
Ratih beralih menatap tajam kepada wanita paruh baya yang sedari tadi bersimpuh di dekat meja panjang yang ada di ruangan tengah. Kakinya melangkah menghampiri dan berdiri dengan angkuhnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Bu Rina, apakah kamu juga tahu tentang hal ini? tentang pernikahan Wira dengan anak pungut itu," cecar Ratih dengan nada mendesak.
Bu Rina mengangguk, "Iya Nyonya."
Ratih memijat pelipisnya dengan mata terpejam. "Bagaimana bisa kamu menyembunyikannya, kenapa tidak segera melaporkan kejadian sepenting ini padaku? Sudah begitu lamanya dirimu mengabdi kepada keluarga besar Aryasatya, tetapi tak kusangka kamu menusukku dari belakang," hardiknya penuh emosi.
"Maaf Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud begitu. Semua ini adalah permintaan tuan muda agar jangan dulu memberi tahu Anda dan tuan besar mengenai pernikahannya," jelas Bu Rina tetap sopan dan penuh hormat.
"Anak itu benar-benar membuatku naik darah. Memangnya di dunia ini tidak ada wanita lain lagi? dulu dia menikahi Almira dan sekarang malah menikahi adik angkatnya yang jelas-jelas hanya anak pungut! Aku tidak percaya ini, kenapa harus dia!" ucapnya dengan kekesalan yang sangat kentara.
"Tapi Nyonya, tuan muda benar-benar bahagia bersama nona Dara, itu yang saya lihat dan rasakan. Nona Dara juga istri yang berbakti, meskipun masih sangat muda dan sibuk dengan tugas kuliahnya, tetapi hampir setiap hari dia menyempatkan diri untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan tentang keharmonisan rumah tangga." Bu Rina mencoba mengemukakan pendapatnya.
Bu Rina sudah bekerja dengan keluarga Aryasatya sejak Wira masih kecil, dia lah yang banyak mendampingi tumbuh kembang Wira dulu karena Ratih selalu disibukkan dengan kegiatan sosialitanya.
Seiring waktu ia mulai memahami tuan mudanya, kapan Wira merasa bahagia ataupun sedih dia bisa ikut merasakannya. Namun, meskipun begitu ia tetap tahu di mana harus menempatkan diri, bahwa sedekat apapun kesehariannya dengan Wira tetap saja posisi mereka adalah pelayan dan majikan.
Bu Rina sudah menerka dan juga sudah siap jika kemungkinan buruk ini terjadi mengingat tabiat nyonya besarnya yang keras kepala, hanya saja dirinya khawatir akan kondisi Dara yang sedang hamil muda dan harus berada dalam pusaran arus perseteruan antara Wira dengan ibunya. ia berdo'a dalam hati semoga tuan dan nyonya mudanya selalu dalam lindungan Tuhan.
Ia berdiri, merapikan pakaiannya dan membungkuk dengan hormat. "Baik Nyonya."
"Sampaikan pada putraku, bahwa aku tidak bisa menerima istrinya menjadi bagian keluarga ini, tidak akan pernah!" perintahnya kepada Bu Rina.
Dengan emosi yang meluap-luap Ratih meremas cincin pernikahan Wira dan Dara kemudian mencampakkannya ke lantai sekuat tenaga.
"Chelia kita pulang sekarang!" Ratih meraih tas tangannya di atas meja dan melangkah keluar dari sana diikuti Michelia yang berjalan dengan wajah kusut dibelakangnya.
Setelah punggung Ratih menghilang keluar dari pintu, Bu Rina segera mencari-cari cincin yang dilemparkan Nyonya besarnya tadi, matanya dengan teliti melihat ke setiap sudut ruangan itu.
Setelah beberapa saat ia bernapas lega ketika berhasil menemukannya, dipungutnya sepasang cincin tersebut dan diletakkannya di atas meja dengan hati-hati. Ia terharu ketika menyaksikan Dara melindungi cincin tersebut dengan sekuat tenaga, dari sana ia bisa melihat bahwa Dara memang mencintai tuannya setulus hati.