You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 54



Dara menyentuh dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang seolah tengah terjadi keributan di dalam rongga rusuknya. Dia kesal sekaligus gugup karena Wira sengaja menggodanya tetapi kemudian pergi berlalu begitu saja mengabaikannya seolah tak terjadi apa-apa.


Akan tetapi, dia juga merasa heran dengan reaksi fisiknya, mengapa seluruh tubuhnya meremang ketika Wira berbisik di telinganya dengan embusan napas panasnya.


Oh tidak! Ada apa denganku....


Dara akhirnya segera masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan mengguyur dirinya yang masih berpakaian lengkap. Dara termenung di bawah percikan air hangat yang membasahi tubuhnya, kemudian bayangan semalam saat bibir Wira menyesap bibirnya yang belum pernah terjamah dengan rakus berlalu lalang di kepala cantiknya, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri dan darahnya berdesir ketika mengingat akan hal itu.


Dara cepat-cepat menepis semua yang berkecamuk di benaknya dan menepuk-nepuk kedua sisi wajahnya sendiri, berharap semua bayangan itu musnah dan berhenti menggodanya.


*****


"Ra, tumben mau langsung pulang. Bukannya hari ini jadwal les baletmu? biasanya kamu yang paling bersemangat," celoteh Anggi sambil membetulkan riasan matanya di depan cermin yang ada di dalam toilet kampus.


"Hhhh... sebenarnya aku juga tak ingin melewatkan les baletku, tapi aku harus buru-buru pulang karena kak Wira sedang sakit. Jadi, kamu ke sanggar sendiri aja ya, atau telepon Freya buat nemenin, tadi selesai kelas dia langsung kabur ke bengkel, paling sekarang lagi pacaran sama motor trailnya," ucap Dara sambil merapikan rambutnya dan mengikatnya kebelakang.


Dara memang hendak langsung pulang setelah kelas kampusnya selesai, dia terus terngiang akan ucapan bu Rina tadi pagi. Terlepas dari apapun alasan pernikahan itu terjadi, Bu Rina mengatakan bagaimapun juga sekarang dia adalah istri Wira, dan sudah kewajiban seorang istri harus merawat suaminya, apalagi kini Wira dalam keadaan tidak sehat.


"Si Freya mana mau nemenin yang nari-nari gemulai, dia itu sukanya knalpot racing. Eh tapi tunggu, jadi dokter sultan sedang sakit? boleh nengokin nggak? kan lumayan bisa sekalian pendekatan, kali aja ada kesempatan," ujar Anggi antusias sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.


Entah kenapa, saat mendengar Anggi berkata ingin lebih dekat dengan Wira, terasa ada gelombang panas yang merebak di dalam relung hatinya, rasanya tidak rela jika ada wanita lain yang lebih dekat dengan Wira selain dirinya. Dara masih belum bisa menelaah rasa apakah itu sebenarnya, meskipun mungkin sahabatnya itu hanya sedang bercanda saat mengucapkannya.


"Tapi bukannya sudah ada kepala pelayan di rumahmu yang bisa melayani semua kebutuhannya. Kamu kan bukan istrinya, kenapa begitu khawatir dan ingin segera pulang? padahal dia hanya mantan kakak iparmu," tanya Anggi penuh selidik.


"Ah anu, itu... itu karena kak Wira sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri, jadi aku mengkhawatirkannya sebagai seorang adik. Lagipula aku harus tahu diri karena sekarang menumpang di rumahnya, masa iya tuan rumahnya sakit aku malah keluyuran," jawabnya mencari alasan.


"Hmm... ya sudah, hati-hati di jalan ya cantik, aku berangkat duluan." Anggi mncangklong tasnya dan berpamitan pada Dara.


"Oke, sampaikan salamku pada rekan-rekan di sanggar ya," ucap Dara.


"Siap... sampaikan juga salam rinduku buat dokter sultan ya," cicitnya. Kemudian berlalu pergi dan melayangkan fly kiss dari kejauhan untuk Dara.


"Sudah sana pergi," usir Dara sambil melambaikan tangannya.


"Kenapa aku merasa kesal dan ingin marah ya? sebenarnya apa penyebabnya? ah gak tau deh, pusing!" gumam Dara sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.