauh ini tak ditemukan. Hasil uji urin tak menemukan kebocoran protein yang menjadi indikasi positifnya preeklamsia. Sekarang kita bisa sedikit lega," jelas Raisa dengan seulas senyum.
"Mas dengar itu kan?" Dara tersenyum seraya menatap Wira yang sejak tadi tampak gelisah tak menentu.
"Namun, tak ditemukannya indikasi tersebut sekarang ini bukan lantas membuat kita berleha-leha. Berhubung tensimu saat ini masih sering naik turun, maka kondisimu akan terus dipantau sesuai jadwal. Aku juga akan menjelaskan beberapa hal tentang apa saja yang harus diperhatikan selama kehamilanmu, sebagai salah satu upaya untuk mengindari kemungkinan preeklamsia karena potensi hal itu terjadi masih ada meskipun kecil. Ingat, jangan dijadikan beban, tapi kita tetap harus berusaha."
"Baik Dok. Aku pasti akan mematuhi semua saran Dokter," sahut Dara bersemangat.