
Sore ini Dara pulang lebih awal dari kampus. Teman-temannya mengadakan kegiatan outdoor sedangkan dia diminta untuk pulang saja oleh dosennya dengan alasan wanita hamil tak diperbolehkan mengikuti kegiatan yang dikhawatirkan membuat lelah. Tentu saja si dosen melakukannya atas perintah langsung dari rektor, kendati kegiatan outdoor kali ini masih dalam tahap ringan, tetapi sesuai pesan dari Wira pihak universitas tak mau gegabah dan tetap membatasi Dara agar tidak ikut terlibat di dalamnya.
Hari sudah beranjak malam, Dara sedang mengamati pantulannya dirinya di depan cermin wastafel. Tubuhnya semakin berisi, membuat pipinya agak chubby dan bertambah menggemaskan. Namun, kemudian dia berdecak kesal saat mendapati penampakan beberapa jerawat di dahinya. Wajahnya yang biasanya mulus kini ditumbuhi jerawat beberapa buah efek dari hormon kehamilannya.
Sudah tiga minggu berlalu semenjak kepulangannya dari liburannya, dan sudah tiga minggu pula Dara tak merasakan sentuhan Wira, bahkan saat liburan di puncak pun mereka tak bercinta sama sekali. Biasanya mereka memadu kasih meluapkan rasa cinta membara hampir setiap malam sebelum ia mengandung, lalu intensitasnya berubah menjadi sekitar tiga kali dalam seminggu setelah dirinya dinyatakan hamil.
Dara menanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuhnya, beranjak berdiri tepat di bawah shower dan menekan keran untuk meloloskan air dari celah-celah beriak di atas kepalanya. Saat sapuan air hangat menerpa permukaan kulitnya entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa berdesir dan bergairah. Si wanita muda itu merindukan sentuhan prianya, sudah hampir satu bulan Wira tak mencumbui dan memesrainya di atas ranjang, membuatnya kini mendamba tak tertahankan.
Akhir-akhir ini mereka hanya berpelukan saja di tempat tidur hingga akhirnya terlelap. Tak jarang Dara jatuh tertidur lebih dulu sementara menunggu Wira membasuh diri. Semakin ke sini suaminya itu jadi mandi lebih lama dan saat waktunya naik ke atas ranjang pun Wira hanya mengecup kening Dara, memeluknya kemudian memejamkan mata tanpa melakukan kegiatan bergelora.
Setelah mandi Dara mematut dirinya di depan cermin ruang ganti. Rayuan hasratnya semakin membumbung tinggi, ditambah hormon kehamilannya membuatnya semakin mendambakan hujan cinta, ingin segera melumuri dirinya dalam indahnya dan nikmatnya surga dunia yang tak dirasakannya belakangan ini.
Dara tak tahu bahwa suaminya juga tersiksa. Wira memendam hasratnya sekuat tenaga saat berdekatan dengan wanita yang dicintainya. Demi si jabang bayi dan juga pujaan hatinya, dia memukul mundur gairahnya dengan paksa dan menempatkan keselamatan dua orang berharganya sebagai prioritas.
"Apakah karena kini aku gendut dan mukaku dihinggapi jerawat sehingga Mas Wira tak tertarik padaku lagi?" keluhnya di depan cermin. Raut wajahnya berubah sedih serta muram saat menilik tubuhnya sendiri.
"Pasti benar karena sekarang aku tampak serupa sekarung beras. Jangan-jangan Mas Wira mencari wanita lain yang lebih cantik dan menarik di luar sana," gumamnya sendiri penuh kecemasan karena Dara tak tahu alasan Wira tak menggaulinya, membuat wanita muda itu menduga-duga dan pikiran-pikiran buruk mulai mencemari otaknya.
Matanya melirik jam di dinding, sudah pukul tujuh tiga puluh malam berarti sebentar lagi Wira akan pulang. Dokter tampan itu jadi lebih sering pulang malam dengan alasan tesisnya mengenai vaksin yang ditelitinya membutuhkan dedikasi serta menyita waktu, meskipun perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan Wira untuknya tak pernah berkurang sedikitpun.
Ia memakai lingerie berwarna putih transparan di bawah lutut dengan aksen renda cantik di bagian pundak. Membubuhkan parfum favorit Wira di beberapa bagian tubuhnya, merapikan rambutnya yang tergerai indah dan memoles wajahnya secantik mungkin.
Terdengar derit pintu kamar yang dibuka dari luar. Dara melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti dengan riang dan menyambut kedatangan Wira.
"Selamat datang Papa...."
Dara menghambur memeluk tubuh tinggi tegap itu dan menyandarkan dirinya dengan manja. "Aku rindu," desahnya sensual menggoda.
Tak dipungkiri Wira terkesiap melihat penampilan Dara yang begitu ranum malam ini, membuatnya ingin mencicipi setiap inci tubuh itu dan mencumbuinya penuh gelora cinta, memuaskan dahaganya yang semakin menyiksa.
Wira membalas pelukan Dara dan berusaha menjernihkan pikirannya yang mulai diliputi gairah. Meskipun Raisa mengatakan masih diperbolehkan bercinta, tetapi Wira lebih memilih untuk memendam hasratnya daripada berakhir dalam kubangan penyesalan.
Dara mendongak dengan bibir merekah yang sedikit terbuka, merayu mengundang sang kumbang untuk menyesap sari manisnya. Naluri Wira membawanya untuk semakin menundukkan wajah dan memagut bibir menggoda itu, tetapi kemudian nalarnya kembali menguasainya dan akhirnya mendaratkan kecupannya di kening Dara.
"Aku juga rindu," sahut Wira lembut. "Aku ingin mandi, jika mengantuk tidurlah lebih dulu, sayang."
Wira melepaskan pelukan Dara dan segera beranjak ke kamar mandi, jika terus menerus bergesekan kulit ia tak menjamin dirinya bisa menahan diri.