You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 288



Keeseokan harinya, Dara datang lagi ke rumah sakit. Di sana sudah ada pelayan yang biasa menjaga ibunya, sedangkan bibinya berpamitan untuk pulang dulu ke kotanya menyiapkan keperluan untuk suaminya yang juga sakit dan berjanji akan datang kembali beberapa hari ke depan.


“Bu, aku datang.” Dara menarik kursi dan duduk di samping ranjang.


Aruna membuka mata ketika mendengar suara anaknya. Senyuman mengembang di wajah lemahnya, tetapi hari ini wajahnya sedikit mempunyai rona tak sepucat hari kemarin.


“Dara.” Aruna mengulurkan tangan membelai pipi Dara. “Rasanya masih tak percaya, bersyukur pada Tuhan karena masih memberiku kesempatan untuk bertemu Anakku, putriku yang mempunyai hati luar biasa, yang bahkan datang lagi menjenguk ibu buruk sepertiku,” ucapnya menyendu, rasa sesal selalu tampak berkerumun dari sorot matanya.


“Jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang fokuslah untuk sembuh, fokus pulihkan kesehatan Ibu,” sahut Dara tulus.


“Ceritakan tentang dirimu, Nak. Bibimu mengatakan kamu sudah menikah?” tanya Aruna yang kemudian mengenggam tangan Dara.


“Ya, aku sudah menikah, dan juga sudah menjadi seorang Ibu.” Dara menjawab dengan binar bahagia yang kentara, setiap kali membahas tentang suami dan anaknya, hatinya selalu terasa serupa taman yang dipenuhi bunga-bungaan indah dengan jutaan kupu-kupu beterbangan ke sana kemari.


“Jadi, aku sudah punya cucu.” Aruna tersenyum lebar penuh suka cita. “Oh iya, di mana suamimu?"


“Cucu ibu perempuan, namanya Selena, dia lucu dan cantik. Wajahnya sangat mirip suamiku, hanya rambutnya saja yang mirip denganku.” Dara mengerucutkan bibirnya kemudian mengulum senyum. “Suamiku bekerja di sini, dia seorang dokter. Dia pria luar biasa yang selalu setia di sisiku seperti apapun diriku. Dokter Wira Aryasatya.”


“Dokter Wira? Ibu sering mendengarnya karena sudah lumayan lama dirawat di sini, dia salah satu dokter yang paling banyak dibicarakan karena kehebatannya.” Aruna menatap bangga kepada putrinya, juga begitu bersyukur saat melihat air muka Dara ketika bercerita selalu penuh sukacita, sudah pasti anaknya bahagia dengan pernikahannya.


“Mungkin sulit untuk membawa Selena kemari, karena dilarang membawa bayi ke ruang perawatan khusus. Tapi kalau ibu mau, kita bisa melakukan video call sekarang, Selena ada di rumah bersama pengasuh.”


“Ya, video call pun tak apa. Ibu ingin melihatnya,” jawabnya antusias.


Dara mengambil ponselnya dari dalam tas, melakukan panggilan video call kepada Bu Rina dan meminta untuk menghadapkan kamera pada Selena. Bayi menggemaskan itu sedang bermain di ruang bermainnya bersama pengasuh, Bu Rina menggendong Selena dan menghadapkan layar ponsel ke depan bayi itu.


Selena begitu senang melihat wajah sang mama di layar, dia berguma-gumam berceloteh bahasa bayi dan menepuk-nepuk layar. Dara membungkuk mendekatkan wajahnya di samping Aruna dan memposisikan ponsel di depan mereka.


“Jadi ini cucu Ibu? cantik sekali.” Aruna mengusap layar dengan tangannya yang gemetar. “Halo Selena… ini Nenek, sayang,” ucapnya penuh haru, matanya mulai berkaca-kaca.


Cukup lama mereka melakukan video call, hingga kemudian petugas yang mengantarkan makan siang untuk pasien memasuki ruangan. Dara menyudahi panggilannya, mengambil nampan berisi makanan ke atas ranjang, mengatur tempat tidur agar posisi ibunya lebih tegak.


“Ayo makan dulu Bu. Walaupun tak bernafsu, tapi Ibu harus tetap makan, supaya lekas pulih.” Dara mengambil sesendok bubur ke depan mulut Ibunya.


Aruna sangat tahu kondisinya, kembali sembuh seperti sedia kala serupa angan-angan baginya. Menelan makanan semakin sulit dari hari ke hari, lambungnya seolah menolak sehingga menciptakan mual yang hebat. Namun, kini secercah harapan bertumbuh di kalbunya, berharap Tuhan masih memberinya waktu lebih lama lagi untuk bisa menikmati kebersamaan dengan anaknya yang dulu di sia-siakannya.


“Ibu akan makan banyak, karena kamu yang menyuapi.”