You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 181



Kakinya melangkah menyusul Dara masih dengan wajah cemberut. Wira masuk ke dalam kamar, bersandar di dinding dekat pintu dengan kedua tangan terlipat di dada dan matanya fokus mengawasi istrinya yang sibuk kesana kemari sedang mempersiapkan keperluan menginap tanpa mempedulikannya.


Kaki telanjang Dara melangkah dengan ringan dan riang. Di mata Wira sekarang ini istrinya lebih terlihat mirip seperti bocah sekolah dasar yang hendak bertamasya ke kebun binatang bersama ibunya untuk pertama kalinya.


Setelah beberapa saat Dara baru menyadari jika suaminya sudah berada di kamar tengah memandanginya, ia menghampiri dengan senyuman yang sejak tadi terukir indah di wajah cantiknya.


"Mas kenapa berdiri di situ?" ujarnya.


Setelah diperhatikan Dara baru menyadari bahwa suaminya menekuk wajah tampannya membuatnya menepuk-nepuk dahinya sendiri.


"Ya ampun aku sampai lupa, Mas pasti mau menyiapkan keperluan untuk ke luar kota kan, ayo kubantu," tawarnya.


"Kamu kelihatannya tidak sedih sama sekali, padahal kita akan berpisah selama beberapa hari. Tiga hari lho sayang... tiga hari," protesnya dengan bibir mengerucut dan mata menyipit.


"Heyyy... aku juga sedih karena kita akan berjauhan dan tak bisa saling memeluk satu sama lain, tapi sekarang aku sudah tak sedih lagi karena akan bertemu ibu," sahutnya gembira dengan polosnya.


"Tiba-tiba aku merasa kesepian karena sekarang istriku sudah tak merindukanku lagi." Wira merajuk masih dengan ekspresi yang sama.


Dara memicingkan mata, memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan seksama


"Jangan bilang Mas cemburu sama ibu?" Dara merasa geli sendiri karena Wira merengek ketika perhatiannya kini terbagi padahal dengan ibunya sendiri.


Dara tergelak kencang, tawa renyahnya memenuhi seluruh penjuru kamar. Ia berjinjit kemudian mengecup bibir bibir Wira yang masih cemberut.


"Aku memang menyayangi ibu, tetapi rasa sayangku pada ibu dan Mas itu berbeda. Kepada ibu adalah rasa sayangku sebagai seorang anak, sedangkan padamu adalah rasa sayangku terhadap pria yang kucinta. Semuanya dalam porsi yang utuh, tak terbagi sedikitpun." Dara merangkulkan lengannya bergelayut manja di leher Wira.


Raut mukanya kembali berubah manis dan semburat merah tampak merebak di wajah tampannya. Wira sebetulnya merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya ia cemburu kepada wanita yang telah melahirkannya.


Namun, Wira menjadi seperti itu bukanlah tanpa alasan, karena pernah mengalami kenyataan tak dicintai secara utuh membuatnya ketakutan hal itu akan terulang lagi. Di hatinya masih menyisakan bekas luka meskipun goresan dalam itu kini telah disembuhkan oleh obat mujarab dipelukannya.


Jika ditanya dengan siapa Wira lebih bahagia, bolehkah dirinya egois dan menjawab lebih bahagia bersama Dara dibanding dengan istrinya yang telah berpulang? karena Dara menyerahkan seluruh dirinya secara utuh jiwa dan raga hanya untuknya seorang.


Sedangkan dengan Almira, dulu ketika mereka menikah ternyata sudah tak bersegel lagi dan mungkin itulah penyebab Almira tak mampu melupakan cinta pertamanya. Kendati begitu Wira tak pernah mempermasalahkannya karena rasa cintanya kepada Almira begitu besar. Baginya saat hati telah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka harus menerima segala kelebihan dan kekurangannya.


Hal itulah yang membuatnya terluka teramat dalam ketika mengetahui Almira masih memendam rasa untuk pria masa lalunya. setelah semua ketulusan yang ia curahkan selama kebersamaan mereka, ternyata semua itu tak mampu untuk menjadikannya satu-satunya di hati istrinya. Akan tetapi mengenai fakta itu biarlah menjadi rahasia antara dirinya, Almira serta Tuhan saja yang tahu.


"Ayo, kubantu berkemas. Apa saja yang akan Mas bawa?" bujuk Dara membuyarkan lamunannya.


"Hanya beberapa potong pakaian dan berkas saja. Aku ingin kamu yang menyiapkannya, agar aku merasa bahwa kamu selalu dekat denganku ketika kita terpisah jarak," pintanya manja yang disambut anggukan oleh Dara.