You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 51



Dara mengeringkan tubuh Wira dengan handuk dan membantu memakaikan baju bersih. Ia hanya menyeka tubuh bagian atasnya saja, karena Wira maupun dirinya merasa tidak nyaman satu sama lain jika harus lebih dari itu.


Dara juga mengobati tangannya yang terluka, karena sejak dari rumah sakit pria itu membiarkan lukanya tanpa diobati. Gadis itu sebenarnya ingin tahu penyebab telapak tangan Wira bisa sampai begitu, tetapi sekarang ini bukan saatnya untuk bertanya mengenai hal itu.


Wira kembali duduk bersandar di atas ranjang, Dara mengambil mangkuk berisi bubur dan menyendok satu suapan penuh lalu menyodorkannya tepat di depan mulut Wira. "Ayok Kak, makan dulu buburnya, setelah itu barulah minum obatnya."


"Aku tidak lapar," jawab Wira.


"Bukankah mbak Mira pernah bilang pada Kakak untuk menjagaku? lalu bagaimana Kakak bisa menjagaku kalau keadaan diri sendiri sakit seperti ini. Jadi sekarang jangan membantah lagi, ayo cepat makan!" ucapnya galak padahal sebenarnya tujuannya untuk membujuk.


Secara refleks Wira membuka mulutnya, Dara yang melihatnya tidak melewatkan kesempatan tersebut dan langsung menyuapkan sesendok penuh bubur hangat itu.


Gadis itu menyuapinya dengan telaten, walaupun setiap kali sendok itu menyentuh bibir Wira mengingatkannya pada ciuman tadi, sehingga membuat jantungnya terasa seperti menari-nari tak karuan.


Wira hanya mampu memakan setengah mangkuk bubur tersebut dan menolak untuk menghabiskannya meskipun Dara terus-menerus mencoba membujuknya. Dara memilih mengalah dan menuruti keinginan Wira, lagipula saat ini ia sedang tidak ingin berkonfrontasi dengan orang sakit.


Wira meminum obatnya, setelah itu kembali berbaring dan Dara menyelimutinya dengan selimut tipis yang nyaman. Karena Wira sedang demam maka selimut tipis lebih baik dari selimut tebal agar demamnya tidak semakin memburuk.


"Beristirahatlah Kak, dan cepatlah sembuh."


Dara mematikan lampu, mengganti penerangan kamar dengan lampu tidur yang cahayanya lebih temaram dan lembut, kemudian mengambil bantal serta selimut dan membawanya ke sofa. Ia membaringkan diri di sana dan tak lama berselang gadis itu sudah jatuh ke dalam tidur pulasnya.


*****


Dara menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya, kemudian beranjak menghampiri Wira. Ia duduk di tepian ranjang dan melihat Wira yang tidur dengan gelisah seperti sedang menangis di dalam mimpinya.


Gadis cantik berkulit pucat itu menempelkan telapak tangannya di kening Wira dan ternyata demamnya masih belum turun. Dara pergi ke kamar mandi dan mengambil handuk bersih berukuran kecil beserta air hangat dalam wadah, lalu segera kembali menghampiri Wira dan mengompres dahinya.


Dua puluh lima menit berlalu, setelah dikompres berkali-kali demamnya mulai turun sedikit demi sedikit. Dara yang sejak tadi masih duduk duduk di tepian ranjang, bergerak mengusap-usap kening Wira dan tangan yang satunya lagi menepuk-nepuk sisi dada pria itu dengan lembut.


Belaian lembut tangan halus Dara menarik Wira dari mimpi buruknya, netranya perlahan mengerjap lalu mata mereka bertemu pandang satu sama lain.


Pandangan Wira masih berkabut diliputi oleh mimpi buruknya yang menyakitkan, karena tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang menghimpit kalbunya, sudut matanya mengalirkan setitik air bening membasahi sisi wajah tampannya. Wira secara impulsif memperlihatkan sisi lemahnya padahal di dalam otaknya terus menyerukan bahwa dia sama sekali tak ingin terlihat seperti itu hadapan Dara.


Dara terkesiap melihat Wira yang tiba-tiba membuka mata dan menangis, dihapusnya air mata itu dengan jemari lentiknya dan menatap Wira penuh rasa iba.


"Kenapa Kakak menangis hmm? apakah mimpinya sangat buruk?" tanyanya lembut sambil mengulas senyum.


"Bisakah temani aku tidur, mimpi burukku menghantuiku sehingga aku tak mampu tidur dengan benar," pintanya dengan suara lemah.


"Ada aku di sini, tidurlah kembali," ucapnya penuh pemakluman.


Dara kembali mengusap lembut kening dan rambut Wira. Entah pria itu sadar atau tidak dengan ucapannya, tetapi Dara memakluminya, mungkin itu efek dari demamnya sehingga Wira berbicara tidak seperti biasanya.


Akhirnya beberapa saat kemudian matanya kembali terpejam, dengkuran halus bahkan terdengar menandakan Wira terlelap dengan tenang dalam tidurnya. Dara yang terkantuk-kantuk dengan mata yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi, ikut jatuh tertidur ke sisi dada Wira setengah memeluknya dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah.