You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 104



"Mas," panggil Dara lirih.


Masih berdiri di ambang pintu, Wira memindai kondisi Dara yang tampak menyedihkan, membuat hatinya terasa perih dan jantungnya seolah diremas dengan kuat oleh tangan tak kasat mata saat menyaksikannya.


Wira melangkah semakin mendekati posisi mereka sekarang dan berhenti tepat di hadapan Dara serta ibunya.


"Ibu, tolong lepaskan Dara," pinta Wira. Ia masih berkata dengan hormat dan berusaha mengontrol emosinya karena bagaimanapun juga Ratih adalah ibunya.


"Berani-beraninya kamu memanggil putraku dengan sebutan Mas. Memangnya kamu siapa hah? Wira, untuk apa kamu membela jal*ng ini, Ibu hanya sedang berusaha menyingkirkan pengaruh buruk di sekitarmu termasuk anak pungut ini!" serunya lantang.


"Lepaskan Bu, aku minta lepaskan Dara!" teriak Wira disusul geraman karena menahan emosi, dia sungguh tidak tega melihat Dara yang dicengkeram pergelangan tangannya serta rambutnya yang di jambak tanpa ampun. Istrinya tampak kesakitan, bukan hanya fisik tapi pasti psikisnya juga ikut terguncang diperlakukan semena-mena semacam itu.


Akhirnya Ratih melepaskan cekalannya dan menghempaskan Dara hingga hampir tersungkur ke lantai, beruntung dengan cepat lengan Wira meraih tubuh istri kecilnya dan merangkulnya ke dalam pelukannya.


Dara yang ketakutan membenamkan wajahnya di Dada Wira dengan punggung yang berguncang dan menumpahkan tangisnya di sana. Wira mengusap-usap punggung Dara penuh sayang untuk menenangkan. Ratih merasa tidak terima karena putranya malah membela Dara, ia berkacak pinggang dan menatap Wira dengan tajam.


"Wira, apa kamu tahu apa yang telah diperbuat gadis itu? buka matamu lebar-lebar agar kamu bisa melihat rupa aslinya!" Ratih menunjuk-nunjuk Dara disertai emosi yang meluap-luap.


"Sebenarnya ada apa dengan keributan ini?" tanya Wira dengan ekspresi wajah mengeras.


"Lihat ini? ini adalah cincin berlian edisi terbatas dengan harga selangit, dia mengaku jika ini miliknya." Ratih menunjukkan cincin berlian bermata ungu itu kepada Wira.


"Apa maksud Ibu?" Nada bicara Wira mulai meninggi, meskipun Ratih adalah ibunya tetapi ia tidak terima jika Dara dikatai tak bermoral.


"Bacalah ini, dia hamil," sela Michelia. Wanita itu menyodorkan selembar kertas hasil test kehamilan milik Dara kepada Wira dengan angkuhnya sambil menipiskan bibirnya mengejek ke arah Dara.


Wira merebut kertas tersebut dengan kasar dari tangan Michelia dan membacanya dengan teliti. Ekspresi wajahnya yang asalnya mengeras seketika melembut setelah ia selesai membaca semua uraian yang tertera di sana. Dielusnya puncak kepala Dara dan Wira melonggarkan pelukannya tetapi tak sepenuhnya.


"Apakah ini benar?" tanyanya dengan binar mata bahagia penuh cinta.


Dara mengangguk masih dengan sesenggukan. "I-iya Mas," sahutnya terbata.


Wira menangkup kedua sisi wajah istrinya dan mendongakkannya perlahan, dikecupnya kening Dara dengan mata terpejam kemudian direngkuhnya ke dalam pelukannya dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya.


"Terima kasih, terima kasih sayang," ucapnya sarat akan rasa bahagia bercampur haru yang memenuhi relung hatinya.


Ratih mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi antara putranya dengan Dara. Ia sangat tidak suka melihat pemandangan ini dan bermaksud mencekal kembali lengan Dara, tetapi dengan cepat Wira langsung menahan tangan ibunya.


"Hentikan Bu! Dara adalah istriku."