
Kelamnya sang malam menggoda merayu, menyatukan jiwa dan raga yang seharian merindu, saling memeluk meneguk manisnya sari madu, dari sarang-sarang cinta yang bersemayam di taman kalbu.
Wanita bernetra indah itu sudah menutupkan kelopak matanya rapat bergelung manja di dada sang suami tercinta, memasrahkan diri dalam dekapan si pemilik jiwa, cendera merengkuhnya berselimut asa, membentuk segaris lengkungan indah dalam lelapnya.
Hari ini Wira luar biasa lelah, seluruh tubuhnya berteriak menagih jatah meminta dipulihkan. Namun, justru tubuh dan pikirannya tak sejalan, badannya ingin beristirahat, tetapi matanya enggan terpejam. Ia didera rasa bimbang luar biasa. Kenyataan tentang orang tua Dara terus bergulir menggerogoti pikirannya. Kalimat-kalimat wanita tua yang ditemuinya tadi siang terus berdengung di telinganya.
Flashback on
“Ayahnya adalah adik laki-lakiku, satu-satunya keluargaku.” Wanita itu menghela napas dalam sebelum memulai cerita panjangnya.
“Dia memutuskan menikah di usia muda tepat saat dirinya diterima bekerja selepas menyelesaikan sekolah keperawatannya. Adikku itu memang hebat dan cerdas. Meskipun mendiang orang tua kami hanya meninggalkan sepetak tanah sempit yang kami jadikan bekal semenjak kepergian mereka, tapi dia sangat gigih untuk bersekolah dan meraih cita-citanya dengan mengejar beasiswa. Dia mengatakan ingin menjadi orang sukses agar bisa mensejahterakan keluarga.” Wanita itu terbatuk, kemudian meraih cangkir besar berwarna kuning di atas meja dan membasahi kerongkongannya dengan air di dalamnya, meletakkannya kembali lalu menyambung ceritanya.
“Gadis itu masih sangat muda, baru saja lulus dari sekolah menengah atas, gadis yang dinikahi adikku. Beberapa bulan kemudian ia mengandung melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya, ketika kehamilannya menginjak usia tujuh bulan bertepatan dengan munculnya wabah penyakit yang tiba-tiba marak saat itu. Adikku yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit ikut terjangkit virus tersebut, dan sebulan kemudian nyawanya ikut terenggut tak bisa tertolong lagi.”
Wanita tua itu menepuk-nepuk dadanya sendiri diiringi buliran bening meluruh dari sudut matanya yang cekung berkeriput dengan guratan kesedihan mendalam. Wira juga ikut merasakan beban berat yang menggelayuti seluruh atmosfer ruangan itu.
"Istrinya sangat terpukul. Dia tak punya tempat yang untuk kembali pulang karena posisi di keluarganya hanyalah anak tiri. Dia masih bertahan di rumah kecil sederhana yang dibeli adikku berbekal uang asuransi yang jumlahnya tak seberapa hingga akhirnya melahirkan. Aku datang berkala ke tempat tinggalnya dan membantu merawatnya juga bayinya sebisaku sambil terus menyemangatinya. Aku ibu rumah tangga biasa yang tak mempunyai keterampilan, hanya tenaga yang kupunya karena untuk makan pun keluargaku kesulitan mengingat suamiku hanyalah seorang kuli bangunan."
Dia menyeka lelehan air mata yang membasahi wajah tuanya. Wira masih setia mendengarkan penuturan wanita paruh baya di hadapannya dengan khidmat tanpa menyela.
"Wanita muda itu mengatakan sudah tak menginginkan bayinya lagi karena hanya menjadi penghalang baginya meraih kebahagiaan. Dia mengatakan cinta barunya hanya menginginkannya tapi tidak dengan anaknya. Aku sempat menahannya, tetapi dia menuntut padaku apakah aku bisa memenuhi segala keinginannya. Dia menyerahkan bayi itu dan menyatakan bahwa akulah yang harus bertanggung jawab mengingat mengalir darah adikku di tubuh mungil itu, walaupun pada akhirnya aku pun tak bisa mempertahankannya di sisiku, suamiku menganggapnya penambah beban sedangkan aku dengan ketiadaanku yang hanya bergantung pada penghasilannya tak berdaya saat itu."
Air matanya berderai semakin deras. "Untuk itu aku menyerahkannya ke panti asuhan dan berdo'a semoga dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik di luar sana. Karena suamiku mengancam akan membuangnya jika aku tak segera mencari solusi untuk menyingkirkannya dari kehidupan kami. Aku adalah Bibi yang buruk, ketidakmampuanku merawat makhluk kecil tak berdaya itu menghantui dan menyiksaku hingga sekarang."
"Lalu, dimanakah ibunya sekarang?" Wira akhirnya bersuara setelah sedari tadi hanya mendengarkan.
"Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar kabarnya, dia seperti hilang di telan bumi. Entah di mana dia sekarang."
Flashback off
*****
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.