You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 221



Freya menangis dalam diam menahan isakannya sekuat tenaga. Terlihat lemah bukanlah gayanya karena seolah melukai harga dirinya, tetapi di depan Fatih entah kenapa muncul suatu rasa bahwa dirinya juga terkadang rapuh dan butuh sandaran.


Fatih mengusap-usap punggung Freya. Untuk beberapa saat mereka masih dalam posisi seperti itu. Tiba-tiba si tomboi itu mendorong tubuh yang mendekapnya, menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan memukul pundak Fatih.


Bugh....


"Melindungi apanya? kamu dibonceng dibawa ngebut aja nangis!" celetuk Freya.


"Mungkin kalau dibawa ngebut aku memang tak sanggup. Tapi aku yakin bisa melindungimu, juga kalau kamu terluka aku bisa merawat dan mengobatimu" sergah Fatih sungguh-sungguh.


Freya tergelak tertawa renyah melihat raut wajah Fatih yang berusaha berekspresi serius. "Mmm... tapi untuk hari ini memang pengecualian, terima kasih kawan." Freya mengulas senyum manisnya dan itu malah membuat Fatih salah tingkah.


"S-sama-sama Frey, j-jangan sungkan." Fatih tergagap karena terkesima diberi senyum semanis madu dari gadis yang ditaksirnya.


"Berhubung kamu sudah menolongku, bisakah kamu menolongku dengan hal lainnya juga? karena kalau nolongnya tulus itu gak boleh setengah-setengah, harus sampai tuntas."


"Tentu saja aku tulus, emang kamu mau minta tolong apa? pasti kupenuhi deh," jawab Fatih penuh tekad.


"Oke, akan kulakukan sesuai permintaanmu."


*****


Wira dan Dara sudah pulang dari liburannya. Dokter tampan itu kembali beraktivitas seperti biasanya dan Dara masih tetap berangkat ke kampus.


Ketika Wira berdinas kembali setelah liburannya, ia juga berpapasan dengan Freya di rumah sakit ketika si tomboi itu telah diperbolehkan pulang. Mereka sempat berbincang sebentar tentang musibah yang menimpa Freya. Namun, Wira meminta agar Freya tak menceritakan dulu kepada Dara perihal kejadian mengejutkan tersebut, dan juga memberi tahu bahwa kondisi Dara saat ini tengah dalam pengawasan serta pemantauan ketat mengenai kehamilannya.


Wira memang tak bercerita panjang lebar, tetapi tetap mewanti-wanti agar jangan sampai mengagetkan Dara karena takut istrinya itu terkejut sehingga menyebabkan suasana hatinya memburuk dan itu adalah yang paling harus dihindari saat ini demi kondisi ibu serta bayinya.


Tanpa sepengetahuan Dara, Wira juga menghubungi pihak universitas. Meminta agar Dara tidak diikutkan jika ada kegiatan belajar yang melibatkan tenaga fisik dan menguras stamina. Ia mengultimatum supaya permintaannya benar-benar diperhatikan agar tidak terjadi hal-hal yang telah tak diinginkan. Tentu saja pihak universitas menanggapi dengan serius dan menyanggupinya, bagaimanapun juga mereka tak mau mengambil resiko ditambah keluarga Aryasatya sangat disegani dan mempunyai pengaruh besar dilingkungan kalangan atas sekalipun.


Sebetulnya akhir-akhir ini Wira tengah membujuk Dara agar mengambil cuti kuliah. Walaupun semua yang dijelaskan Raisa baru perkiraan saja, tetapi ia ingin melakukan antisipasi agar hal-hal yang menghantuinya tidak menjadi Nyata.


Akan tetapi dia juga tak bisa begitu saja memaksakan kehendaknya meskipun rasa cemas luar biasa tengah menggerogotinya, karena jika terlalu ngotot maka takut Dara malah bertanya lebih lanjut tentang alasannya. Wira tengah memberitahu Dara secara perlahan mengenai kondisinya seperti yang disarankan Raisa, agar nantinya tidak terlalu shock jika kemungkinan buruk tentang kehamilannya disampaikan secara gamblang saat waktunya tiba.