You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 162



Sementara itu di ruang makan, Ratih mulai bergerak mengulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu ia meraih amplop besar dan foto USG hitam putih yang tergeletak di atas meja


Diperhatikannya foto tersebut, ada rasa membuncah yang menyeruak memenuhi sanubarinya. Bagaimanapun juga seorang cucu darah daging putranya adalah sesuatu yang sudah lama dinantikannya, hanya saja karena ego menutupi mata hatinya ia tak bisa berpikir jernih dan lebih mengedepankan gengsi.


Kemudian Ratih mulai membuka amplop berwarna coklat tersebut, mengeluarkan isinya dan melihatnya satu persatu. Ketika membaca perihal berlian palsu dirinya seketika terkesiap.


Bagaimana tidak, kemarin sore Ratih baru saja membeli satu set berlian yang dijual Michelia dengan harga fantastis. Ia berusaha menenangkan dirinya dan pikiranya masih mencoba menyangkal tentang bukti yang terpampang di hadapannya meskipun hatinya bertolak belakang dengan argumen di kepalanya.


Ratih bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya untuk mengambil berlian yang dibelinya dari Michelia. Dengan tangan yang gemetar dibukanya kotak tersebut, diperhatikannya perhiasan tersebut dengan seksama dan membandingkannya dengan berlian yang dimilikinya sejak dulu.


Sekilas semuanya terlihat sama, demi memuaskan rasa penasarannya Ratih memutuskan untuk pergi ke toko berlian terpercaya yang sudah sejak dulu menjadi langganannya.


"Bu, pagi-pagi begini mau ke mana? Ayah ingin berbicara hal penting." Haris yang hendak kembali ke ruang makan menghentikan langkahnya ketika melihat istrinya tergesa-gesa menuruni tangga dengan menenteng tas mahalnya.


"Ada hal yang lebih penting. Sekarang Ibu harus pergi ke suatu tempat." Ratih tak mempedulikan perkatan Haris dan berlalu ke garasi seperti orang yang hendak mengejar maling.


Pria paruh baya itu hanya menghela napasnya berat dan mengirim pesan kepada sopir untuk melaporkan kepadanya kemana istrinya itu pergi, karena kemanapun Ratih pergi pasti selalu ditemani sopir yang membawakan kendaraannya.


*****


"Semoga operasinya lancar Mas." Layar ponsel Wira menampakkan wajah cantik Dara yang tengah melakukan video call dengannya.


"Terima kasih sayang, sekitar dua puluh menitan lagi operasi akan dimulai," sahut Wira sembari mengulas senyum tampannya.


"Begini pun sudah cukup untuk memberiku kekuatan. Tetaplah di rumah sayang, itu membuatku merasa lebih tenang. Sampai jumpa di rumah. I love you." Wira mengecup layar ponselnya.


"Love you too hubby."


*****


Ratih duduk dengan cemas dan gusar di ruangan tunggu VIP di toko perhiasan mewah tersebut. Ia tengah menunggu hasil pemeriksaan keaslian dari berlian yang dibelinya dari Michelia untuk menghapus keraguannya.


Dalam hatinya ia masih berharap semoga Michelia tidak menipu kepercayaannya, karena Ratih menaruh harapan tinggi pada wanita itu yang dianggapnya paling cocok untuk menyandang status Nyonya Wira Aryasatya.


Setiap detik berlalu seperti seribu tahun lamanya. Karena berangkat terlalu pagi, Ratih tiba di tempat tujuan sebelum jam toko beroperasi, bahkan dia rela menunggu hingga toko tersebut buka demi menuntaskan kerisauannya yang mulai menggerogoti batinnya.


"Nyonya, hasilnya sudah keluar." Seorang pria pelayan toko tersebut membawa kembali sekotak berlian yang dibawanya beserta hasil testnya.


"Bagaimana... bagaimana hasilnya, berlian ini asli kan? sudah kuduga ini pasti asli tidak mungkin Chelia berbuat rendah semacam itu," ucapnya gusar.


Si pelayan toko tertegun sejenak merasa kebingungan untuk menyampaikannya. "Silakan dibaca dulu hasilnya Nyonya." Pria itu memberikan selembar kertas kepada Ratih.


"Dari hasil pengujian kami, berlian yang Anda bawa. Semuanya... semuanya palsu Nyonya, maaf."