You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 65



Dara masuk ke dalam ruangan dan duduk berdampingan di sofa dimana Wira juga tengah duduk di sana, kemudian menaruh paper bag yang dibawanya di atas meja. Dia juga membawa termos kecil berwana silver berisi wedang rempah-rempah yang kaya manfaat untuk kesehatan.


"Ini pakaian ganti yang Kakak minta. Apakah sesibuk itu sampai tidak sempat pulang ke rumah? pekerjaan memang penting, tapi kesehatan lebih utama," ucap Dara sambil menuangkan wedang ke dalam tutup termos yang mempunyai fungsi ganda, bisa digunakan sebagai penutup atau juga sebagai gelas.


"Minumlah selagi hangat, wedang ini kubuat sendiri dengan resep yang diberikan almarhum ayah, sangat berguna untuk menghangatkan tubuh dan juga menjaga kesehatan." Dara menyodorkannya ke hadapan Wira.


Entah kenapa setelah selesai sarapan tadi, Dara ingin membuatkannya untuk Wira. Mungkin ini hanya sekedar rasa pedulinya terhadap seorang Kakak saja, bukan tergerak karena rasa yang istimewa, walaupun sebenarnya dirinya sendiri masih belum mampu menelaah rasa khawatir tak biasa yang semakin hari semakin lekat hinggap di hatinya.


Wira masih terdiam, iris hitam kelamnya menatap Dara dalam-dalam. Ia mencari-cari ke dalam netra cantik tersebut, sebenarnya apa penyebabnya yang membuat Dara seperti obat mujarab baginya? Selalu mampu menentramkannya dari segala gundah yang melanda dirinya.


Dara mengerutkan keningnya keheranan karena Wira menatapnya seolah ingin menyelami dirinya."Kakak kenapa melihatku begitu? apa riasanku belepotan? padahal aku hanya menggunakan lipstik sedikit saja."


Dara menaruh gelas yang tadi disodorkannya ke atas meja, mengambil cermin kecil dari dalam tasnya, lalu melihat tampilan dirinya dan semuanya tampak baik-baik saja.


Wira segera mengalihkan fokusnya dari Dara, mengambil gelas berisi wedang hangat itu dan meminumnya. Aroma rempah-rempah yang kuat dan juga kehangatan dari wedang itu ternyata memang benar membuatnya merasa lebih segar, ia menghabiskan isi gelasnya hingga tandas tak bersisa.


"Terima kasih, tapi kenapa kamu yang mengantarkannya? di mana pak Jono," tanya Wira.


"Aku sendiri yang ingin mengantarkannya kemari, sekalian ingin meminta izin. Akhir pekan nanti akan ada acara outbound dari kampus, rencananya kami akan pergi ke daerah Ciwidey dan menginap dua malam di sana. Karena akhir-akhir ini aku kesulitan bertemu Kakak di rumah, jadi aku datang kemari," tutur Dara.


Bagaimanapun juga, sudah seharusnya dia meminta izin dahulu kepada Wira, Dara masih menghormatinya sebagaimana seorang adik pada kakaknya, ditambah lagi sekarang Wira adalah suaminya. Meskipun akhir-akhir ini Wira seperti berusaha menjaga jarak karena alasan pekerjaan, tetapi Dara tak ingin mempermasalahkannya dan memilih fokus pada studinya.


"Apa kegiatan ini diwajibkan untuk semua mahasiswa?" Wira kembali bertanya.


"Tentu saja, semua mahasiswa di wajibkan untuk ikut serta, outbound ini merupakan kegiatan tambahan untuk menambah penilaian akhir semester, jadi aku harus ikut," sahut Dara menekankan setiap kata-katanya setengah memaksa.


"Baiklah, tapi ingat untuk selalu berhati-hati." Wira memberikan izinnya walaupun ada rasa yang mengganjal di hatinya. Rasa tak rela jika kemungkinan di sana ada laki-laki lain yang mendekati Dara. Namun, ia terus menyangkalnya dan menganggap itu hanya rasa yang sementara.


"Terima kasih Kak, kalau begitu aku pamit. Jaga kesehatan, tidak baik terlalu banyak begadang, kusarankan sebaiknya jangan bercermin dulu karena saat ini mata Kakak sudah terlihat seperti panda," ejeknya pada Wira kemudian segera berlari kecil keluar sana dengan tawa riang.


Senyuman tipis tersungging di wajah lelahnya, candaan Dara menghangatkan sudut hatinya yang kedinginan. Wira kembali mengalihkan perhatiannya pada kotak berisi sampel darah, tetapi, rasa tak nyaman setiap kali melihat benda cair itu tidak kembali. Mungkinkah itu efek dari kedatangan Dara barusan? sehingga kehadirannya mampu mengusir semua trauma itu pergi?


*****


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dan jangan lupa juga like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis, ayo vote sebanyak-banyaknya ya readers.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412. Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.


With Love,


Senjahari_ID24