You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 46



"Dokter, minggu depan ada jadwal operasi jantung yang harus anda pimpin, ini rekam medis pasiennya." Fatih menyerahkan map berkas berwarna biru kepada Wira.


Wira menerima berkas itu dan memeriksa rekam medis pasiennya. "Oke, tolong kamu pastikan kepada semua timku untuk bersiap pada waktunya. Sekarang beristirahatlah, sejak tadi kulihat kamu belum makan siang."


"Eh, i-iya Dokter, terima kasih. Kalau begitu saya pamit untuk makan siang." Fatih membungkuk memberi hormat dan segera undur diri dari sana.


*****


Si pemuda calon dokter itu mengaduk-aduk soto ayam favoritnya dengan sendok dan garpu tanpa memakannya. Tatapan matanya penuh kegalauan dengan pikiran menerawang.


Sejak kemarin, Fatih terus-menerus disuguhkan dengan hal-hal yang berkaitan tentang keintiman antara pria dan wanita. Saat tadi bercakap-cakap dengan Wira, dia berusaha bersikap setenang mungkin, padahal sudut matanya menangkap bekas cakaran yang terlihat di leher dan tengkuk atasannya itu. Pikiran-pikiran liar kembali merajalela, dirinya benar-benar disiksa oleh imajinasinya sendiri, padahal kenyataan yang sebenarnya sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya.


"Kenapa gak dimakan? gak enak ya?" tanya salah satu teman Fatih. Dia juga mahasiswa koas yang ditugaskan di rumah sakit itu, kemudian ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Fatih sambil menunggu pesanan makan siangnya datang.


"Sepertinya aku harus segera menikah," ucap Fatih setengah bergumam dalam lamunannya.


"Uhuk!" Temannya itu tersedak dan menyemburkan air putih yang sedang diminumnya. Beruntung dia menyembur ke arah samping, kalau tidak, sudah pasti Fatih yang tepat berada dihadapannya akan basah kuyup akibat semburan itu.


"Hah? menikah? emang kamu punya pacar? atau, kamu buntingin anak orang?" cecar temannya itu.


"Enggak," sahut Fatih menggelengkan kepalanya.


"Terus, mau nikah sama siapa?" Temannya kembali bertanya keheranan, karena setahunya, saat ini Fatih tidak mempunyai hubungan spesial dengan wanita manapun.


"Pokoknya aku harus menikah! Harus." Fatih mengepalkan tangannya penuh semangat, kemudian beranjak pergi tanpa menyantap makan siangnya dan meninggalkan temannya yang melongo sendirian di sana.


Si ibu penjual minuman di kantin, menghampiri temannya itu dan mulai bergosip.


"Kemarin, dek Fatih membeli minuman pelancar datang bulan, ibu jadi khawatir, sepertinya dia jadi begitu akibat efek meminum jamu yang harusnya diminum perempuan," ucap si ibu antusias.


"Apa!" Temannya setengah berteriak karena kaget mendengar Fatih yang membeli jamu semacam itu.


*****


Sudah satu minggu berlalu, kini kaki Dara telah sembuh walaupun masih harus berhati-hati. Hari ini dia sudah mulai kembali ke kampus, dan sekarang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus diantar pak Jono.


Wira masuk ke dalam kamar, menghampiri Dara yang sedang merapikan buku-buku dan laptopnya ke dalam tas.


"Ini, ambilah." Wira menaruh amplop panjang berwarna coklat ke hadapan Dara.


"Apa ini?" Dara menerimanya dan membuka amplop tersebut. Matanya membelalak, isinya adalah sebuah kartu platinum tanpa batas pemakaian.


"Gunakan itu untuk semua keperluanmu, kartu ini memang tanpa limit, tetapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya memakainya tanpa tanggung jawab," tutur Wira dengan tangan terlipat di dada.


"Beneran ini buat aku Kak? atau jangan-jangan semua ini gak gratis?" tanyanya dengan mata memicing mencela kepada Wira.


"Karena sekarang kamu adalah istriku, secara otomatis semua kebutuhanmu adalah kewajibanku untuk memenuhinya. Akan tetapi, walaupun status kita menikah, bukan berarti seperti hubungan pasangan menikah pada umumnya. Semua ini hanya dalam konteks sebagai rasa tanggung jawabku terhadap adik iparku sendiri, jadi jangan salah paham!" Wira segera berlalu pergi dari sana setelah menyelesaikan kalimatnya.